KOMPAS.com - Peradaban Islam tidak hanya merujuk pada kejayaan umat Islam pada masa lalu, seperti perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, arsitektur, dan kebudayaan.
Dalam perspektif Islam, peradaban juga berkaitan dengan bagaimana manusia membangun kehidupan berdasarkan nilai agama.
Al-Qur'an memberikan sejumlah prinsip yang dapat menjadi dasar kehidupan berperadaban, mulai dari tanggung jawab manusia di bumi, pentingnya ilmu, keadilan, hingga hubungan antarmanusia.
Karena itu, kemajuan peradaban dalam Islam tidak hanya diukur dari perkembangan material, tetapi juga dari nilai yang mendasarinya.
Peradaban Islam dapat dipahami sebagai kehidupan masyarakat yang berkembang dengan nilai-nilai Islam sebagai salah satu landasannya.
Di dalamnya terdapat perkembangan ilmu, kebudayaan, ekonomi, pendidikan, sosial, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.
Baca juga: Lebaran 2027 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Idul Fitri dan Cuti Bersama, Catat Juga Puasa 2027
Muhammadiyah menjelaskan bahwa Al-Qur'an menjadi sumber inspirasi penting dalam perkembangan keilmuan dan peradaban Islam.
Dalam sejarahnya, tradisi keilmuan Islam berkembang dalam berbagai bidang, termasuk ilmu agama maupun ilmu umum.
Dengan pengertian tersebut, peradaban Islam tidak berhenti pada simbol atau peninggalan sejarah.
Peradaban juga berkaitan dengan kemampuan manusia mengelola kehidupan secara bertanggung jawab dan menghadirkan kemaslahatan.
Salah satu prinsip penting terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Wa iż qāla rabbuka lil-malā’ikati innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah, qālū ataj‘alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā’a wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a‘lamu mā lā ta‘lamūn.
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS Al-Baqarah: 30)
Baca juga: Hukum Menjadi Makelar dalam Islam, Bolehkah Mengambil Komisi?
Ayat ini menunjukkan adanya tanggung jawab manusia dalam kehidupan di bumi. Dalam konteks peradaban, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian manusia, tetapi juga bagaimana kehidupan dikelola agar tidak menghasilkan kerusakan.
Peradaban Islam juga memiliki hubungan erat dengan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari wahyu pertama yang memuat perintah membaca, yakni Surat Al-'Alaq ayat 1-5.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhalallāhu lahū bihī ṭarīqan ilal-jannah.
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (Sahih Muslim Nomor 2699a)
Baca juga: Adab Menuntut Ilmu dalam Islam, Bukan Sekadar Rajin Belajar
Hadis tersebut menunjukkan kedudukan penting aktivitas mencari ilmu dalam Islam.
Dalam kehidupan masyarakat, ilmu dapat menjadi dasar untuk memahami persoalan, mengembangkan pengetahuan, dan menghasilkan solusi yang bermanfaat.
Kemajuan peradaban juga tidak dapat dipisahkan dari keadilan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ma'idah ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanū kūnū qawwāmīna lillāhi syuhadā’a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana’ānu qawmin ‘alā allā ta‘dilū, i‘dilū huwa aqrabu lit-taqwā, wattaqullāh, innallāha khabīrun bimā ta‘malūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ma'idah: 8)
Baca juga: Bolehkah Mengqadha Shalat sambil Duduk atau Berbaring saat Sakit?
Ayat tersebut menempatkan keadilan sebagai prinsip yang tetap berlaku bahkan ketika seseorang berhadapan dengan pihak yang tidak disukainya.
Artinya, kemajuan sosial tidak cukup hanya menghasilkan kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi juga membutuhkan sistem kehidupan yang adil.
Al-Qur'an juga memandang keberagaman manusia sebagai bagian dari kehidupan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja‘alnākum syu‘ūbaw wa qabā’ila lita‘ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr.
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat: 13)
Baca juga: Jual Beli Online dalam Islam, Apa Saja Syarat agar Sah?
Ayat ini memberikan dasar bahwa keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Kehidupan berperadaban membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama, saling mengenal, dan menghormati manusia tanpa menjadikan latar belakang sebagai ukuran kemuliaan.
Dari prinsip-prinsip tersebut, peradaban Islam dapat dilihat sebagai upaya membangun kehidupan yang menghubungkan iman dengan ilmu, tanggung jawab dengan kemajuan, serta pembangunan dengan keadilan.
Kementerian Agama juga pernah menjelaskan bahwa sejarah peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur'an sebagai sumber syariat sekaligus referensi yang mendorong lahirnya berbagai disiplin keilmuan.
Karena itu, membangun peradaban Islam pada masa kini tidak cukup dengan mengingat kejayaan masa lalu.
Nilai Al-Qur'an perlu diterjemahkan dalam kehidupan melalui pengembangan ilmu, keadilan, penghormatan terhadap keberagaman, serta tanggung jawab manusia dalam mengelola kehidupan.
Baca juga: Temuan Perjanjian Damai Berusia 3.200 di Turki, Pesannya Dikaitkan dengan Palestina
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.