Editor
KOMPAS.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan menggelar Tanwir dan Milad ke-114 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada November 2026.
Mengusung tema "Bersama Satukan Bangsa", agenda tersebut menjadi momentum Muhammadiyah untuk merespons dinamika sosial dan politik dengan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan persatuan.
Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik
Dilansir dari Antara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, tema "Bersama Satukan Bangsa" berangkat dari pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
Menurut Haedar, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu merupakan modal penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Prinsip tersebut dinilai relevan untuk menghadapi dinamika kehidupan berbangsa, termasuk perbedaan pandangan dalam persoalan sosial dan politik.
Baca juga: Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912
"Secara normatif dan realitas kita memang punya modal besar untuk terus bersatu dalam keragaman dan Bhinneka Tunggal Ika," katanya.
Ia mengatakan perbedaan pendapat yang muncul dalam kehidupan berbangsa seharusnya disikapi melalui dialog dan upaya mencari titik temu.
"Perbedaan pendapat yang tajam mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi," ujarnya.
Haedar menjelaskan, sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Palu direncanakan berlangsung sekitar November. Salah satu agenda utama dalam sidang tersebut adalah merumuskan program strategis Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang.
Menurut dia, Muhammadiyah sebelumnya telah memiliki program strategis dengan rentang waktu lima hingga 25 tahun sejak 2000. Karena periode program tersebut telah berakhir, organisasi perlu menyusun kembali arah program strategis untuk periode berikutnya.
"Muhammadiyah ini sejak tahun 2000 itu punya program strategis lima tahun sampai 25 tahunan dan sekarang periodenya sudah habis, maka perlu dirumuskan," katanya.
Selain mempersiapkan agenda Tanwir, Muhammadiyah juga resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114. Logo tersebut mengusung corak postmodern yang dipadukan dengan simbol daun kelor.
Logo Tanwir dan Milad ke-114 tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual, tetapi juga memuat nilai dan gagasan yang menggambarkan karakter serta perjalanan gerakan Muhammadiyah.
"Estetika dalam sebuah simbol tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Logo ini juga dipandang sebagai medium untuk memahami gagasan yang lebih luas," katanya.
Haedar mengatakan dirinya turut terlibat dalam proses pembuatan logo tersebut. Ia memilih daun kelor sebagai salah satu unsur utama karena tanaman tersebut dapat tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia.
"Daun kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib yang bermakna kesederhanaan dan ketangguhan sesuai dengan gerakan Muhammadiyah," ujarnya.
Menurut Haedar, karakter daun kelor yang sederhana tetapi mampu tumbuh di berbagai kondisi menjadi gambaran yang selaras dengan gerakan Muhammadiyah.
Tanaman tersebut dapat bertahan hidup di berbagai tempat tanpa membutuhkan perawatan yang rumit. Nilai itu dinilai mencerminkan semangat Muhammadiyah untuk membangun kesederhanaan tanpa meninggalkan nilai dan orientasi gerakan.
"Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme," katanya.
Selain melambangkan kesederhanaan dan ketangguhan, daun kelor juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran. Haedar menilai tanaman tersebut memiliki manfaat nyata bagi kehidupan karena dapat diolah menjadi makanan.
"Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan," ujarnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.