Editor
KOMPAS.com - Banjir bandang dan longsor terjadi di Desa Agusen, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada November 2025 dan berdampak besar terhadap permukiman serta area pemakaman warga.
Material lumpur, kayu, dan batu yang terbawa arus menghantam permukiman serta berdampak pada tiga kompleks pemakaman lama yang telah ada sejak masa kolonial.
Dilansir dari Antara, peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 700 jenazah hanyut akibat bencana tersebut.
Hilangnya makam tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga mengganggu tradisi masyarakat dalam menjaga hubungan dengan leluhur, termasuk pada tradisi ziarah kubur saat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Baca juga: Cerita Lebaran Penyintas Banjir Aceh Timur, dari Pohon Pengingat Sujud hingga Tradisi Meugang
Sejak dulu, tradisi mengunjungi makam keluarga saat Hari Raya Idul Fitri menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat Gayo.
Kondisi tersebut memunculkan tantangan sosial dan psikologis bagi masyarakat penyintas bencana.
Warga yang terdampak kini melakukan ziarah kini terpaksa memanjatkan doa di lokasi pemakaman massal tanpa penanda.
Salah satu warga, Tengku Riandi bersama warga yang datang ke lokasi pemakaman massal pun lantas memanjatkan doa ziarah kubur tanpa memiliki titik pasti untuk berziarah.
Pasalnya, kini, ziarah dilakukan secara kolektif di satu hamparan tanah tanpa nisan atau identitas makam.
Salah satu warga, Seriah (55), mengaku tidak lagi mengetahui lokasi makam anggota keluarganya.
“Saya tidak tahu lagi di mana kubur ayah saya,” ucap Seriah lirih.
Ia juga kehilangan jejak makam adiknya, Nurdin, yang dikenal sebagai hafiz Al-Quran dan imam madrasah di desa tersebut.
"Sedihlah nak, tulang bapakku di sini. Makanya aku nggak ziarah kemarin nak. Pas aku tengok berpikir aku mungkin ada salah satu anakku, tulang bapak mamakku, saudara-saudaraku di situ. Adikku yang baru meninggal berapa-berapa bulan nak, dah hanyut semua," kata Seriah.
Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mencatat sebanyak 279 keluarga terdampak bencana di Desa Agusen.
Dari jumlah tersebut, 155 kepala keluarga masih tinggal di hunian sementara yang dibangun oleh TNI AD di bawah koordinasi BNPB.
Total kerugian akibat bencana diperkirakan mencapai Rp7,6 triliun, meliputi kerusakan permukiman, infrastruktur, dan lahan pertanian.
Pemerintah daerah saat ini terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk penanganan kawasan pemakaman yang terdampak.
Warga melakukan evakuasi jenazah setelah kondisi air memungkinkan. Tulang-belulang dan sisa kain kafan ditemukan di antara material banjir, kemudian dikumpulkan dan dimakamkan kembali di lokasi yang lebih aman.
"Pemindahan ini pun baru bisa dilakukan sekitar satu minggu setelah bencana karena air itu masih keruh. Jadi kalau air itu agak keruh kan nggak nampak tulang-tulang tu, seperti kain kafannya nggak nampak. Setelah airnya itu agak jernih barulah kami cari tulang-tulang yang sudah hanyut itu," kata Riandi.
Selain pemulihan fisik, warga membutuhkan pendampingan psikososial untuk menghadapi trauma dan ketidakpastian pascabencana.
Kepastian terkait lahan tempat tinggal dan pemakaman juga menjadi perhatian utama masyarakat.
Pemulihan menyeluruh dinilai penting agar warga dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah kehilangan yang dialami akibat bencana.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini