Editor
KOMPAS.com - Pembagian daging kurban saat Idul Adha masih identik dengan penggunaan kantong plastik sekali pakai.
Padahal, limbah plastik dari pembagian hewan kurban kerap menumpuk dan sulit terurai setelah hari raya selesai.
Karena itu, banyak masyarakat mulai beralih menggunakan pembungkus ramah lingkungan yang lebih aman bagi lingkungan sekaligus tetap praktis digunakan.
Selain mengurangi sampah, penggunaan pembungkus alami juga membuat distribusi daging kurban terlihat lebih tradisional dan menarik.
Berikut beberapa pilihana lternatif pembungkus daging kurban yang lebih ramah lingkungan:
Sejumlah jurnalis di Kabupaten Bandung Barat (KBB) melaksanakan pemotongan hewan kurban dan mendistribusikan menggunakan besek bambu sebagai aksi lingkungan atas lonjakan sampah plastik di momen hari raya Iduladha, Sabtu (7/6/2025).Besek bambu menjadi salah satu alternatif paling populer untuk menggantikan kantong plastik saat pembagian daging kurban.
Wadah anyaman bambu ini memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga daging tidak cepat lembap. Selain ramah lingkungan, besek juga terlihat lebih rapi dan estetik saat dibagikan kepada masyarakat.
Besek bambu mudah ditemukan di pasar tradisional dan dapat digunakan kembali untuk menyimpan berbagai barang rumah tangga setelah Idul Adha selesai.
Daun pisang sudah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai pembungkus makanan tradisional.
Teksturnya cukup kuat untuk membungkus potongan daging, sementara aromanya membuat isi di dalamnya terasa lebih segar. Selain mudah terurai di alam, daun pisang juga murah dan mudah ditemukan, terutama di daerah pedesaan.
Penggunaan daun pisang membuat pembagian daging kurban terasa lebih tradisional dan alami.
Ilustrasi tumpukam daging dengan alas daun jati yang akan didistribusikan ke penerima.Selain daun pisang, daun jati juga bisa dimanfaatkan sebagai pembungkus daging kurban.
Ukuran daunnya yang lebar membuat daun jati cocok digunakan untuk membungkus potongan daging dalam jumlah cukup besar. Teksturnya juga lebih tebal sehingga tidak mudah sobek.
Di sejumlah daerah di Jawa, daun jati sudah lama dipakai sebagai pembungkus makanan tradisional karena dinilai lebih praktis dan ramah lingkungan.
Daun kelapa muda atau janur dapat dibentuk menjadi wadah tradisional untuk pembagian daging kurban. Selain itu, anyaman daun pandan juga bisa menjadi pilihan karena memiliki aroma alami yang khas.
Pembungkus berbahan anyaman daun ini memberikan kesan tradisional Nusantara yang kuat saat Idul Adha. Selain unik dan estetik, bahan-bahan tersebut juga mudah terurai sehingga tidak menambah sampah plastik.
Wadah anyaman biasanya cocok digunakan untuk pembagian daging dalam jumlah kecil hingga sedang.
Kertas food grade atau kertas khusus makanan menjadi alternatif praktis pengganti plastik sekali pakai.
Jenis kertas ini aman bersentuhan langsung dengan makanan dan lebih mudah terurai dibanding kantong plastik biasa. Agar lebih kuat, daging bisa dibungkus dua lapis menggunakan kertas dan diikat memakai tali alami.
Pembungkus ini juga membuat distribusi daging terlihat lebih rapi dan higienis.
Kotak kardus kecil dapat menjadi pilihan alternatif yang praktis untuk membagikan daging kurban.
Kardus memiliki daya tahan lebih baik dibanding plastik tipis sehingga mengurangi risiko bocor saat membawa daging. Agar lebih aman, bagian dalam kardus bisa dilapisi daun pisang atau kertas minyak.
Selain ramah lingkungan, kotak kardus juga lebih mudah disusun saat proses distribusi.
Bioplastik menjadi solusi modern pengganti kantong plastik konvensional.
Kemasan ini dibuat dari bahan alami seperti pati jagung atau singkong sehingga lebih mudah terurai di alam. Meski harganya sedikit lebih mahal, penggunaan bioplastik mulai banyak dipilih karena lebih aman bagi lingkungan.
Bioplastik juga tetap praktis digunakan seperti kantong plastik biasa sehingga cocok untuk distribusi dalam jumlah besar.
Penggunaan pembungkus ramah lingkungan saat pembagian daging kurban memiliki banyak manfaat, terutama dalam mengurangi timbunan sampah setelah Idul Adha.
Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, langkah ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan bahan yang lebih berkelanjutan.
Sejumlah masjid dan panitia kurban bahkan kini mulai mengajak masyarakat membawa wadah sendiri saat mengambil daging kurban.
Cara ini dianggap efektif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai secara signifikan.
Wadah yang digunakan bisa berupa ember kecil, rantang, baskom, atau kotak makanan dari rumah.
Selain lebih hemat dan ramah lingkungan, penggunaan wadah pribadi juga membuat pembagian daging lebih aman dan higienis.
Tradisi pembagian daging kurban tetap bisa berjalan lancar tanpa menghasilkan limbah plastik berlebihan.
Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan pembungkus tradisional juga dapat menghidupkan kembali budaya lokal yang mulai jarang digunakan.
Dengan kebiasaan tersebut, perayaan Idul Adha dapat berlangsung lebih bijak, bersih, dan berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang