BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, manusia kerap dihantui penyesalan atas masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan.
Ada yang gelisah karena kehilangan, kecewa karena harapan tak terwujud, atau takut menghadapi sesuatu yang belum terjadi.
Dalam kondisi seperti itu, Islam menghadirkan satu fondasi yang menenteramkan hati yaitu iman kepada takdir Allah.
Mengimani takdir merupakan salah satu rukun iman yang mengajarkan bahwa seluruh peristiwa dalam kehidupan manusia telah berada dalam ilmu dan ketetapan Allah Ta'ala.
Baca juga: Takdir Bisa Berubah? Ini Peran Doa Tolak Bala yang Jarang Disadari
Keyakinan tersebut bukan untuk melemahkan usaha, melainkan menjadi sumber ketenangan bahwa tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan dan hikmah-Nya, sehingga tidak ada ruang bagi penyesalan berlebihan terhadap masa lalu maupun kecemasan terhadap masa depan.
Di antara wasiat Rasulullah SAW yang paling agung dalam meneguhkan akidah ini adalah wasiat beliau kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata:
Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
"Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu. Dan ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan. Dan ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering." [HR. At-Tirmidzi dan beliau menyatakan hadits ini hasan shahih]
Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin menjelaskan bahwa pemahaman terhadap takdir akan melahirkan ketenangan batin dan sikap hidup yang lebih bijaksana.
Makna "ما أصابك لم يكن ليخطئك" adalah segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang berupa kebaikan, nikmat, kesehatan, rezeki, musibah, atau ujian yang telah ditetapkan Allah, pasti akan menimpanya dan tidak akan berpindah kepada orang lain.
"Apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar, dan apa yang bukan bagian kita tidak akan bisa dipaksa. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga hak-hak Allah, berikhtiar dengan sebab yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ridha dan tawakal," kata Ustadz Ahsanul Falihin.
Makna "وما أخطأك لم يكن ليصيبك", diurainya memiliki arti, Segala sesuatu yang luput darinya berupa kebaikan yang diinginkannya atau keburukan yang dikhawatirkannya, maka sesungguhnya hal itu tidak pernah ditetapkan untuknya. Sekuat apa pun usaha dan sebab yang dikerahkan, ia tidak akan mampu meraihnya.
Ketiga, Sabda beliau: "رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ": Para ulama menjelaskan bahwa pena pencatat takdir telah diangkat dan lembaran catatan amal serta takdir telah mengering. Artinya, ketetapan Allah telah final dan tidak dapat diubah oleh siapa pun.
Keimanan kepada takdir juga tidak berarti menafikan ikhtiar. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berusaha, bekerja, berobat ketika sakit, belajar, dan mengambil berbagai sebab yang dibenarkan syariat. Namun, ia menyadari bahwa sebab tidak akan membuahkan hasil tanpa izin Allah.
"Keyakinan inilah yang melahirkan sikap ridha ketika kehilangan, tidak larut dalam penyesalan dengan ucapan "seandainya", serta tidak mudah putus asa saat menghadapi ujian," urainya.
Sebab, Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa iman kepada takdir berarti meyakini bahwa segala yang terjadi, baik maupun buruk, telah tercatat di Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.
Ridha dan ketenteraman jiwa yaitu menghilangkan penyesalan terhadap apa yang telah luput dengan ucapan "seandainya", karena semua telah sesuai ketetapan Allah yang Maha Bijaksana.
Kemudian tawakal dan kemandirian, yang mana tidak bergantung berlebihan kepada manusia dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, karena seluruh makhluk tidak kuasa memberi atau mengambil sesuatu di luar ketetapan Allah.
Terkait kesabaran dan optimisme, menjadi penegasan "kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesulitan" menanamkan sikap tegar menghadapi ujian dan optimis bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.
Terpenting, mengutamakan Allah dalam meminta, di mana “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah” mengajarkan tauhid uluhiyyah, yaitu memurnikan doa dan harapan hanya kepada Allah Ta’ala.
"Mengimani takdir tidak berarti menafikan ikhtiar. Takdir bukan alasan untuk berkata: "Buat apa usaha, kan sudah ditakdirkan?!" Justru dengan mengimani takdir akan tumbuh sikap ridha, tawakkal, dan sabar," tuturnya.
Allah berfirman:
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰانَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ٥١
Katakanlah: “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. —[QS At-Taubah: 51]
Baca juga: Menjelang Pengumuman SNBP, Amalkan Doa Ini agar Hati Tenang dan Siap Menerima Takdir
Kesimpulannya, wasiat Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas tersebut merupakan rangkuman akidah yang menyejukkan hati. Ia mengajarkan bahwa takdir Allah adalah kebaikan semua.
Apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar, dan apa yang bukan bagian kita tidak akan bisa dipaksa. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga hak-hak Allah, berikhtiar dengan sebab yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ridha dan tawakal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang