Editor
KOMPAS.com – Arab Saudi membuka babak baru dalam pengembangan wisata alam dan konservasi dengan menghadirkan berbagai destinasi pengamatan satwa liar, safari alam, hingga lokasi khusus untuk mengamati keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah Kerajaan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Arab Saudi memperkenalkan kekayaan alamnya kepada masyarakat dan wisatawan, sekaligus memperkuat program pelestarian lingkungan yang sejalan dengan Visi 2030.
Kepala National Center for Wildlife, Mohammad Qurban, mengatakan Arab Saudi memiliki kekayaan alam yang luar biasa dengan ribuan spesies flora dan fauna yang tersebar di berbagai ekosistem.
“Kerajaan diberkahi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, mulai dari pesisir, pulau, pegunungan, lembah hingga gurun, yang mencakup lebih dari 65 ekosistem dan lebih dari 12.000 spesies makhluk hidup,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (10/6/2026).
Menurut Qurban, salah satu indikator keberhasilan program konservasi adalah pelepasliaran satwa liar ke habitat alaminya.
Selama beberapa tahun terakhir, Arab Saudi telah melepas lebih dari 10.000 satwa liar ke berbagai kawasan alami yang telah dipersiapkan sebagai habitat konservasi.
“Selama periode ini, kami telah melepas lebih dari 10.000 satwa liar ke habitat alaminya,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga terus memperluas kawasan lindung di darat maupun laut sebagai bagian dari target nasional untuk melindungi 30 persen wilayah daratan dan perairan pada tahun 2030.
Dalam fase baru pengembangan wisata alam ini, pengunjung dapat menikmati pengalaman safari, pengamatan satwa liar, hingga birdwatching atau pengamatan burung di sejumlah kawasan konservasi.
Salah satu lokasi yang disiapkan adalah Farasan Islands Reserve yang dikenal sebagai kawasan penting bagi berbagai spesies burung.
Wisatawan juga dapat mengunjungi Imam Saud bin Abdulaziz Royal Reserve untuk melihat langsung satwa khas Arab Saudi seperti Arabian Oryx di habitat alaminya.
Qurban menjelaskan bahwa seluruh destinasi wisata alam tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman berkualitas tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan, pemerintah menerapkan berbagai aturan ketat terkait jumlah pengunjung dan aktivitas wisata di kawasan konservasi.
Menurut Qurban, setiap kawasan memiliki kapasitas kunjungan yang telah ditentukan dan tidak boleh dilampaui.
“Kami tidak melampaui jumlah yang diperbolehkan. Setiap kawasan memiliki kapasitas tersendiri, lokasi khusus, dan syarat yang harus dipatuhi,” ujarnya.
Pihak pengelola juga bekerja sama dengan otoritas pariwisata untuk memastikan pengembangan sektor wisata berjalan beriringan dengan upaya konservasi.
Selain menghadirkan pengalaman melihat satwa liar, berbagai kawasan konservasi juga dilengkapi fasilitas penunjang seperti pusat informasi pengunjung, jalur edukasi lingkungan, area observasi, serta sarana pendukung lainnya.
Seluruh fasilitas tersebut dibangun dengan prinsip keberlanjutan dan pariwisata bertanggung jawab.
Qurban menegaskan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tetap menjadi prioritas utama dalam setiap program pengembangan wisata alam.
Baca juga: Ditemukan! Jejak Umar bin Khattab dan Ribuan Artefak di Jalur Haji Kuno
“Terumbu karang, cagar alam, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup harus dilindungi agar tetap menjadi sumber keindahan bagi kawasan ini dan bagi para wisatawan yang ingin berkunjung,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-profit, Arab Saudi berharap dapat memperluas destinasi wisata berbasis satwa liar sekaligus memberdayakan masyarakat lokal dan mendukung target besar Visi 2030.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang