THAIF, KOMPAS.com - Kota Thaif menyimpan jejak sejarah yang mendalam dalam dakwah Islam di masa Rasulullah SAW. Lembaran penuh air mata dan darah terukir dalam kisah perjalanan Rasulullah SAW di kota ini.
Namun kini Thaif telah dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata pegunungan di pesisir barat Arab Saudi. Kawasan ini menawarkan perpaduan iklim sejuk dan pesona alam yang memikat.
Dikutip dari situs Vision 2030, Thaif berada di ketinggian sekitar 1.478 meter di atas permukaan laut, menawarkan suasana sejuk di tengah hangatnya Jazirah Arab. Pemandangan alamnya memukau dan memiliki spot menarik untuk menikmati matahari terbenam.
Salah satu cara menikmati keindahan lanskap pegunungan ini adalah dengan menaiki wahana kereta gantung (cable car). Dengan biaya 55 SAR, wisatawan bisa menikmati pemandangan dari atas dengan durasi perjalanan bolak-balik selama 30 menit.
Baca juga: Produksi Mawar Thaif Melonjak, Didukung Cuaca dan Kondisi Alam Ideal
Thaif juga sangat lekat dengan ekonomi pedesaan yang digerakkan oleh lebih dari 910 perkebunan mawar. Di sana, wisatawan ditawarkan pengalaman interaktif seperti memanen mawar, melihat langsung proses penyulingan minyak mawar, hingga berbelanja parfum lokal.
Wisatawan dapat mengunjungi Pusat Budaya Souq Okaz yang juga pasar bersejarah sejak abad ke-6 Masehi yang mengantarkan kota ini dinobatkan sebagai UNESCO Creative City of Literature pada tahun 2023.
Jauh sebelum menjadi kota wisata yang tertata, Thaif di masa lalu adalah kota besar ketiga setelah Makkah dan Yatsrib. Karena kesuburannya, orang-orang kaya dan pemuka Quraisy membangun istana-istana di Thaif sebagai tempat berlibur di musim panas.
Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah: Menelusuri Jejak Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad oleh Abdul Hasan 'Ali Al-Hasani An-Nadwi, kekayaan yang melimpah mengakibatkan kerusakan moral. Masyarakatnya akrab dengan riba, zina, dan khamr. Kesombongan karena harta ini terekam dalam Firman Allah SWT:
"Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Dan mereka berkata, "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab." (QS. Saba [34]: 34-35)
Masyarakat Thaif dipimpin oleh Bani Tsaqif, salah satu suku terbesar yang memiliki persaingan spiritual dan sosial-politik dengan kaum Quraisy. Jika Makkah memiliki patung Hubal, Thaif memuja patung Lâta.
Di Thaif juga bermukim tokoh-tokoh terpandang, salah satunya Umayah bin ash-Shalti. Ia adalah seorang penyair yang sejatinya mengetahui kitab-kitab terdahulu dan mengarang syair ketauhidan, namun menolak kenabian Muhammad SAW karena iri. Tentang dirinya, Nabi bersabda:
"Syairnya beriman, sedangkan hatinya mengingkari (kufur)."
Setibanya di Thaif, Rasulullah menemui para pemuka Bani Tsaqif untuk mengajak mereka beriman kepada Allah. Nahas, niat baik beliau dibalas dengan penolakan yang sangat keras. Penduduk Thaif justru menghasut orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencela serta meneriaki beliau.
Mereka berbaris di jalan untuk mengadang Rasulullah dan Zaid bin Haritsah, lalu melempari keduanya dengan batu tanpa henti hingga kaki mereka berdarah. Ujian di Thaif ini dirasakan jauh lebih berat dibandingkan apa yang beliau terima dari kaum musyrik di Makkah.
Dalam keadaan terluka dan sangat menderita, Rasulullah menjauh dan berlindung di sebuah kebun kurma. Di bawah bayangan pohon tersebut, dengan hati yang remuk redam, beliau memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk mengadukan kelemahan diri dan memohon pertolongan-Nya:
"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya diriku, terbatasnya usahaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pemberi kasih sayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkanku? Apakah kepada orang jauh yang menyiksaku? Ataukah kepada musuh yang telah Engkau beri kekuasaan untuk mengalahkan diriku? Jika tidak ada kemurkaan-Mu, maka aku tidak akan peduli, hanya saja kesejahteraan-Mu lebih luas untukku."
"Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu yang menerangi kegelapan, yang diperbaiki dengannya urusan dunia dan akhirat, agar kiranya Engkau tidak menimpakan kemurkaan-Mu kepadaku, atau menempatkan kemurkaan-Mu kepadaku. Hanya milikmu segala keridhaan, hingga Engkau-pun meridhaiku. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Mu."
Merespons penderitaan utusan-Nya, Allah SWT mengutus malaikat penjaga gunung yang kemudian meminta izin kepada Rasulullah untuk membalikkan gunung dan menimpakannya kepada penduduk Thaif. Namun, dengan penuh rahmat dan kasih sayang, Rasulullah justru menolaknya dan berkata:
"Aku bahkan berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah Yang Maha Esa, dan tidak menyekutukan-Nya."
Baca juga: 4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif
Peristiwa pilu ini ternyata disaksikan oleh 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, yang merasa iba lalu menyuruh budak mereka, 'Addas, untuk memberikan nampan berisi anggur kepada Nabi. Melalui interaksi singkat dan kemuliaan akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah, 'Addas akhirnya memeluk agama Islam.
Meski perjalanan ke Thaif diwarnai luka fisik dan penolakan keras, Rasulullah kembali ke Makkah dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan, siap menghadapi tantangan kaum Quraisy yang terus menentang dan memusuhinya.
Doa Rasulullah terkabul dalam beberapa tahun kemudian. Pada tahun ke-9 Hijriah, delegasi Bani Tsaqif datang secara sukarela menemu Rasulullah SAW di Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Keimanan yang dahulu ditolak dengan hujan batu itu, justru berbalik menjadi keteguhan dalam Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang