KOMPAS.com - Nahdlatul Ulama (NU) melalui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah mendorong transformasi besar dalam pola kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan organisasi.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa NU kini sedang membangun sistem meritokrasi untuk mencetak pemimpin muda yang memiliki kapasitas profesional dan mampu menjawab tantangan zaman.
Menurut Gus Yahya, selama ini proses regenerasi di tubuh NU belum dirancang secara sistematis.
Kepemimpinan organisasi lebih banyak ditentukan oleh kekuatan personal, leverage keulamaan, maupun pengaruh politik.
Oleh karena itu, PBNU kini berupaya membangun sistem kaderisasi yang lebih terstruktur melalui pelatihan kader berjenjang yang paralel dengan struktur organisasi.
“PBNU khususnya saat ini sedang mengonsolidasikan suatu strategi untuk mendorong tumbuhnya pemimpin dari generasi baru melalui sistem pelatihan kader terstruktur dengan hirarki yang paralel dengan struktur organisasi,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Krapyak, Rahim Intelektual NU: Dari Gus Dur hingga Gus Yahya
Ia menjelaskan, langkah tersebut dilakukan agar mobilisasi kader menuju kepemimpinan NU memiliki jalur yang lebih jelas dibanding sebelumnya.
Dengan sistem meritokrasi, kader yang memiliki kapasitas dan kualitas dapat terakomodasi secara lebih baik dalam struktur organisasi.
“Kita berharap bahwa dengan cara ini nanti akan ada saluran yang lebih jelas untuk mobilisasi para kader-kader NU ini pada tangga kepemimpinan NU. Karena sebelumnya ini tidak terjadi. Sebelumnya regenerasi itu bukan isu yang menjadi perhatian,” katanya.
Menurut Gus Yahya, NU ke depan membutuhkan model kepemimpinan yang lebih beragam dan profesional.
Organisasi tidak lagi cukup dipimpin hanya dengan basis pengaruh keagamaan dan politik, tetapi juga membutuhkan kapasitas manajerial, teknologi, hingga pemahaman terhadap dinamika global.
“Ke depan kan kita butuh kepemimpinan NU dengan kapasitas profesional dalam bidang-bidang yang lebih beragam. Ini yang sekarang kita upayakan,” lanjutnya.
Transformasi tersebut juga tidak lepas dari perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat.
Gus Yahya menilai organisasi sebesar NU tidak mungkin lagi dikelola secara manual. Karena itu, PBNU mulai mengembangkan sistem digital untuk mendukung tata kelola organisasi.
“Kalau kita lihat ukuran dari NU itu sendiri yang skalanya begitu besar sampai kurang lebih separuh dari Indonesia, saya bisa langsung sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin ini dikelola secara manual. Harus ada cara yang lebih efektif untuk bisa melakukan pengelolaan yang mampu mengcover keseluruhan stakeholder dari NU ini,” jelasnya.
Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026
Ia juga mengatakan, digitalisasi organisasi menjadi kebutuhan mendesak agar NU mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus tetap relevan bagi generasi muda.
“Itulah sebabnya kami mengembangkan sistem digital untuk manajemen organisasi dan tentu saja yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang cukup punya pemahaman tentang soal ini,” ungkap Gus Yahya.
Lebih jauh, ia menilai tantangan kepemimpinan NU saat ini tidak hanya berada dalam lingkup domestik, tetapi juga internasional.
Menurutnya, NU kini menjadi perhatian banyak pihak di dunia sehingga organisasi harus memiliki pemimpin yang memahami konstelasi global.
“Kita sekarang juga memasuki satu era ketika NU tidak bisa lagi mengasingkan diri dari dinamika masyarakat yang luas, bukan hanya dalam skala nasional tapi juga secara internasional. Kita tidak bisa lari karena sekarang semua orang mencari, memburu NU untuk dilibatkan di dalam berbagai macam agenda yang dibuat oleh berbagai pihak,” tuturnya.
Karena itu, PBNU ingin menghadirkan pemimpin yang tidak hanya memahami persoalan internal organisasi, tetapi juga mampu membaca perkembangan masyarakat secara luas.
“Kita juga membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kapasitas untuk memahami keseluruhan dinamika, konstelasi, dan problematika masyarakat secara luas, baik domestik, nasional maupun secara internasional,” katanya.
Dalam proses kaderisasi, Gus Yahya mengakui bahwa NU belum sepenuhnya mampu membangun kapasitas kader secara mandiri.
Selama ini, pembentukan kualitas kader banyak bertumpu pada pesantren, perguruan tinggi, dan berbagai ruang pengembangan di luar organisasi.
“NU belum punya kemampuan untuk membangun kapasitas itu sendiri. Maka sebetulnya NU bertaruh pada berbagai macam ruang di luar NU sendiri yang menyediakan media untuk mengembangkan kapasitas itu,” ujarnya.
Baca juga: PBNU Gelar PD-PKPNU di Bina Insan Mulia, Siapkan Santri Jadi Penggerak NU di 16 Negara
Meski demikian, PBNU berupaya membangun fondasi meritokrasi agar konsolidasi organisasi berjalan lebih teratur. Salah satu caranya melalui sistem pelatihan kader berjenjang.
“Pelatihan kader ini hanya memberikan landasan hirarki kader karena konsolidasi organisasi itu tidak mungkin dilakukan tanpa basis meritokrasi. Kalau tidak ada meritokrasi maka yang terjadi adalah konstruksi yang tidak beraturan, semua orang bisa lompat dari mana saja langsung ke puncak,” kata Gus Yahya.
Selain membangun sistem kaderisasi, PBNU juga mendorong pemberian beasiswa dan membuka ruang pengalaman internasional bagi kader muda NU.
Langkah tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin baru yang memiliki tanggung jawab terhadap organisasi sekaligus kapasitas yang kuat.
Gus Yahya mengaku optimistis terhadap kualitas generasi muda NU saat ini. Ia bahkan menyebut capaian generasi milenial dan Gen Z di lingkungan pesantren maupun bidang profesional lain mengalami peningkatan dibanding generasi sebelumnya.
“Saya bertemu dengan cukup banyak kader-kader muda yang luar biasa dengan kapasitas yang jauh melebihi generasi-generasi sebelumnya. Saya berharap bahwa mereka nanti akan menemukan saluran untuk bisa menempuh mobilisasi vertikal dalam kepemimpinan,” ucapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar NU saat ini adalah bagaimana membuat organisasi tetap relevan bagi generasi muda agar mereka terdorong untuk bergabung dan berkhidmah melalui NU.
“Nah, tantangan kita ini adalah bagaimana menjadikan NU lebih relevan untuk mereka sehingga mereka kemudian juga terdorong untuk bergabung, berpartisipasi, dan kemudian tumbuh semangatnya untuk melakukan khidmah pelayanan kepada umat, kepada masyarakat, kepada bangsa melalui Nahdlatul Ulama,” pungkas Gus Yahya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang