JEDDAH, KOMPAS.com - Dahulu ada kisah Uwais, anak berbakti yang menggendong sang ibu dari Yaman menuju ke Mekkah untuk berhaji.
Di masa pehajian 2026 ini, ada pemandangan sejumlah anak yang berusaha membaktikan diri pada orang tuanya di Tanah Haram.
Salah satunya adalah Gushendra (36) asal Kabupaten Langkat.
Saat ditemui di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, Gushendra mengungkap rasa syukur karena mendapatkan kesempatan membantu ibunya beribadah.
"Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk berbakti sama ibu," katanya, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Kisah Haru Penjual Sepatu yang Dapat Gelar Haji Mabrur Tanpa ke Makkah
Gushendra berangkat ke Tanah Suci menggantikan sang ayah yang telah lebih dulu berpulang.
Sedangkan sang ibu Sriana (74) telah lanjut usia dan mengalami keterbatasan gerak sehingga harus menggunakan kursi roda.
Jauh sebelum proses ibadah haji berlangsung, Gushendra rutin melatih fisiknya demi membantu mendorong kursi roda sang ibu.
Apalagi dia menyadari bahwa haji merupakan ibadah fisik.
Dia enggan menggunakan jasa pendorong lantaran ingin membaktikan diri sebagai seorang anak.
"Sebelum berangkat haji, saya persiapan jalan minimal dua atau tiga kilometer sehari," katanya.
Dengan pertolongan Allah, Gushendra yang tergabung dalam kloter 2 embarkasi KNO bisa menyertai ibunya dalam setiap tahapan ibadah.
"Saya bisa membersamai ibu pada saat umrah wajib, umrah sunah, tawaf ifadah, sai dan tawaf wada. Saya mendorongkan kursi roda ibu," ungkap dia.
Gushendra berharap apa yang dilakukan mendapatkan ridha dari ibunda.
Keridhaan itu yang diharapkannya membukakan pintu-pintu surga
"Doa kami supaya menjadi haji mabrur, istikamah dan mendapat kemudahan dalam beribadah," kata dia.
Siti memeluk ibundanya saat haji 2026.Mata Siti Mahmudah berkaca-kaca menuturkan perjuangannya berhaji sambil merawat ibunya yang sudah lanjut usia di Tanah Suci.
Sang ibu Nurminal (71) duduk di kursi roda lantaran mengalami keterbatasan gerak.
"Alhamdulillah bisa membersamai Mamak satu bulan lebih. Ini cara saya berbakti di Tanah Haram, bawa mamak beribadah," katanya sambil meneteskan air mata.
Menurutnya, tantangan terberatnya adalah pada saat fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
Siti dengan penuh kesabaran merawat ibunya.
Mulai dari memandikan sampai menemaninya ke toilet.
"Alhamdulillah mamak masih sabar walaupun antreannya panjang (pada saat-saat tertentu)," ujar dia.
Baca juga: Kisah Bakti Rina, Kembali Berhaji untuk Badal Haji Sang Ibu yang Telah Wafat
Baginya, ibu adalah sosok yang tak ternilai dan sangat penting dalam kehidupan Siti.
Keharuannya pun menyeruak saat keduanya bersiap kembali pulang ke Tanah Air setelah menuntaskan ibadah haji.
"Mamak segalanya, mamak is the best buat saya," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang