KOMPAS.com – Di tengah situasi global yang masih diwarnai ketegangan di sejumlah kawasan, pemerintah Indonesia terus mematangkan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, bahkan secara khusus menyampaikan seruan doa dari Tanah Suci agar eskalasi konflik dapat mereda, sehingga pelaksanaan haji berlangsung aman dan khusyuk.
Seruan tersebut menjadi perhatian, karena ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas keamanan global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat pelaksanaan ibadah tersebut.
Baca juga: Strategi RI Jamin Keselamatan Jemaah Haji 2026 di Tengah Konflik Timteng
Dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi, Dahnil menyampaikan bahwa hingga saat ini persiapan penyelenggaraan haji berjalan tanpa kendala berarti.
Koordinasi antara pemerintah Indonesia dan otoritas setempat disebut berlangsung baik, mencakup berbagai aspek mulai dari akomodasi hingga layanan jemaah.
Ia menegaskan, bahwa hingga saat ini tidak ditemukan kendala berarti dalam proses persiapan, baik dari pihak Indonesia maupun dari otoritas di Arab Saudi.
“Alhamdulillah, sampai hari ini tidak ada kendala dalam persiapan. Insya Allah, keberangkatan pertama jemaah haji Indonesia akan dimulai pada 22 April 2026,” ujar Dahnil dilansir dari laman resmi Kemenhaj, Senin (30/3/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi global tetap perlu menjadi perhatian bersama.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan upaya teknis, tetapi juga memperkuat doa sebagai bagian dari ikhtiar spiritual.
Dalam pernyataannya, Dahnil mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat doa sebagai bagian dari ikhtiar bersama.
“Kita berdoa kepada Allah SWT semoga penyelenggaraan Haji 2026 berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi seluruh jemaah. Kami juga memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar seluruh proses ini diberikan kemudahan,” katanya.
Seruan ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Islam, keberhasilan suatu ikhtiar tidak hanya ditentukan oleh usaha manusia, tetapi juga oleh pertolongan Allah SWT.
Ibadah haji merupakan salah satu peristiwa keagamaan terbesar di dunia, yang melibatkan jutaan umat Muslim dari berbagai negara. Oleh karena itu, stabilitas keamanan menjadi faktor yang sangat krusial.
Dalam konteks ini, Dahnil secara terbuka menyampaikan harapannya agar situasi global, khususnya di Timur Tengah, dapat membaik.
Ia berharap, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji dapat menginspirasi negara-negara yang tengah berkonflik untuk menurunkan ketegangan.
“Kita berharap eskalasi konflik dapat menurun, sehingga pelaksanaan haji bisa berlangsung dengan aman,” harap Dahnil.
Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga pada pelaksanaan ibadah umat.
Dalam buku Manajemen Penyelenggaraan Haji dan Umrah karya M. Akhyar Adnan, dijelaskan bahwa penyelenggaraan haji modern menuntut kesiapan lintas sektor, termasuk mitigasi risiko keamanan global.
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji tidak bisa dipisahkan dari dinamika internasional yang lebih luas.
Baca juga: Haji 2026, Menhaj Libatkan KPK hingga Polisi Awasi Dana Rp 18 Triliun
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, ibadah haji juga memiliki makna simbolik yang sangat kuat.
Dahnil menekankan bahwa haji mengandung pesan universal tentang perdamaian dan kesetaraan umat manusia.
Ia menjelaskan, bahwa haji, menurutnya, mengandung pesan universal yang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini.
“Haji memiliki pesan kuat tentang perdamaian, kesetaraan umat manusia, serta perlindungan terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak,” jelasnya.
Dalam praktiknya, seluruh jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kebangsaan. Hal ini menjadi simbol nyata bahwa semua manusia setara di hadapan Allah SWT.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, yang menyebutkan bahwa haji adalah perjalanan spiritual yang menghapus sekat-sekat duniawi dan mengarahkan manusia pada kesadaran akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah.
Seruan doa yang disampaikan Wamenhaj tidak hanya bersifat formal, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam ajaran Islam, doa merupakan bagian integral dari setiap ikhtiar.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa doa adalah bentuk penghambaan sekaligus pengakuan atas keterbatasan manusia.
Oleh karena itu, mengiringi persiapan haji dengan doa menjadi bagian dari tradisi spiritual yang telah lama dijalankan umat Islam.
Dalam buku Fiqh Doa dan Dzikir karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahtani, dijelaskan bahwa doa memiliki kekuatan untuk menghadirkan ketenangan batin sekaligus membuka jalan kemudahan dalam berbagai urusan.
Dengan demikian, seruan Dahnil dapat dipahami sebagai ajakan untuk menguatkan dimensi batin dalam menghadapi tantangan dunia yang tidak menentu.
Baca juga: Hukum Perempuan Pergi Haji tanpa Mahram, Boleh atau Tidak? Ini Pandangan Ulama dan Aturannya
Dalam kesempatan yang sama, Dahnil juga menyinggung pentingnya peran Indonesia dalam mendorong perdamaian global.
Ia menyampaikan dukungannya terhadap langkah-langkah diplomasi yang dilakukan oleh Prabowo Subianto.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi dan perdamaian.
Dalam buku Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (moderasi) yang dapat menjadi landasan dalam membangun hubungan internasional yang harmonis.
Dengan pendekatan ini, Indonesia diharapkan mampu menjadi jembatan dialog di tengah konflik global yang masih berlangsung.
Pada akhirnya, penyelenggaraan haji bukan hanya soal kesiapan teknis, tetapi juga mencerminkan kondisi dunia secara keseluruhan. Ketika konflik meningkat, dampaknya dapat dirasakan hingga ke pelaksanaan ibadah.
Seruan doa dari Wamenhaj menjadi pengingat bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kedamaian, baik melalui doa maupun tindakan nyata.
Ibadah haji sendiri sejatinya mengajarkan nilai-nilai universal yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, persatuan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Di tengah dunia yang terus berubah, harapan agar haji 2026 berjalan aman dan khusyuk menjadi simbol dari harapan yang lebih besar, yaitu terciptanya dunia yang damai dan penuh keberkahan.
Karena pada akhirnya, perjalanan menuju Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajak manusia untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang