Editor
KOMPAS.com - Tawakal menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam yang sering dipahami sebagai sikap berserah diri kepada Allah.
Namun, tawakal bukan berarti pasrah tanpa melakukan ikhtiar. Islam mengajarkan bahwa setiap Muslim tetap diwajibkan berusaha sesuai kemampuan sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Lantas, apa makna dari tawakal dan bagaimana penjelasan sikap yang mencerminkannya?
Baca juga: QS Al-Insyirah 7–8: Tentang Ikhtiar dan Tawakal kepada Allah
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, tawakal merupakan perpaduan antara ikhtiar yang sungguh-sungguh dan keyakinan penuh terhadap ketentuan Allah.
Dengan demikian, tawakal menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sekaligus memperkuat keimanan seorang Muslim.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan hal tersebut dalam, Tanya Jawab Agama IV, cetakan II (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003), halaman 29–30, di mana tawakal memiliki dua dimensi utama yang saling melengkapi.
Dimensi pertama adalah tawakal dalam konteks usaha dan sebab. Artinya, setiap Muslim harus melakukan ikhtiar yang diperlukan dalam kehidupannya sambil meyakini bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT.
Dalam mencari rezeki, misalnya, seseorang tetap diwajibkan bekerja keras melalui cara-cara yang halal.
Usaha tersebut merupakan bagian dari bentuk ketaatan kepada Allah, bukan sekadar mengejar hasil duniawi.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
"Berbuatlah semaumu dan akan dimudahkan terhadap yang telah diciptakan." (HR. Ath-Thabarani dari Ibnu Abbas).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk berusaha secara maksimal sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Dimensi kedua dari tawakal adalah menyerahkan segala hasil kepada Allah setelah seluruh ikhtiar dilakukan.
Dalam perkara yang berada di luar kemampuan manusia, seorang Muslim diperintahkan untuk mempercayakan sepenuhnya keputusan akhir kepada Allah SWT.
Manusia tidak memiliki kendali mutlak atas hasil yang diperoleh. Karena itu, setelah menjalankan usaha dengan cara yang benar, sikap terbaik adalah menerima ketentuan Allah dengan penuh keyakinan.
Prinsip tersebut ditegaskan dalam Al-Qur'an, di antaranya Surah Al-Ahzab ayat 48:
"Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung."
Selain itu, pesan tentang pentingnya tawakal juga terdapat dalam Surah Al-Maidah ayat 23 dan Surah Ali Imran ayat 159.
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan bentuk keimanan setelah seseorang menyelesaikan seluruh ikhtiarnya.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyimpulkan bahwa tawakal adalah sikap berserah diri kepada Allah yang selalu disertai usaha dan doa.
Tawakal bukan hanya konsep spiritual, tetapi juga pedoman praktis dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan menerapkan tawakal, seorang Muslim didorong untuk bekerja dan berikhtiar secara sungguh-sungguh, kemudian menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada.
Sikap tersebut lahir dari keyakinan bahwa segala ketentuan Allah merupakan yang terbaik bagi hamba-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang