KOMPAS.com - Khabbab bin Al-Aratt merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memeluk Islam pada masa awal dakwah. Ia termasuk kelompok Muslim yang mengalami tekanan berat karena mempertahankan keimanan di tengah penolakan masyarakat Mekkah.
Menurut Ibn Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubra, Khabbab bernama Khabbab bin Al-Aratt bin Jandalah bin Sa’d bin Khuzaimah bin Ka’b bin Sa’d bin Zaid Manat bin Tamim. Ia disebut sebagai orang dari Bani Sa’d bin Zaid Manat bin Tamim.
Ibn Sa’d juga menyebut Khabbab sebagai mawla Ummu Anmar, seorang perempuan dari kalangan yang memiliki hubungan persekutuan dengan Bani Zuhrah. Riwayat tentang asal-usulnya memuat beberapa perbedaan, tetapi Ibn Hajar mencatat bahwa ia dikenal sebagai Khabbab bin Al-Aratt dan memiliki hubungan dengan Bani Zuhrah melalui persekutuan.
Baca juga: Doa Meminta Hujan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Mohon Hujan yang Membawa Berkah
Khabbab termasuk orang yang lebih dahulu memeluk Islam. Ibn Hajar dalam Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah menyebutnya sebagai salah satu kelompok Muslim awal yang mengalami penyiksaan karena mempertahankan agama.
Ia kemudian berhijrah ke Madinah. Ibn Sa’d mencatat bahwa ketika tiba di Madinah, Khabbab tinggal di rumah Kultsum bin Al-Hidm bersama Al-Miqdad bin Amr. Setelah itu, ia tinggal bersama Sa’d bin Ubadah. Nabi Muhammad SAW juga mempersaudarakan Khabbab dengan seorang sahabat dari kalangan Anshar.
Khabbab kemudian mengikuti Nabi dalam sejumlah peperangan. Ibn Sa’d mencatat bahwa ia hadir dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peperangan lainnya bersama Rasulullah SAW.
Baca juga: Simulasi Biaya Haji 2027 untuk 2 Orang, Segini yang Harus Disiapkan
Salah satu riwayat paling kuat mengenai Khabbab terdapat dalam Sahih Al-Bukhari. Khabbab menceritakan bagaimana sejumlah Muslim mengadukan tekanan yang mereka alami kepada Rasulullah SAW ketika beliau berada di dekat Ka’bah.
Dalam riwayat tersebut, Khabbab dan para sahabat meminta agar Rasulullah SAW berdoa dan memohon pertolongan bagi mereka. Rasulullah kemudian mengingatkan bahwa umat sebelum mereka juga pernah mengalami ujian berat, tetapi tekanan tersebut tidak membuat mereka meninggalkan agama.
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا قَيْسٌ، عَنْ خَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ، قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ " كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ ".
Ḥaddathanī Muḥammad ibn al-Muthannā, ḥaddathanā Yaḥyā, ‘an Ismā‘īl, ḥaddathanā Qays, ‘an Khabbāb ibn al-Aratt, qāla syakawnā ilā Rasūlillāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam wa huwa mutawassidu burdatan lahū fī ẓilli al-Ka‘bah, qulnā lahu alā tatanṣaru lanā alā tad‘ullāha lanā qāla: kāna ar-rajulu fīman qablakum yuḥfaru lahu fī al-arḍi fa-yuj‘alu fīhi, fa-yujā’u bil-minsyāri fa-yūḍa‘u ‘alā ra’sihi fa-yusyaqqu bi-iṡnataini, wa mā yaṣudduhu żālika ‘an dīnihi, wa yumsyathu bi-amsyāṭil-ḥadīdi mā dūna laḥmihi min ‘aẓmin au ‘aṣabin, wa mā yaṣudduhu żālika ‘an dīnihi, wallāhi layutimanna hāżal-amru ḥattā yasīrar-rākibu min Ṣan‘ā’a ilā Ḥaḍramauta, lā yakhāfu illallāha auż-żibba ‘alā ghanamihi, walākinnakum tasta‘jilūn.
Baca juga: Biaya Haji 2027 Terbaru untuk 2 Orang, Berapa yang Harus Disiapkan?
Artinya: Khabbab berkata, “Kami mengadukan kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang berada di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata, ‘Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?’ Beliau bersabda, ‘Orang-orang sebelum kalian pernah mengalami keadaan ketika seseorang digali lubang untuknya di tanah, lalu diletakkan di dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, tetapi hal itu tidak membuatnya meninggalkan agamanya. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terlepas dari tulang dan sarafnya, tetapi hal itu tidak membuatnya meninggalkan agamanya. Demi Allah, urusan ini akan sempurna hingga seorang pengendara berjalan dari Sana’a ke Hadramaut dan tidak takut kecuali kepada Allah atau serigala terhadap kambingnya. Namun, kalian terlalu tergesa-gesa.’” (Sahih Al-Bukhari Nomor 3612).
Kisah Khabbab berkaitan erat dengan gambaran Al-Qur’an mengenai ujian bagi orang yang menyatakan keimanan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 2:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Aḥasiban-nāsu ay yutrakū an yaqūlū āmannā wa hum lā yuftanūn.
Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS Al-Ankabut: 2).
Baca juga: MUI Dorong Pendataan Manuskrip Kuno Pesantren untuk Selamatkan Warisan Intelektual Islam Nusantara
Ayat tersebut tidak secara khusus menyebut Khabbab. Namun, kandungannya memberikan gambaran umum bahwa keimanan dapat disertai ujian. Dalam kehidupan Khabbab, keteguhan mempertahankan Islam berlangsung sejak masa awal dakwah hingga ia menjalani kehidupan sebagai sahabat Nabi.
Setelah hijrah, Khabbab tetap menjadi bagian dari komunitas Muslim dan mengikuti berbagai peristiwa penting bersama Rasulullah SAW. Ibn Sa’d mencatat keikutsertaannya dalam Badar, Uhud, Khandaq, dan sejumlah peperangan lainnya.
Baca juga: Angelina Jolie Soroti Kehancuran Gaza, Serukan Bantuan Hunian Sebelum Musim Dingin
Khabbab kemudian menetap di Kufah. Ibn Sa’d mencatat bahwa ia meninggal di sana pada 37 Hijriah, setelah perjalanan hidup yang diwarnai perjuangan sejak masa awal Islam.
Riwayat hidup Khabbab menunjukkan perjalanan seorang sahabat yang memeluk Islam ketika komunitas Muslim masih menghadapi tekanan di Mekkah. Ia mengalami masa sulit sebelum kemudian berhijrah dan mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah SAW.
Keteguhannya juga tercermin dalam riwayat yang ia sampaikan sendiri kepada Rasulullah SAW. Kisah tersebut menjadi bagian dari hadis sahih yang menggambarkan bagaimana Nabi menanamkan kesabaran kepada para sahabat ketika menghadapi ujian keimanan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.