Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Ummu Salamah, Menjaga Harapan kepada Allah Saat Tertimpa Musibah

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 11:05 WIB
Reni Susanti

Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Musibah dan kehilangan dapat membuat seseorang merasa kehilangan harapan.

Namun, dalam pandangan Islam, keadaan yang menyakitkan dapat menjadi jalan kebaikan apabila dihadapi dengan kesabaran dan prasangka baik kepada Allah SWT.

“Bisa jadi apa yang tidak kita sukai sesungguhnya menyimpan banyak hikmah yang jauh lebih baik. Sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang kita sukai justru mendatangkan banyak mudarat bagi kita,” ujar Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Niki Alma Febriana Fauzi dikutip dari laman Muhammadiyah,  Selasa (20/10/2026). 

Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya Namun Berdoa Minta Jadi Miskin

Ia mengajak jemaah mengambil pelajaran dari kisah Ummu Salamah dalam menghadapi kepergian suaminya, Abu Salamah.

Kisah tersebut menunjukkan pentingnya menjaga harapan kepada Allah di tengah kesedihan.

Doa Ummu Salamah saat menghadapi kehilangan

Niki mengisahkan, Abu Salamah dan Ummu Salamah merupakan pasangan sahabat Nabi Muhammad SAW yang saling mencintai dan taat kepada Allah.

Ketika Abu Salamah meninggal dunia, Ummu Salamah merasakan kesedihan mendalam. Dalam menghadapi musibah, Rasulullah SAW mengajarkan doa agar seseorang memohon pahala sekaligus pengganti yang lebih baik kepada Allah.

Doa tersebut berarti, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Menurut Niki, doa itu mengajarkan kesadaran bahwa segala sesuatu merupakan milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Baca juga: 2 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah: Bacaan, Arti, dan Keutamaannya untuk Berdoa

Kesadaran tersebut disertai permohonan agar Allah memberikan pahala atas musibah yang dihadapi serta menggantikan kehilangan dengan sesuatu yang lebih baik.

Ummu Salamah sempat bertanya dalam hati siapa yang dapat menjadi pengganti lebih baik daripada Abu Salamah. Ia merasa telah kehilangan sosok terbaik dalam hidupnya.

Namun, setelah masa idahnya berakhir, Ummu Salamah dilamar Rasulullah SAW dan kemudian menjadi istri beliau.

Niki menjelaskan, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia belum tentu dapat melihat kebaikan di balik sebuah peristiwa ketika sedang mengalaminya.

Tidak terburu-buru menilai keadaan

Niki menghubungkan pelajaran dari kisah Ummu Salamah dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 216.

Artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak terburu-buru menilai kehidupan hanya berdasarkan sesuatu yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.

Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah mengetahui perkara yang belum dapat dipahami manusia.

Saat menghadapi musibah, seseorang mungkin merasa hidupnya hancur dan kesempatan untuk bahagia telah tertutup. Padahal, menurut Niki, masih ada kemungkinan kebaikan yang belum terlihat.

Sebaliknya, kenikmatan dapat membawa dampak buruk apabila membuat seseorang sombong dan semakin jauh dari Allah.

Karena itu, ia menekankan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah.

Niki turut mengingatkan hadis qudsi tentang Allah yang sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Prasangka baik itu perlu diwujudkan dengan tetap mendekat kepada Allah ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Kesulitan dan kenikmatan sama-sama ujian

Niki menjelaskan bahwa ujian kehidupan dapat berupa kesulitan maupun kenikmatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas amal dalam menghadapi keadaan tersebut.

Ia merujuk pada firman Allah dalam surah Al-Mulk ayat 2.

Artinya, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).

Menurut Niki, seseorang yang menghadapi kemiskinan atau penderitaan dapat memperoleh kebaikan apabila bersabar dan tetap mendekat kepada Allah.

Sementara itu, kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial dapat menjadi ujian apabila membuat seseorang sombong, mengabaikan agama, atau berselisih dengan sesama.

Dengan demikian, keadaan yang dialami seseorang perlu dilihat bersama cara ia menyikapinya.

Niki kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim tentang keadaan seorang mukmin.

Artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin.” (HR Muslim).

Ia menjelaskan, seorang mukmin memiliki kesempatan memperoleh kebaikan dalam berbagai keadaan melalui syukur dan sabar.

Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, menggunakan nikmat untuk beramal saleh, serta membantu orang lain. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan tetap mendekat kepada Allah.

Niki mengajak jemaah menjadikan kisah Ummu Salamah sebagai pengingat untuk menjaga harapan saat menghadapi ujian. Meski tidak selalu dapat memilih keadaan yang datang, manusia tetap dapat menentukan sikap dan amal dalam menghadapinya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar