Editor
KOMPAS.com-Program Masjid Ramah Pemudik mulai dijalankan pada momentum mudik Idulfitri 1447 H/2026 di berbagai daerah di Indonesia.
Di Masjid Besar Al-Hidayah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kementerian Agama membagikan ratusan paket takjil serta bensin gratis kepada pengendara yang melintas.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari layanan bagi pemudik yang sedang menempuh perjalanan jauh. Program ini diharapkan membantu para musafir beristirahat dan berbuka puasa dengan aman sebelum melanjutkan perjalanan.
Baca juga: Mudik Saat Ramadhan, Bolehkah Tidak Puasa? Ini Syarat Safar Menurut Ulama
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat, khususnya pemudik yang melakukan perjalanan jauh.
“Kegiatan ini bagian dari pelayanan kepada masyarakat, khususnya para pengendara dan pemudik yang sedang menempuh perjalanan jauh. Kami ingin mereka bisa beristirahat, berbuka puasa, dan melanjutkan perjalanan dengan aman dan nyaman,” ujar Muchlis M. Hanafi di Bekasi, Jumat (13/3/2026), dilansir dari laman Kemenag.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menyiapkan ratusan paket takjil bagi para pengendara yang melintas di sekitar masjid. Selain itu, disediakan pula 300 liter bensin gratis yang dibagikan kepada pengendara yang membutuhkan.
Muchlis menjelaskan bahwa program Masjid Ramah Pemudik merupakan gerakan nasional yang melibatkan berbagai unsur Kementerian Agama, termasuk para penyuluh agama yang turut menjadi penggerak pelayanan.
Program ini tidak hanya menyediakan tempat ibadah, tetapi juga menghadirkan berbagai fasilitas bagi pemudik yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Baca juga: Cari Masjid Saat Mudik Lebaran Kini Lebih Mudah, Kemenag Sarankan Gunakan Pusaka Super Apps
Muchlis mengatakan masjid diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan bagi masyarakat yang sedang melakukan perjalanan.
Berbagai layanan yang disediakan antara lain area istirahat, minuman hangat, layanan kesehatan, hingga konsultasi keagamaan mengenai fikih musafir yang didampingi oleh para penyuluh agama.
“Masjid kita dorong tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat pelayanan bagi masyarakat. Apalagi dalam momentum mudik, banyak orang membutuhkan tempat singgah yang aman dan nyaman,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Umar Nashir menambahkan bahwa pelayanan bagi pemudik harus dilakukan secara ramah dan profesional agar masyarakat merasa terbantu selama perjalanan.
“Melayani pemudik bukan pekerjaan sampingan. Mereka sedang dalam perjalanan jauh sehingga harus mendapatkan pelayanan yang baik dan membuat mereka merasa terbantu,” ujarnya.
Baca juga: Mudik Gratis Lebaran 2026 Naik Kapal Perang TNI AL, Bisa Sekalian Bawa Motor
Sementara itu, Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Bekasi Supriyadi menjelaskan bahwa para penyuluh agama berperan menyiapkan serta menggerakkan layanan di masjid, termasuk memberikan pendampingan keagamaan bagi para musafir.
“Selain tempat istirahat, pemudik juga dapat berkonsultasi mengenai fikih musafir, seperti sholat jamak dan qashar, serta hal-hal terkait ibadah selama perjalanan,” jelasnya.
Di Kabupaten Bekasi, program Masjid Ramah Pemudik dilaksanakan di tiga masjid, yakni Masjid Besar Al-Hidayah, Masjid Jami Darussa’adah, dan Masjid Jami Al-Barkah.
Secara nasional, program ini melibatkan 6.859 masjid yang disiapkan sebagai tempat singgah bagi para pemudik selama periode mudik Lebaran.
Program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang sedang dalam perjalanan jauh agar dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman dengan lebih aman dan nyaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang