Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ke Arab Saudi, Delegasi Indonesia Intip Peluang Emas di Industri Mawar Dunia

Kompas.com, 8 April 2026, 20:55 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Delegasi Indonesia menghadiri ajang Rose and Aromatic Plants Global Forum ke-2 yang digelar di Taif, Arab Saudi.

Tak sekadar hadir, partisipasi Indonesia dinilai membuka jalan besar bagi kolaborasi industri minyak atsiri dan parfum global.

Sebanyak 32 peserta dari Indonesia ikut ambil bagian dari total 400 peserta yang berasal dari 44 negara.

Jumlah ini menjadikan Indonesia salah satu delegasi terbesar setelah Filipina, sekaligus menegaskan keseriusan Indonesia dalam mengembangkan sektor tanaman aromatik.

Baca juga: Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia

Forum yang berlangsung di Taif University hingga 11 April ini menjadi panggung penting bagi pertukaran teknologi dan investasi.

Berbagai inovasi dipaparkan, mulai dari teknik kultur jaringan hingga teknologi ekstraksi modern yang mampu meningkatkan kualitas minyak esensial.

Juru bicara forum, Khadija Abu Al-Naja, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga ruang integrasi ekonomi dan pariwisata.

“Ini adalah platform global yang mempertemukan potensi besar dari berbagai negara,” ujarnya.

Panen Mawar Melimpah, Taif Makin Mendunia

Di balik forum internasional tersebut, Taif tengah menikmati musim panen mawar terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

Wilayah ini memiliki lebih dari 910 kebun dengan sekitar 1,14 juta pohon mawar yang tersebar di kawasan Al-Hada dan Al-Shafa di Pegunungan Sarawat.

Dalam satu musim panen selama 45 hari, produksi bisa mencapai hingga 550 juta bunga mawar.

Petani lokal, Khalaf Jaber Al-Tuwairqi, menyebut musim ini sebagai salah satu yang terbaik.

“Cuaca yang moderat dan ketersediaan air membuat kualitas dan jumlah bunga meningkat signifikan,” katanya.

Namun, di balik melimpahnya bunga, proses produksi minyak mawar tetap sangat kompleks. Sekitar 12.000 bunga dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit minyak mawar—menjadikannya salah satu minyak aromatik termahal di dunia.

Peluang Besar untuk Indonesia

Bagi Indonesia, momentum ini menjadi sangat strategis. Dengan kekayaan hayati dan tradisi minyak atsiri seperti nilam dan cendana, Indonesia memiliki potensi besar untuk masuk lebih dalam ke pasar global.

Keterlibatan dalam forum ini membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kualitas produksi, hingga ekspansi ekspor produk aromatik.

Tak hanya itu, sektor pariwisata juga ikut terdongkrak. Pemandu wisata Abdullah Al-Zahrani mengungkapkan lonjakan kunjungan wisatawan selama musim panen mawar.

Wisatawan datang untuk melihat langsung proses pemetikan hingga penyulingan, yang telah menjadi bagian dari tradisi budaya Taif.

Dengan kombinasi inovasi, tradisi, dan dukungan alam, Taif kini kian mengukuhkan diri sebagai pusat mawar dunia.

Sementara itu, kehadiran Indonesia di forum ini menjadi sinyal kuat bahwa Nusantara siap mengambil peran lebih besar dalam industri parfum dan minyak atsiri global.

Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia

Delegasi Indonesia tampil menonjol di Forum Mawar Dunia di Taif, Arab Saudi. Momentum ini membuka peluang besar bagi Indonesia di industri minyak atsiri dan parfum global.

**Tag:**
Indonesia, Arab Saudi, Taif, Minyak Atsiri, Mawar Taif, Industri Parfum, Investasi Global, Forum Internasional, Ekspor Indonesia, Pariwisata Mawar

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hentikan Konflik AS-Iran, Serukan Perdamaian bagi Dunia
PBNU Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hentikan Konflik AS-Iran, Serukan Perdamaian bagi Dunia
Aktual
Satu Abad Selesai: Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala 'Tegak'
Satu Abad Selesai: Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala "Tegak"
Aktual
Menag Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Epicentrum Peradaban Islam Modern
Menag Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Epicentrum Peradaban Islam Modern
Aktual
Kemenag Kantongi Tambahan Anggaran Rp 5,783 Triliun untuk Bayar TPG Guru dan Dosen
Kemenag Kantongi Tambahan Anggaran Rp 5,783 Triliun untuk Bayar TPG Guru dan Dosen
Aktual
Jangan Terjebak Dukun, Ini Terapi Ruqyah Syar'iyyah untuk Mengatasi Gangguan Batin
Jangan Terjebak Dukun, Ini Terapi Ruqyah Syar'iyyah untuk Mengatasi Gangguan Batin
Aktual
Diundang Tahlilan, Bagaimana Cara yang Baik Menyikapinya? Ini Anjuran Majelis Tarjih Muhammadiyah
Diundang Tahlilan, Bagaimana Cara yang Baik Menyikapinya? Ini Anjuran Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Presiden Prabowo Dijadwalkan Membuka Muktamar NU ke-35 di Jombang
Presiden Prabowo Dijadwalkan Membuka Muktamar NU ke-35 di Jombang
Aktual
Ketua Umum PBNU: Muktamar Ke-35 NU Siap Digelar, Bahas Kepentingan dan Kemaslahatan Bangsa
Ketua Umum PBNU: Muktamar Ke-35 NU Siap Digelar, Bahas Kepentingan dan Kemaslahatan Bangsa
Aktual
Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik
Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik
Aktual
PCNU Toraja Utara Siap Ikuti Muktamar NU ke-35, Pastikan Administrasi Rampung
PCNU Toraja Utara Siap Ikuti Muktamar NU ke-35, Pastikan Administrasi Rampung
Aktual
Pemkab Jombang Siap Dukung Penuh Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas
Pemkab Jombang Siap Dukung Penuh Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas
Aktual
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Aktual
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Aktual
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
Aktual
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar