MADINAH, KOMPAS.com- Istilah sedekah biasanya identik dengan berbagi harta atau makanan.
Namun di Tanah Suci Madinah, muncul sebuah fenomena yang dikenal dengan sebutan “sedekah barcode”. Apa itu?
Aksi berbagi ini menjadi jembatan kebaikan bagi sesama jemaah haji agar bisa merasakan nikmatnya beribadah di Raudhah.
Sebab untuk bisa masuk ke Raudhah, jemaah harus memiliki barcode dari aplikasi Nusuk sebagai akses masuk.
Baca juga: Masuk Raudhah Kini Wajib Nusuk, Ini Cara Daftar dan Reservasinya
Jemaah yang sudah berhasil mendapatkan barcode akses masuk ke Raudhah melalui aplikasi Nusuk, bisa memberikannya secara sukarela kepada jemaah lain yang belum pernah berkunjung atau kesulitan menggunakan smartphone.
Untuk diketahui, Raudhah yang dikenal sebagai taman surga, merupakan area di antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW yang selalu menjadi titik ziarah utama dan tempat mustajab untuk berdoa. Agar bisa masuk, jemaah harus mendaftar via aplikasi Nusuk atau skema tasreh dari pemerintah Arab Saudi.
Sayangnya, transisi ke sistem digital ini membawa tantangan tersendiri. Keterbatasan kemampuan dalam mengoperasikan ponsel pintar menjadi kendala nyata di lapangan, terutama bagi para lansia.
“Jamaah kita ada yang memiliki telepon genggam, tetapi tidak bisa mendaftar karena gaptek. Ada pula yang tidak membawa telepon seluler," ungkap Koordinator Bimbingan Ibadah Sektor 5 Daker Madinah, Miftahul Anwar.
Melihat kondisi tersebut, tim Pembimbing Ibadah (Bimbad) bergerak aktif melakukan sosialisasi setiap hari, mulai dari usai waktu Ashar hingga menjelang tengah malam.
Fokus utamanya adalah memastikan keadilan akses bagi seluruh jemaah dalam satu rombongan, agar tidak ada yang merasa ditinggalkan karena masalah teknis.
“Kami tidak menginginkan dalam satu kamar misalnya, berisi empat orang, tiga orang bisa berkunjung tiga-empat kali, namun satu orang belum sekali pun," kata beliau.
Baca juga: Masuk Raudhah Gratis, PPIH Ungkap Modus Calo Patok Tarif Rp 5 Juta
Miftahul menjelaskan, tantangan ini semakin nyata mengingat sekitar 40 persen jemaah Indonesia adalah lansia yang kesulitan dengan sistem digital. "Karena itu, kami membantu mereka untuk bisa ke Raudhah. Bahkan kami menyosialisasikan adanya sedekah barcode," jelasnya.
Teknis sedekah barcode ini sangat praktis. Jemaah akan mendaftarkan jadwal kunjungan melalui akun Nusuk pribadinya. Setelah mendapatkan barcode yang sah, akses tersebut tidak dipakai sendiri, melainkan diberikan kepada jemaah lain yang belum pernah menginjakkan kaki di Raudhah.
“Jadi jamaah tersebut mendaftarkan dengan akun Nusuk, namun tidak dipakai untuk dirinya sendiri. Justru disedekahkan kepada jamaah lain karena dirinya sudah pernah ke Raudhah," tutur Miftahul.
Baca juga: Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Inisiatif ini pun menuai apresiasi. Muhammad Subhan, ketua regu dari kloter 39 Solo (SOC 39), mengakui besarnya manfaat sedekah barcode bagi anggota regunya yang memiliki keterbatasan.
Ia sangat bersyukur warganya akhirnya bisa beribadah di Raudhah. Subhan juga memuji dedikasi para petugas di lapangan.
“Petugas memberikan pelayanan baik, tidak hanya mengedukasi soal kartu Nusuk, bahkan mengantar kami para jamaah hingga ke pintu Raudhah," pungkas jemaah asal Jepara tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang