KOMPAS.com - Di tengah tradisi penyambutan jemaah haji yang baru pulang dari Tanah Suci, terdapat satu keyakinan yang cukup populer di kalangan masyarakat Muslim Indonesia.
Banyak yang percaya bahwa orang yang baru pulang haji akan diikuti malaikat hingga tiba di rumahnya.
Tidak sedikit pula yang kemudian bergegas bersalaman, meminta doa, hingga mengundang jemaah haji ke berbagai acara syukuran karena meyakini mereka membawa keberkahan khusus setelah menunaikan rukun Islam kelima.
Namun, benarkah malaikat benar-benar mengikuti jemaah haji hingga ke rumah? Apakah keyakinan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam atau sekadar tradisi yang berkembang di tengah masyarakat?
Ternyata, pembahasan mengenai hal itu memang dapat ditemukan dalam sejumlah literatur Islam klasik yang mengulas tentang adab safar atau perjalanan.
Baca juga: Niat dan Tata Cara Salat Sunah Qudum, Amalan Penting Setelah Pulang Haji
Keyakinan mengenai malaikat yang mengikuti orang pulang haji tidak muncul tanpa dasar. Pembahasan tersebut berkaitan dengan hadits tentang safar atau perjalanan yang dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah SWT.
Perjalanan yang dimaksud tidak hanya haji dan umrah, tetapi juga menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, maupun perjalanan-perjalanan lain yang bernilai ibadah.
Dalam buku Kewajiban dan Adab Musafir karya A. Aziz Salim Basyarahil, dikutip sebuah riwayat dari Abu Hurairah RA yang menjelaskan bahwa setiap orang yang keluar rumah akan diiringi dua panji, satu di tangan malaikat dan satu lagi di tangan setan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak seorang keluar meninggalkan rumahnya kecuali di pintu rumahnya ada dua panji. Sebuah di tangan malaikat dan sebuahnya lagi di tangan setan. Kalau tujuannya kepada apa yang diridhai Allah Azza Wa Jalla, maka dia diikuti malaikat dengan panjinya sampai dia pulang ke rumahnya. Apabila tujuannya kepada apa yang dimurkai Allah, maka setan dengan panjinya mengikutinya sampai dia pulang ke rumahnya." (HR Ahmad dan At-Thabarani)
Berdasarkan kandungan hadits tersebut, para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan perjalanan untuk tujuan yang baik dan diridhai Allah mendapatkan pendampingan serta perlindungan malaikat selama perjalanan berlangsung.
Karena ibadah haji merupakan salah satu bentuk perjalanan paling mulia dalam Islam, sebagian ulama mengaitkan keutamaan tersebut dengan para jemaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci.
Meski demikian, sejumlah ahli hadits juga menekankan pentingnya meneliti kualitas sanad dan derajat hadits tersebut sebelum menjadikannya sebagai landasan hukum yang pasti.
Baca juga: Pelepasan Perdana Jemaah Haji Indonesia, Menhaj Doakan Haji Mabrur
Dalam sejarah Islam, penghormatan kepada orang yang baru selesai berhaji sudah berlangsung sejak masa generasi salaf.
Bukan karena status sosial atau gelar yang diperoleh, melainkan karena mereka baru saja menyelesaikan salah satu ibadah terbesar yang mengandung pengorbanan harta, tenaga, waktu, dan kesabaran.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Hajj yang diterjemahkan Mujiburrahman menjelaskan bahwa para ulama terdahulu memiliki kebiasaan menyambut para jemaah haji dengan penuh penghormatan.
Mereka mendatangi para haji yang baru tiba, menjabat tangan mereka, bahkan meminta doa sebelum orang tersebut kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurut Al-Ghazali, hal itu didasarkan pada keyakinan bahwa para haji baru saja memperoleh ampunan dari Allah SWT setelah menyelesaikan ibadahnya.
Anjuran meminta doa kepada orang yang baru pulang haji juga memiliki landasan dalam sejumlah riwayat.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila engkau berjumpa dengan orang yang baru pulang haji, maka ucapkan salam kepadanya, jabat tangannya, dan mintalah dia memohonkan ampunan untukmu sebelum dia memasuki rumahnya karena dia adalah orang yang diampuni." (HR Ahmad)
Hadits tersebut menjadi dasar mengapa masyarakat Muslim di berbagai negara memiliki tradisi meminta doa kepada jemaah yang baru tiba dari Makkah.
Para ulama menjelaskan bahwa doa mereka memiliki nilai keutamaan karena baru saja menyelesaikan ibadah yang sangat agung.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Prof. Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa haji mabrur merupakan salah satu ibadah yang balasannya langsung dijanjikan surga oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, orang yang berhasil menunaikan haji dengan baik memiliki kedudukan spiritual yang sangat mulia.
Baca juga: 35 Ucapan Doa untuk Orang Pulang Haji 2026, Penuh Makna Menyentuh Hati
Selain keyakinan tentang malaikat yang mengiringi perjalanan, masyarakat juga mengenal anggapan bahwa doa orang yang baru pulang haji mustajab selama 40 hari.
Pendapat tersebut dapat ditemukan dalam penjelasan ulama mazhab Syafi'i, Syekh Sulaiman Al-Bujairami, dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairami 'Ala Al-Khatib.
Beliau menjelaskan bahwa dianjurkan bagi seorang haji untuk mendoakan orang lain, dan dianjurkan pula bagi kaum Muslim meminta doa kepada orang yang baru selesai berhaji.
Menurut penjelasan tersebut, anjuran meminta doa itu berlaku hingga 40 hari sejak kepulangannya.
Artinya, masa-masa awal setelah seseorang kembali dari Tanah Suci dipandang sebagai waktu yang penuh keberkahan dan sangat baik untuk memperbanyak doa serta memohon ampunan kepada Allah SWT.
Sebagian ulama bahkan menyebut keutamaan tersebut dapat berlangsung hingga beberapa bulan setelah musim haji berakhir.
Terlepas dari pembahasan mengenai malaikat yang mengiringi perjalanan, para ulama menegaskan bahwa fokus utama setelah haji bukanlah mencari keistimewaan-keistimewaan yang bersifat simbolik. Hal yang jauh lebih penting adalah menjaga kemabruran haji itu sendiri.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tanda haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku seseorang setelah kembali dari Tanah Suci.
Ia menjadi lebih taat, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih rajin beribadah, dan semakin peduli terhadap sesama.
Karena itulah, ukuran keberhasilan haji bukan terletak pada seberapa meriah penyambutan yang diterima atau seberapa banyak orang meminta doa kepadanya.
Ukuran yang paling utama adalah apakah perjalanan spiritual tersebut mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Dengan demikian, keyakinan bahwa malaikat mengikuti jemaah haji sepulang dari Tanah Suci memiliki dasar dalam riwayat mengenai safar yang diridhai Allah.
Namun para ulama mengingatkan bahwa esensi terbesar dari kepulangan haji bukanlah pada kisah malaikat yang mengiringi perjalanan, melainkan pada ampunan, keberkahan, serta kemampuan seorang hamba menjaga kemabruran hajinya setelah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang