KOMPAS.com - Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari siksa kubur melalui doa yang dibaca ketika shalat.
Doa ini juga memuat permohonan perlindungan dari siksa neraka, fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Dajjal.
Doa tersebut dapat dibaca setelah tasyahud akhir dan sebelum salam. Anjuran ini menunjukkan bahwa bagian akhir salat bukan sekadar rangkaian bacaan penutup, melainkan juga kesempatan bagi seorang Muslim untuk memohon keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari empat perkara. Berikut lafaz doa yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari 1377.
Baca juga: Tokoh Agama Sasak TGH Lalu Nurudin Marzuki Wafat Saat Pimpin Doa
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābil-qabri, wa min ‘adzābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥid-dajjāl.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah Al-Masih Dajjal.” (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari 1377).
Doa ini tidak hanya meminta perlindungan dari siksa kubur. Seorang Muslim juga memohon keselamatan dari berbagai ujian yang dapat mengancam iman selama hidup maupun menjelang kematian, serta dari fitnah Dajjal.
Baca juga: Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Anjuran membaca doa tersebut juga diriwayatkan dalam Sahih Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Idzā tasyahhada ahadukum fal-yasta‘idz billāhi min arba‘in, yaqūlu: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannama wa min ‘adzābil-qabri wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāti wa min syarri fitnatil-masīḥid-dajjāl.
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian membaca tasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Ia mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahanam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Dajjal.’” (HR Muslim 588a).
Baca juga: 3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
Riwayat ini memperlihatkan bahwa doa perlindungan memiliki tempat dalam rangkaian ibadah salat. Seorang Muslim tidak perlu menunggu menghadapi kesulitan untuk memohon keselamatan, tetapi dapat membiasakannya dalam ibadah sehari-hari.
Doa perlindungan tersebut dibaca setelah tasyahud akhir, sebelum mengucapkan salam. Posisi ini penting diperhatikan agar bacaan dilakukan sesuai dengan tuntunan hadis, bukan dicampurkan begitu saja dengan bacaan tasyahud.
Baca juga: Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Melansir dari laman NU Online, dalam pembahasan mengenai hukum membaca doa setelah tasyahud, menjelaskan bahwa berdoa setelah tasyahud akhir dan selawat kepada Nabi SAW termasuk amalan yang dianjurkan.
Artikel tersebut mengutip pandangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu'in mengenai kesunahan berdoa pada bagian akhir salat.
Dengan demikian, umat Islam dapat membiasakan doa perlindungan ini dalam salat wajib maupun salat sunah.
Bagi yang belum hafal, bacaan Arab dan transliterasinya dapat dipelajari secara bertahap agar pelafalannya semakin tepat.
Permohonan pertama adalah perlindungan dari siksa kubur, yakni keselamatan dari azab yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian.
Permohonan kedua adalah perlindungan dari siksa neraka, yang menegaskan pentingnya memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.
Berikutnya, seorang Muslim memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian.
Fitnah kehidupan dapat dipahami sebagai berbagai ujian yang menggoyahkan iman, sedangkan fitnah kematian berkaitan dengan ujian pada saat menghadapi akhir kehidupan. Doa ini juga memuat permohonan perlindungan dari fitnah Dajjal.
Baca juga: Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Rangkaian tersebut mengajarkan bahwa keselamatan yang dimohonkan seorang Muslim mencakup berbagai keadaan, bukan hanya kehidupan setelah meninggal.
Doa menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah dalam menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya.
Membaca doa perlindungan dari siksa kubur sebaiknya tidak berhenti sebagai rutinitas lisan.
Permohonan itu dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki ibadah, menjaga perilaku, bertobat ketika melakukan kesalahan, dan memenuhi hak orang lain.
Seorang Muslim juga dapat mempelajari arti doa agar memahami permohonan yang disampaikan kepada Allah.
Dengan begitu, bacaan dalam salat tidak hanya dihafalkan, tetapi juga dihayati sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada-Nya.
Doa yang diajarkan Rasulullah SAW ini dapat dibiasakan setiap kali menyelesaikan tasyahud akhir sebelum salam.
Mengamalkannya sekaligus menjadi pengingat bahwa persiapan menghadapi kematian perlu dilakukan sejak sekarang melalui doa, ibadah, dan perbaikan amal.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.