KOMPAS.com – Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan berbagai amalan sunnah, salah satunya puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.
Namun di tengah semangat menjalankan puasa sunnah tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas setiap tahun, bolehkah puasa Dzulhijjah digabung dengan puasa qadha Ramadhan?
Pertanyaan ini biasanya muncul dari umat Muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadhan karena haid, sakit, perjalanan jauh, atau uzur syar’i lainnya, tetapi juga ingin meraih keutamaan puasa Dzulhijjah dan puasa Arafah.
Dalam praktiknya, para ulama memiliki penjelasan dan perbedaan pandangan terkait penggabungan niat puasa sunnah Dzulhijjah dengan puasa qadha wajib.
Meski demikian, mayoritas ulama tetap menekankan pentingnya menyegerakan pembayaran utang puasa Ramadhan sebelum datang Ramadhan berikutnya.
Lalu bagaimana sebenarnya hukum menggabungkan puasa Dzulhijjah dengan puasa qadha? Apakah pahala keduanya bisa diperoleh sekaligus? Berikut penjelasan lengkapnya.
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu waktu paling mulia dalam Islam.
Pada hari-hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti zikir, sedekah, takbir, membaca Al Quran, hingga puasa sunnah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah di dalamnya selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”
Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa puasa pada hari-hari awal Dzulhijjah memiliki pahala yang sangat besar, bahkan disebut setara dengan puasa selama satu tahun.
Hadis tersebut berbunyi:
“Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun puasa.”
Selain puasa Dzulhijjah, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah juga memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah termasuk ibadah yang sangat dianjurkan karena berada pada waktu yang penuh kemuliaan.
Baca juga: Dzikir 10 Hari Dzulhijjah yang Dianjurkan, Lengkap Takbir hingga Doa Arafah
Keinginan menggabungkan puasa qadha dengan puasa Dzulhijjah biasanya muncul karena keterbatasan waktu.
Sebagian Muslim masih memiliki utang puasa Ramadhan ketika bulan Dzulhijjah tiba. Di sisi lain, mereka juga tidak ingin kehilangan keutamaan puasa sunnah pada hari-hari istimewa tersebut.
Dalam ilmu fikih, persoalan menggabungkan dua ibadah dalam satu niat dikenal dengan istilah tasyrikun niyyah atau penggabungan niat ibadah.
Masalah ini cukup sering dibahas ulama, terutama terkait puasa sunnah yang bertepatan dengan kewajiban qadha puasa.
Sebagian ulama membolehkan puasa qadha dilakukan pada hari-hari puasa sunnah Dzulhijjah dengan harapan tetap memperoleh keutamaan waktu tersebut.
Pendapat ini salah satunya dijelaskan oleh Sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin.
Beliau menerangkan bahwa orang yang berpuasa qadha pada hari-hari yang memang dianjurkan untuk puasa tetap dapat memperoleh keutamaan hari tersebut, meskipun niat utamanya adalah qadha.
Dalam kitab tersebut disebutkan:
“Seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya.”
Pendapat serupa juga dijelaskan sejumlah ulama mazhab Syafi’i seperti Al-Khatib Asy-Syarbini, Syekh Ar-Ramli, dan Syekh Sulaiman Al-Jamal.
Artinya, seseorang yang berpuasa qadha pada tanggal 1–9 Dzulhijjah tetap berpeluang memperoleh pahala puasa sunnah karena melaksanakan ibadah pada waktu yang mulia.
Dalam buku Al-Fiqh Al-Manhaji karya Mustafa Al-Khin dan Ali Asy-Syarbaji dijelaskan bahwa amal ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu utama tetap memiliki nilai keutamaan tersendiri meskipun disertai niat ibadah wajib.
Meski demikian, ada pula ulama yang berpendapat bahwa puasa qadha dan puasa sunnah sebaiknya dipisahkan.
Menurut pandangan ini, orang yang berpuasa qadha di hari Dzulhijjah memang tetap sah puasanya, tetapi tidak memperoleh pahala sempurna sebagaimana puasa sunnah Dzulhijjah secara khusus.
Pendapat tersebut dijelaskan oleh Al-Khatib Asy-Syarbini yang menyebut pahala puasa sunnah tertentu tidak otomatis didapat jika niat utama yang dilakukan adalah puasa wajib.
Artinya, seseorang tetap mendapatkan pahala qadha, tetapi belum tentu memperoleh keutamaan penuh sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang puasa Dzulhijjah.
Pendapat ini juga dikaitkan dengan pentingnya mendahulukan kewajiban sebelum melaksanakan ibadah sunnah.
Dalam kitab Nihayatul Muhtaj, Syamsuddin Ar-Ramli menjelaskan bahwa orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan dianjurkan segera mengqadhanya terlebih dahulu.
Bahkan sebagian ulama memakruhkan mendahulukan puasa sunnah sebelum melunasi kewajiban puasa Ramadhan, terutama jika utang puasa ditinggalkan tanpa uzur syar’i.
Mayoritas ulama sepakat bahwa qadha puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang lebih utama untuk diselesaikan dibanding puasa sunnah.
Oleh karena itu, bagi seseorang yang masih memiliki utang puasa cukup banyak, disarankan mendahulukan qadha terlebih dahulu sebelum mengejar puasa sunnah.
Namun jika waktu Dzulhijjah sudah tiba sementara qadha belum selesai, sebagian ulama membolehkan niat qadha dilakukan pada hari-hari Dzulhijjah agar tetap memperoleh keberkahan waktu tersebut.
Dalam buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa perbedaan pendapat seperti ini merupakan bagian dari keluasan fikih Islam selama tetap memiliki dasar dalil dan argumentasi yang kuat.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memilih pendapat yang paling menenangkan hati dan sesuai dengan bimbingan ulama yang dipercaya.
Baca juga: Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Pertanyaan serupa juga sering muncul terkait puasa Arafah.
Sebagian ulama membolehkan seseorang berniat qadha puasa Ramadhan pada hari Arafah dan tetap berharap mendapatkan keutamaan puasa Arafah.
Namun sebagian lainnya berpendapat pahala utama puasa Arafah hanya diperoleh jika diniatkan khusus sebagai puasa sunnah Arafah.
Meski berbeda pendapat, para ulama tetap sepakat bahwa mengqadha puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat penting dan tidak boleh ditunda tanpa alasan.
Bulan Dzulhijjah memang menjadi salah satu momentum terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh.
Selain puasa, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, sedekah, membaca Al Quran, dan memperbanyak doa.
Dalam buku Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan hari-hari yang sangat dicintai Allah karena di dalamnya berkumpul ibadah utama seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam memanfaatkan hari-hari tersebut semaksimal mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Perbedaan pendapat soal penggabungan puasa qadha dan puasa Dzulhijjah menunjukkan luasnya khazanah fikih Islam.
Sebagian ulama membolehkan dan berharap pahala keduanya tetap diperoleh, sementara sebagian lain menilai pahala sunnah tidak sepenuhnya didapat jika niat utama adalah qadha.
Yang terpenting, umat Islam tetap berusaha menyelesaikan kewajiban puasa Ramadhan dan memanfaatkan bulan Dzulhijjah untuk memperbanyak ibadah.
Dengan memahami penjelasan ulama secara utuh, umat Muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, bijak, dan tidak mudah saling menyalahkan dalam persoalan fikih yang memang memiliki ruang perbedaan pendapat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang