Editor
KOMPAS.com — Mendampingi keluarga atau sahabat yang sedang mengalami tekanan mental membutuhkan kesabaran dan empati.
Dukungan dapat diberikan dengan mendengarkan tanpa menghakimi, membantu kebutuhan sehari-hari, serta menemani mencari pertolongan profesional.
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, perumus LBM Nurul Cholil, dan pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, mengingatkan bahwa proses setiap orang dalam menghadapi kesulitan tidak selalu sama.
“Kesabaran dalam mendampingi bukan berarti membiarkan seseorang terus menderita tanpa pertolongan. Kesabaran justru mengajarkan kita untuk tetap hadir, memberikan ruang, dan tidak menuntut orang yang sedang kesulitan agar segera pulih sesuai harapan kita,” tutur Syifaul dikutip dari NU Online, Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: Hidayat Nur Wahid Soroti Kerapuhan Mental Generasi Muda, Pesantren Dinilai Punya Jawaban
Menurutnya, tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, konflik keluarga, kehilangan orang tercinta, hingga perasaan tidak memiliki tempat bercerita dapat menjadi sumber tekanan emosional.
Seseorang mungkin menjadi lebih banyak melamun, mudah tersinggung, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, atau menarik diri.
Namun, perubahan tersebut tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi kesehatan mentalnya.
Syifaul menjelaskan enam cara yang dapat dilakukan untuk mendampingi orang yang sedang menghadapi beban mental.
Baca juga: Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa proses pemulihan tidak selalu berlangsung cepat. Sebagian orang membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali menemukan ketenangan dan semangat menjalani aktivitas.
Karena itu, pendamping perlu memberikan ruang tanpa memaksa seseorang bercerita atau segera merasa lebih baik.
Ketika ia mengungkapkan kesedihan yang sama berulang kali, hindari menyebutnya berlebihan. Ketika ia kesulitan melakukan aktivitas yang biasanya mudah, cobalah memahami bahwa ada beban yang mungkin tidak terlihat.
Dalam Islam, kesabaran merupakan salah satu jalan untuk memohon pertolongan Allah SWT. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 45:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
Artinya, “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).
Imam Al-Baghawi menjelaskan pentingnya memohon pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai ujian:
وَاسْتَعِينُوا عَلَى مَا يَسْتَقْبِلُكُمْ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ
Artinya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah atas berbagai macam ujian yang akan kalian hadapi.” (Abu Muhammad Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, Riyadh: Dar Thaibah, 1997, jilid I, hlm. 89).
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. (Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Mesir: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah, 1964, jilid I, hlm. 371).
Syifaul mengaitkan nilai kesabaran tersebut dengan pendampingan kepada keluarga atau sahabat yang mengalami tekanan mental. Kesabaran membantu seseorang menjalankan kepedulian secara lebih bijaksana.
Ia juga mengutip penjelasan Imam Al-Mawardi:
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ .... وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: بِمِفْتَاحِ عَزِيمَةِ الصَّبْرِ تُعَالَجُ مَغَالِيقُ الْأُمُورِ
Artinya, “Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran. Sebagian ahli hikmah berkata, ‘Dengan kunci keteguhan dalam bersabar, berbagai persoalan yang terkunci dapat diatasi.’” (Imam Al-Mawardi, Adab Al-Dunya wa Al-Din, Daru Maktabah Al-Hayat, t.t., hlm. 290).
Mendampingi dengan sabar tidak berarti harus selalu memiliki jawaban. Kehadiran yang tulus dan bantuan sesuai kemampuan dapat menjadi bentuk dukungan bagi orang yang sedang kesulitan.
Syifaul menyarankan pendamping menyediakan ruang yang aman untuk bercerita. Biarkan seseorang menyampaikan perasaannya tanpa terburu-buru memotong, menyalahkan, atau membandingkan persoalannya dengan pengalaman orang lain.
Kalimat seperti “Kamu harus kuat”, “Jangan terlalu dipikirkan”, atau “Masalah orang lain lebih berat” dapat membuat seseorang merasa kesedihannya tidak dipahami.
Sebaliknya, pendamping dapat menyampaikan kesediaan mendengarkan dan menegaskan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Syifaul kembali merujuk pesan Surat Al-Baqarah ayat 45:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ
Artinya, “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).
Dalam konteks pendampingan, kesabaran berarti bersedia menemani tanpa memaksakan seseorang segera merasa baik-baik saja.
Orang yang sedang terpuruk terkadang merasa persoalannya tidak memiliki jalan keluar.
Pendamping dapat membantu menumbuhkan harapan secara perlahan dengan tetap mengakui beratnya masalah tersebut.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Insyirah ayat 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya, “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah [94]: 5–6).
Menurut Syifaul, pesan tentang kemudahan tidak berarti meminta seseorang segera berhenti bersedih.
Pendamping dapat membantu memikirkan persoalan satu per satu dan menawarkan bantuan mencari pertolongan. Dengan demikian, penguatan spiritual disertai langkah nyata yang sesuai kebutuhan.
Doa dapat menjadi sumber pengharapan dan ketenangan bagi seorang Muslim. Pendamping dapat mengajak orang yang sedang mengalami tekanan mental untuk berdoa dan beribadah sesuai kemampuannya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 156:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Artinya, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS Al-A’raf [7]: 156).
Ayat tersebut mengingatkan keluasan rahmat Allah sehingga seseorang tetap memiliki alasan untuk berharap dan berusaha mencari jalan keluar.
Namun, nasihat agama perlu disampaikan secara lembut.
“Jangan sampai seseorang merasa bahwa kesulitan mental yang dialaminya merupakan bukti bahwa imannya lemah atau dirinya kurang bersyukur,” tulis Syifaul.
Berbaik sangka kepada Allah tidak mengharuskan seseorang menyembunyikan kesedihan. Ia tetap boleh menangis, mengakui kesulitan, dan meminta pertolongan. Doa serta ikhtiar mendapatkan bantuan dapat berjalan beriringan.
Selain dukungan emosional dan spiritual, pendamping perlu memahami kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Apabila tekanan berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, pekerjaan, kegiatan belajar, atau hubungan dengan keluarga, tawarkan bantuan untuk berkonsultasi dengan psikolog.
Ajakan tersebut perlu disampaikan dengan empati, tanpa memberi kesan bahwa orang tersebut lemah atau tidak mampu mengatasi kehidupannya.
Pendamping dapat membantu mencari layanan, membuat janji, atau menemani konsultasi sesuai persetujuannya. Dalam kondisi tertentu, penilaian dan penanganan oleh psikiater juga dapat diperlukan.
WHO turut menganjurkan keluarga dan sahabat memberikan dukungan tanpa menghakimi serta membantu orang yang membutuhkan untuk mengakses tenaga profesional.
Apabila seseorang menyampaikan keinginan menyakiti diri atau berada dalam bahaya langsung, tanggapi secara serius. Jangan tinggalkan ia sendirian dan segera cari pertolongan tenaga kesehatan atau layanan kegawatdaruratan.
Dukungan tidak hanya berupa kata-kata penyemangat. Seseorang yang sedang kesulitan juga mungkin membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Pendamping dapat menawarkan bantuan menyiapkan makanan, menemani berjalan santai, atau membantu mengurus keperluan yang terasa berat.
Kebiasaan seperti tidur cukup, makan teratur, dan beraktivitas fisik dapat didorong secara bertahap sesuai kondisi, tanpa menjadikannya tuntutan tambahan.
Syifaul mengingatkan bahwa pendamping juga perlu menjaga kesehatan dirinya sendiri.
“Pada saat yang sama, pendamping juga perlu menjaga kesehatannya sendiri. Kita boleh membantu sesuai kemampuan tanpa harus memikul seluruh persoalan orang lain seorang diri,” tulisnya.
Menurutnya, kepedulian dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni bertanya dengan tulus, mendengarkan dengan sabar, dan menemani tanpa menghakimi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.