KOMPAS.com - Abu Darda merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena perhatian terhadap ilmu, Al-Qur’an, dan ibadah. Sumber biografi klasik menyebut namanya sebagai Uwaimir, dengan perbedaan riwayat mengenai nama ayah dan nasabnya.
Sebelum memeluk Islam, Abu Darda dikenal sebagai pedagang. Dalam At-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’d, meriwayatkan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW diutus, dirinya mencoba menjalankan perdagangan dan ibadah sekaligus. Namun, ia kemudian memilih menekuni ibadah dan meninggalkan perdagangan.
Ibn Sa’d meriwayatkan bahwa Abu Darda merupakan orang terakhir dari keluarganya yang masuk Islam. Abdullah bin Rawahah, yang menjadi saudaranya sejak masa jahiliah dan kemudian dalam Islam, mendatanginya ketika Abu Darda masih memiliki berhala.
Baca juga: Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Resmi Kemenbud
Setelah mengetahui berhala tersebut dirusak, Abu Darda berpikir bahwa sesuatu yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri tidak layak disembah. Ia kemudian pergi menemui Rasulullah SAW bersama Abdullah bin Rawahah dan memeluk Islam.
Riwayat ini menunjukkan bahwa perjalanan keislaman Abu Darda berkaitan dengan proses berpikir. Ia mengambil pelajaran dari keadaan yang dialaminya sebelum kemudian menemui Rasulullah SAW.
Riwayat Abu Darda dalam At-Thabaqat al-Kubra menyebut bahwa ia pernah menjadi pedagang sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Setelah Islam datang, ia berusaha menjalankan perdagangan dan ibadah secara bersamaan.
Namun, menurut riwayat tersebut, Abu Darda menilai keduanya tidak dapat ia jalankan secara bersamaan. Ia akhirnya memilih ibadah dan meninggalkan perdagangan.
Baca juga: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Pilihan ini merupakan kisah pribadi Abu Darda, bukan larangan Islam terhadap perdagangan. Justru, riwayat tersebut memperlihatkan bagaimana seorang sahabat menentukan prioritas berdasarkan keadaan dan kesungguhannya dalam menjalankan kehidupan setelah memeluk Islam.
Kedudukan Abu Darda dalam pembelajaran Al-Qur’an juga tercatat dalam hadis sahih. Anas bin Malik meriwayatkan:
حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ حَدَّثَنِي ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، وَثُمَامَةُ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ مَاتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَجْمَعِ الْقُرْآنَ غَيْرُ أَرْبَعَةٍ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ.
Haddatsana Mu'alla bin Asad, haddatsana Abdullah bin al-Mutsanna, qala haddatsani Tsabit al-Bunani wa Tsumamah, 'an Anas, qala: mata an-nabiyyu shallallahu 'alaihi wa sallam wa lam yajma'il-Qur'anu ghaira arba'atin: Abu ad-Darda', wa Mu'adz bin Jabal, wa Zaid bin Tsabit, wa Abu Zaid.
Artinya: “Ketika Nabi SAW wafat, tidak ada yang telah menghimpun Al-Qur’an selain empat orang: Abu Darda, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.” (Sahih al-Bukhari 5004).
Baca juga: Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Riwayat ini memperlihatkan posisi Abu Darda dalam tradisi pembelajaran Al-Qur’an pada masa sahabat. Pilihannya untuk meninggalkan perdagangan juga dapat ditempatkan dalam konteks kehidupan yang semakin ia arahkan kepada ibadah dan ilmu.
Sahih Muslim juga memuat riwayat tentang Abu Darda dan bacaan Al-Qur’an. Ketika bertemu Alqamah dari Kufah, Abu Darda menanyakan apakah ia membaca dengan qiraah Abdullah bin Mas’ud.
Abu Darda kemudian meminta Alqamah membaca Surah Al-Lail. Setelah mendengarnya, ia menyatakan bahwa bacaan tersebut sesuai dengan apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW. Riwayat ini menunjukkan perhatiannya terhadap transmisi bacaan Al-Qur’an.
Al-Qur’an menempatkan orang berilmu pada kedudukan yang tinggi. Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
Yarfa‘illāhul-ladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-‘ilma darajāt.
Baca juga: Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11).
Ayat tersebut tidak secara khusus membicarakan Abu Darda. Namun, kandungannya memberi konteks mengenai nilai ilmu yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Kisah Abu Darda tidak berarti bahwa seorang Muslim harus meninggalkan pekerjaan atau harta. Hal yang dapat dipetik adalah kesungguhannya menentukan prioritas hidup dan memberikan ruang besar bagi ibadah serta ilmu.
Ia pernah menjadi pedagang, kemudian memilih meninggalkan perdagangan. Ia juga tercatat dalam hadis sebagai sahabat yang memiliki perhatian terhadap pembelajaran dan bacaan Al-Qur’an.
Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Bagi Muslim masa kini, kisah Abu Darda menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya berkaitan dengan materi. Pekerjaan dan usaha tetap memiliki tempat, tetapi ilmu agama, ibadah, dan pengamalan Al-Qur’an juga perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.