Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kiai Hasan kepada Prabowo: Selama Bapak Husnuzan kepada Gontor, Kami pun Husnuzan

Kompas.com, 19 September 2026, 21:20 WIB
Reni Susanti

Editor


PONOROGO, KOMPAS.com — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menegaskan pilihannya untuk tetap berfokus pada pendidikan dan pembinaan umat setelah memasuki usia satu abad.

“Kami tetap memilih pendidikan,” ujar Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal di hadapan Presiden Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

“Selama Bapak Presiden husnuzan kepada saya dan Gontor, insya Allah Gontor husnuzan kepada Bapak Presiden,” tutur Hasan dikutip dari Tribun Jatim, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Hasan, hubungan antara lembaga pendidikan Islam dan pemerintah perlu dibangun berdasarkan rasa saling percaya dan prasangka baik.

Baca juga: Kisah Mushaf Al Quran yang Dicium Prabowo, Ditulis Santri Gontor Selama 3 Tahun

Ia juga menyampaikan rasa hormat atas kehadiran Prabowo di tengah keluarga besar Gontor yang juga dihadiri ribuan santri, alumni, dan tamu undangan.

Hasan mengatakan, perjalanan satu abad Gontor merupakan rekam jejak panjang dalam mendidik masyarakat dan turut membangun peradaban bangsa.

Para alumni Gontor, sambung Hasan, juga telah berkiprah dan mengabdi kepada masyarakat dalam berbagai bidang, termasuk lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Gontor, menurut Hasan, terbuka dan menaungi berbagai elemen umat Islam, baik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun organisasi kemasyarakatan Islam lainnya.

Pesantren tersebut juga berkomitmen menjaga keteraturan, ketertiban, serta ketaatan terhadap hukum dan tata kelola kehidupan berbangsa.

Baca juga: 100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor

Dari 1,2 hektar menjadi 1.200 hektar

Dalam sambutannya, Hasan turut menceritakan perkembangan Gontor selama satu abad.

Pada 1958, kata dia, kompleks Pondok Gontor hanya memiliki luas sekitar 1,2 hektar. Seiring perkembangannya, luas lahan yang dikelola Gontor kini mencapai sekitar 1.200 hektar.

“Sekarang, setelah 100 tahun, belum banyak juga, 1.200 hektar. Maka saya tidak ragu-ragu. Kedatangan Bapak Presiden ini insya Allah membawa berkah,” ujarnya.

Hasan juga mengenang Balai Pertemuan Pondok Modern yang sebelumnya hanya berupa bangunan bambu. Bangunan tersebut kemudian berkembang menjadi gedung pertemuan yang digunakan untuk berbagai kegiatan besar Gontor.

Dalam peringatan satu abad tersebut, Hasan berharap Gedung BPPM dapat diresmikan oleh Prabowo sebagai Presiden kedelapan Republik Indonesia.

Berita sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, Pondok Pesantren Darussalam Gontor tidak boleh terlibat politik praktis demi menjaga nilai-nilai yang sudah mengakar pada pondok pesantren yang sudah berusia satu abad tersebut.

"Saya tahu Gontor tidak boleh berpolitik. Itu benar. Gontor jangan ikut politik praktis, tetapi harus paham politik," kata Prabowo. 

Prabowo menggarisbawahi bahwa pesantren legendaris tersebut berkewajiban menjaga netralitas dengan menempatkan diri di atas seluruh kepentingan partisan.

"Gontor harus di atas segala golongan politik," ujarnya dikutip dari Antara.

Meskipun harus bersikap independen dari kancah kekuasaan, Presiden menilai lembaga pendidikan Islam ini tetap memegang peran penting bagi kemajuan masyarakat.

Posisi berdiri di atas semua golongan tersebut dinilai memungkinkan Gontor untuk berkontribusi aktif di pelbagai sektor pembangunan nasional.

"Gontor tidak boleh ke mana-mana, tetapi harus ada di mana-mana," kata Prabowo.

Dalam ajang peringatan seabad pesantren itu, Prabowo turut mengapresiasi keberadaan Panca Jiwa Gontor sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa.

Ia secara khusus menyebut lima nilai utama yang terkandung di dalamnya, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.

Menurut Prabowo, prinsip dasar yang ditanamkan oleh pesantren tersebut sangat relevan untuk diterapkan secara luas dalam kehidupan berbangsa.

Prabowo menilai moto dan nilai keteladanan yang diajarkan di Gontor patut dijadikan rujukan moral di mana pun berada.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Syukuran 100 Tahun Gontor, KH Hasan Tegaskan Husnuzon kepada Presiden Prabowo: Kami Pilih Pendidikan 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar