Editor
KOMPAS.com - Usai sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat Islam menyambut hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita dan rasa syukur.
Pada 1 Syawal, kaum muslimin sangat dianjurkan melaksanakan shalat ‘Id secara berjamaah. Ibadah ini berstatus sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dalam kitab fikih klasik, Syekh Abu Syuja’ al-Asfihani menjelaskan tata cara dasar shalat ‘Id sebagai berikut:
وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا
Artinya: “Shalat dua hari raya hukumnya sunnah muakkadah, terdiri dari dua rakaat. Pada rakaat pertama tujuh kali takbir selain takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua lima kali takbir selain takbir berdiri. Setelah itu dilaksanakan dua khutbah.”
Baca juga: Panduan Khutbah Idul Fitri Lengkap: Urutan, Rukun, dan Dalilnya, Khatib Wajib Tahu
Shalat Idul Fitri dilaksanakan mulai sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Di Indonesia, umumnya dilaksanakan sekitar pukul 06.15–06.30 WIB.
Berikut panduan lengkap yang dapat dijadikan acuan:
Niat merupakan rukun utama dalam shalat. Berikut lafaz niat:
Sebagai imam:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri rak’ataini imāman lillāhi ta’ālā.
Sebagai makmum:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri rak’ataini ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Dilakukan dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat tangan, bersamaan dengan menghadirkan niat dalam hati.
Berikut lafaz doa iftitah:
إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Setelah doa iftitah, dilakukan takbir sebanyak tujuh kali. Di sela-selanya dianjurkan membaca dzikir:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Atau:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Atau bacaan yang umum di masyarakat:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا
Penjelasan ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam an-Nawawi:
قَالَ الْأَكْثَرُونَ: يَقُولُ: (سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ) وَلَوْ زَادَ، جَازَ...
Setelah takbir, membaca Al-Fatihah dan dianjurkan membaca surat Al-A’la pada rakaat pertama dan Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.
Dalilnya:
وَلَهُ أَيْ لِمُسْلِمٍ ... (فِي الْعِيدَيْنِ) ... بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّك الْأَعْلَى ... (وَهَلْ أَتَاك حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) ...
Dilaksanakan sebagaimana shalat biasa.
Setelah berdiri pada rakaat kedua, dilakukan takbir lima kali dengan bacaan dzikir seperti sebelumnya.
Dilanjutkan membaca Al-Fatihah, surat, hingga salam.
Setelah shalat, jamaah dianjurkan tetap duduk untuk menyimak khutbah Idul Fitri yang terdiri dari dua bagian.
Baca juga: Doa Sholat Idul Fitri Lengkap: Niat, Takbir, dan Artinya
Shalat Idul Fitri bukan hanya ibadah sunnah, tetapi juga simbol kebersamaan umat Islam serta ungkapan syukur atas keberhasilan menjalankan puasa Ramadan.
Dengan memahami tata cara, niat, dan bacaan yang dianjurkan, diharapkan setiap muslim dapat melaksanakan shalat Idul Fitri dengan khusyuk dan sesuai tuntunan syariat.
Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang