Editor
KOMPAS.com - Ribuan warga kembali memadati Kota Suci Qom, Iran, pada Selasa (7/7/2026) dalam rangkaian hari keempat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian penghormatan terakhir sebelum Khamenei dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis.
Prosesi pemakaman juga berlangsung di tengah perhatian dunia menyusul wafatnya Ali Khamenei pada akhir Februari dalam perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Baca juga: Ketua MPR Ahmad Muzani dan Menlu Sugiono Dijadwalkan Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Dilansir dari Arab News, Jenazah Khamenei, yang tewas pada akhir Februari di hari pertama perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, disemayamkan di Masjid Jamkaran di Qom.
Kota suci tersebut merupakan pusat berbagai seminari dan makam paling berpengaruh dalam tradisi Syiah.
Rekaman udara yang disiarkan televisi pemerintah memperlihatkan jalan-jalan di Qom, kota yang berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa, dipenuhi para pelayat.
Salat jenazah digelar di dalam Masjid Jamkaran dan dipimpin oleh Abdollah Javadi-Amoli, seorang ayatollah berusia 93 tahun yang dikenal sebagai tokoh Syiah konservatif berpengaruh di Republik Islam Iran.
Massa yang memenuhi area salat serempak meneriakkan kecaman terhadap Amerika, slogan yang kerap terdengar dalam berbagai acara resmi di Iran.
Rekaman televisi lainnya memperlihatkan para pelayat, termasuk ulama yang mengenakan sorban, memberikan penghormatan terakhir di hadapan peti jenazah Khamenei serta empat anggota keluarganya yang turut tewas bersamanya, termasuk seorang cucu perempuan yang dilaporkan baru berusia 14 bulan.
Setelah itu, iring-iringan jenazah bergerak menggunakan sebuah truk yang membawa peti-peti jenazah menuju mausoleum Fatima Masumeh, saudara perempuan Imam Reza, Imam Syiah kedelapan yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.
Sehari sebelumnya, prosesi pemakaman berskala besar di Teheran dihadiri lautan pelayat.
Pemerintah Iran berupaya menampilkan citra persatuan dan kekuatan setelah perang serta enam bulan sejak gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang menelan banyak korban.
Warga Iran memadati jalan-jalan ibu kota dalam sebuah prosesi yang disebut sebanding dengan pemakaman pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, pada 1989.
Namun, hingga kini belum terlihat kehadiran putra sekaligus penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang belum muncul di hadapan publik sejak ditunjuk pada awal Maret.
Pejabat Iran menyatakan Mojtaba mengalami luka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya.
Hingga kini belum diketahui apakah ia akan menghadiri rangkaian prosesi pemakaman tersebut.
Prosesi pemakaman lainnya dijadwalkan berlangsung pada Rabu di negara tetangga, Irak, yang memiliki komunitas Syiah dalam jumlah besar.
Pemakaman terakhir Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade hingga wafat pada usia 86 tahun, akan dilaksanakan pada Kamis di kota kelahirannya, Mashhad, sebuah kota suci di timur laut Iran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang