MADINAH, KOMPAS.com - Kota Madinah menyimpan berbagai situs peninggalan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Islam di masa lampau.
Salah satu warisan berharga yang memiliki ikatan spiritual secara langsung dengan kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad adalah Sumur Ghars.
Sumur Ghars berdiri sebagai salah satu ikon bersejarah yang sangat penting dan berakar kuat pada kehidupan Nabi Muhammad di Madinah.
Situs kuno ini terletak di lembah Bat'haan, distrik al-Awali, sekitar empat kilometer di sebelah selatan Masjid Nabawi.
Jarak sumur ini juga hanya sekitar 1.200 meter di sebelah timur Masjid al-Jummah dan satu setengah kilometer di utara Masjid Quba.
Baca juga: Arab Saudi Bekukan 21 Perusahaan Umrah, Kementerian Haji Temukan Pelanggaran dan Kinerja Buruk
Saat ini, lokasinya berada di bawah pengawasan ketat otoritas warisan budaya untuk menjaga keaslian bentuknya sekaligus terus menyediakan air bagi para peziarah.
Dikutip dari situs Madain Project, secara bahasa kata "Ghars" atau "Gharas" memiliki makna menanam sebuah pohon atau tanaman muda di dekat lokasi tersebut.
Terdapat dua tradisi pengucapan di kalangan penduduk asli Madinah, yakni dengan harakat fathah pada huruf ghain maupun dengan harakat dammah.
Menurut sumber sejarah, sumur ini pada awalnya digali oleh Malik bin al-Nahhat, yang merupakan kakek dari Sa'ad bin Khaythamah.
Sa'ad sendiri adalah tokoh penting yang memiliki sumur tersebut sekaligus menjamu Nabi Muhammad selama perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Sumur Ghars di Madinah, sumber air kesukaan Rasulullah SAW.Menurut peneliti sejarah Madinah, Fouad Al-Maghmasi, Sumur Ghars adalah salah satu sumber air yang paling disukai oleh Nabi Muhammad karena kesegarannya.
Sahabat Bilal bin Rabah diketahui sering ditugaskan untuk membawakan air dari sumur ini secara khusus untuk beliau.
Begitu dekatnya nilai sumur ini bagi Rasulullah, beliau bahkan menyebut situs ini sebagai bagian dari miliknya sendiri dan menyamakannya dengan sumur-sumur di surga.
Menurut seorang pembimbing ibadah bernama Ibrohim Fadlannul Haq, keutamaan ini didasarkan pada riwayat mimpi suci Nabi yang menandakan bahwa Madinah memiliki keberkahan fisik dari surga.
Nabi Muhammad secara khusus memberikan wasiat kepada Ali bin Abi Thalib.
"Ya Ali, idza mittu faghsiluni bimiyahi min bi'ri, bi'ru Ghars. Wahai Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku. Sumur apa itu? Yaitu sumur Ghars," ujar Ibrohim Fadlannul Haq saat menirukan pesan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib.
Pada pertengahan abad ketiga belas, sejarawan Ibnu Najjar mencatat bahwa sumur ini sempat rusak akibat terjangan banjir dan terbengkalai di area yang sepi.
Airnya pada saat itu sempat menggenang dan berubah warna menjadi hijau, meskipun secara mengejutkan rasanya tetap baik untuk diminum.
Sekitar tahun 1470 Masehi pada masa Samhudi, situs ini dibeli oleh seorang tokoh berpengaruh dan direstorasi kembali menjadi sebuah taman dan masjid kecil.
Sebuah tangga juga dibangun di sekelilingnya untuk memudahkan akses pengambilan air saat musim surut, dan struktur tangga ini kemungkinan masih bertahan hingga sekarang.
Penjelajah modern pertama yang menyebutkan sumur ini adalah Richard Burton ketika ia melakukan perjalanan ke Hijaz pada tahun 1850-an.
Ia mendeskripsikannya sebagai sumur besar dengan air melimpah, yang membuktikan bahwa fasilitas ini masih terus digunakan setidaknya hingga pertengahan abad kesembilan belas.
Dinding penahan luar dari sumur ini terbuat dari kombinasi batu basal, batu ukir, dan batu alam tanpa pahatan yang disatukan menggunakan mortar. Sebelum renovasi terbaru, dinding pelapis bagian dalam sumur ini diketahui dibangun menggunakan batuan vulkanik dan batu bata panggang di bagian atasnya.
Kompleks Sumur Ghars direnovasi secara menyeluruh dan diubah menjadi kompleks wisata modern pada tahun 2023.
Area yang kini dikelola oleh Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Saudi tersebut mencakup dinding penutup luar, sebuah masjid kecil di sisi utara, dan fasilitas sabil.
Hari ini, Sumur Ghars berfungsi sebagai situs budaya yang sangat vital bagi para jemaah haji maupun umrah.
Baca juga: Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia
Keberadaannya menawarkan hubungan fisik yang nyata dengan sejarah kenabian sekaligus menegaskan komitmen pemerintah Arab Saudi dalam melestarikan warisan peradaban Islam.
Meskipun memiliki nilai sejarah yang luar biasa, Ibrohim meluruskan bahwa secara syariat sebenarnya tidak ada anjuran khusus atau keafdalan spesifik untuk mengunjungi Sumur Ghars.
Berdasarkan tuntunan fikih, anjuran ziarah di Madinah hanya berlaku untuk empat tempat utama yang disebut masjidani wa maqbarotan, yakni Masjid Nabawi, Masjid Quba, Makam Baqi, dan Makam Syuhada Uhud.
Kendati demikian, kunjungan jemaah tetap mengalir deras didorong oleh rasa cinta yang mendalam dengan niat yusta'nasu biha atau sebagai sarana edukasi sejarah.
Dengan berkunjung, para jemaah berharap bisa merasakan kedekatan spiritual saat meminum atau berwudhu dari air yang dahulunya pernah digunakan oleh manusia paling mulia tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang