KOMPAS.com – Setelah gema takbir Idul Adha mereda, kalender Islam tidak langsung kembali ke hari biasa.
Ada tiga hari lanjutan yang justru menyimpan makna penting, yaitu Hari Tasyrik. Banyak yang mengenalnya sebagai “hari setelah kurban”, tetapi tidak semua memahami kapan tepatnya tanggal Hari Tasyrik dan apa keistimewaannya.
Lalu, Hari Tasyrik jatuh pada tanggal berapa? Berikut penjelasan lengkapnya.
Hari Tasyrik adalah tiga hari yang datang setelah Idul Adha, tepatnya pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah.
Penanggalan ini bersifat tetap dalam sistem lunar Islam, tetapi akan selalu bergeser dalam kalender Masehi setiap tahunnya.
Secara etimologis, kata “tasyrik” berasal dari bahasa Arab syarraqa, yang berkaitan dengan aktivitas menjemur sesuatu di bawah sinar matahari.
Dalam konteks sejarah, istilah ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad yang menjemur daging kurban agar lebih awet.
Penjelasan ini juga ditemukan dalam literatur klasik seperti Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang mengaitkan Hari Tasyrik dengan tradisi pasca-penyembelihan kurban.
Baca juga: Apa Itu Hari Tasyrik? Ini Tanggal dan Larangan Puasa dalam Islam
Dalam sistem kalender Islam, Hari Tasyrik selalu jatuh pada:
Artinya, tiga hari ini dimulai tepat sehari setelah Idul Adha (10 Dzulhijjah). Karena kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, maka jika dikonversi ke kalender Masehi, tanggalnya bisa berbeda setiap tahun.
Mengacu pada penetapan Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, maka Hari Tasyrik pada tahun tersebut berlangsung pada:
Tanggal ini menjadi acuan penting, terutama bagi umat Islam yang ingin melaksanakan ibadah kurban, karena penyembelihan hewan masih diperbolehkan hingga hari terakhir Tasyrik.
Hari Tasyrik memiliki kedudukan khusus dalam Islam. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menyebut hari-hari ini sebagai waktu untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.
Makna ini menegaskan bahwa Hari Tasyrik bukan sekadar perpanjangan libur Idul Adha, tetapi momentum syukur.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji dan kurban, yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial.
Bagi jamaah haji, Hari Tasyrik juga identik dengan ritual melontar jumrah di Mina, sebuah simbol perlawanan terhadap godaan setan.
Salah satu aturan penting yang sering ditanyakan adalah soal puasa. Dalam Islam, puasa pada Hari Tasyrik diharamkan.
Larangan ini ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim, bahwa Hari Tasyrik adalah hari makan dan minum.
Dengan kata lain, semangat yang diusung adalah menikmati nikmat Allah, bukan menahan diri seperti dalam puasa.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ juga menjelaskan bahwa seluruh bentuk puasa, baik sunnah maupun qadha, tidak diperbolehkan pada hari-hari tersebut.
Baca juga: Muhammadiyah Tegaskan Idul Adha 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT
Meski tidak boleh berpuasa, Hari Tasyrik tetap dipenuhi dengan amalan ibadah. Beberapa di antaranya:
Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa ibadah sosial seperti berbagi makanan memiliki nilai yang sangat tinggi, karena menyentuh dimensi kemanusiaan sekaligus spiritual.
Di tengah euforia Idul Adha, Hari Tasyrik justru menjadi ruang kontemplasi yang sering terlewat.
Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada satu hari raya, tetapi berlanjut dalam bentuk syukur yang lebih sederhana, makan bersama, berbagi, dan mengingat Allah.
Lebih dari itu, Hari Tasyrik juga mengandung pesan keseimbangan dalam Islam, antara ibadah ritual dan kenikmatan hidup yang halal.
Mengetahui tanggal Hari Tasyrik bukan sekadar informasi kalender, tetapi juga pintu untuk memahami rangkaian ibadah dalam Islam secara utuh.
Tahun 2026, Hari Tasyrik jatuh pada 28–30 Mei, namun esensinya tetap sama setiap tahun: hari untuk bersyukur, berbagi, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, ketika Idul Adha berlalu, perjalanan spiritual sebenarnya belum selesai. Justru di Hari Tasyrik, makna pengorbanan menemukan bentuknya yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang