Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Afifi Pilih Bergaya Nyentrik di Antara Jemaah Haji Asal Bogor, Topi Gelembungnya Jadi Ciri Khas

Kompas.com, 19 Mei 2026, 16:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Keberangkatan calon jemaah haji (CJH) Kloter 27 asal Kota Bogor diwarnai penampilan unik salah satu pendamping haji.

Sosok bernama Afifi Zaini Abdullah Albrend mencuri perhatian karena mengenakan busana dan topi dengan desain tak biasa.

Penampilannya berbeda dari jemaah lain yang mengenakan seragam batik resmi.

Baca juga: Gus Kafa Ajak Jemaah Haji 2026 Perkuat Zikir & Shalawat Jelang Armuzna

Gaya nyentrik tersebut ternyata memiliki fungsi khusus untuk membantu Jemaah mengenalinya dengan mudah selama ibadah haji.

Afifi calon Jemaah haji (CJH) Kloter 27 asal Kedung Badak, Kota Bogor, berangkat ke Tanah Suci Makkah bersama rombongan Jemaah lainnya.

Baca juga: Saudi Hadirkan Terjemahan 10 Bahasa untuk Jamaah Haji 2026 di Dua Masjid Suci

Namun, penampilannya terlihat berbeda dibandingkan CJH lain dalam kloter yang sama.

Meski tetap mengenakan warna seragam resmi berupa batik biru kombinasi ungu, Afifi memodifikasi busananya menjadi menyerupai gamis. Pakaian tersebut dijahit sendiri dengan desain khusus.

“Saya bikin sendiri dan saya juga punya penjahit sendiri,” kata Afif kepada TribunnewsBogor.com di Masjid Raya Bogor, Selasa (19/5/2026).

Topi Gelembung Jadi Ciri Khas Afifi Sebagai Pendamping Haji

Tak hanya busananya yang mencolok, Afifi juga mengenakan topi berukuran besar dengan bagian tengah menggembung dan mengerucut menyerupai kubah masjid.

Belakangan diketahui, Afifi bukan sekadar Jemaah biasa. Ia merupakan pendamping haji yang membawa rombongan Jemaah dari KBIHU Sabirul Hidayah Kota Bogor.

“Jadi KBIHU Sabirul Hidayah Kota Bogor ini alhamdulillah tiap tahun memberangkatkan haji paling banyak. Saya bawa 150 sekarang,” ujarnya.

Menurut Afifi, penampilan unik yang dikenakannya bukan untuk mencari perhatian. Ia sengaja membuat ciri khas tersebut agar Jemaah yang didampinginya lebih mudah mengenalinya di tengah keramaian.

“Jadi untuk mempermudah. Jemaah tinggal lihat topi saya saja,” ujarnya.

Sebelum menggunakan pakaian dan topi nyentrik itu, Jemaah yang dibawanya kerap kesulitan mencari dirinya saat berada jauh dari rombongan.

“Jadi Jemaah harus teriak-teriak. Nah ketika begini (pakaian nyentrik) Jemaah tinggal nyamperin saya saja,” ucapnya.

328 CJH Kloter 27 Kota Bogor Diberangkatkan

Sementara itu, sebanyak 328 calon Jemaah haji Kloter 27 asal Kota Bogor mulai diberangkatkan menuju Tanah Suci Makkah.

Pemberangkatan dilakukan dari Masjid Raya Bogor dan dilepas langsung oleh Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, pada Selasa (19/5/2026).

Dalam prosesi pelepasan, Jenal Mutaqin sempat mendorong seorang CJH kategori lanjut usia (lansia) yang duduk di kursi roda. Jemaah lansia tersebut tampak terus berlinang air mata saat keluar dari Masjid Raya menuju bus pemberangkatan.

Rombongan CJH selanjutnya diberangkatkan menuju Embarkasi Bekasi sebelum terbang ke Tanah Suci.

“Belum tentu saya mendapat panggilan istimewa seperti bapa ibu sekalian. Semoga kita yang hadir dijadikan hamba yang senantiasa bersyukur,” kaya Jenal Mutaqin di hadapan CJH.

Data Jemaah Haji Kota Bogor 2026

Berdasarkan data, jumlah Jemaah haji asal Kota Bogor pada 2026 mencapai 787 orang yang terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter), yakni Kloter 10 dan Kloter 27 Jawa Barat.

Kloter 10 telah diberangkatkan pada 2 Mei 2026.

Sementara Kloter 27 terdiri dari 328 Jemaah dengan rincian 150 laki-laki dan 178 perempuan, termasuk Jemaah lanjut usia (lansia).

Bersama petugas dan pendamping haji, total rombongan yang diberangkatkan mencapai 346 orang.

Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul "CJH Asal Kedung Badak Bogor Jadi Sorotan, Pakaiannya Nyentrik, Topi Gelembungnya Jadi Ciri Khas"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Haedar Nashir Ingatkan Pendidikan Jangan Dijadikan Alat Kekuasaan dan Mencari Uang
Haedar Nashir Ingatkan Pendidikan Jangan Dijadikan Alat Kekuasaan dan Mencari Uang
Aktual
Perwakilan Pemerintah Indonesia Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei di Teheran
Perwakilan Pemerintah Indonesia Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei di Teheran
Aktual
Beda Arti Masya Allah dan Subhanallah Serta Waktu yang Tepat Mengucapkannya
Beda Arti Masya Allah dan Subhanallah Serta Waktu yang Tepat Mengucapkannya
Doa dan Niat
Ribuan Pelayat Padati Teheran untuk Ikuti Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Ribuan Pelayat Padati Teheran untuk Ikuti Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Aktual
Kemenag Siapkan Empat Strategi Perkuat Peran Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat
Kemenag Siapkan Empat Strategi Perkuat Peran Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat
Aktual
Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, Kemenhaj Upayakan Agar Tidak Membebani Jemaah
Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, Kemenhaj Upayakan Agar Tidak Membebani Jemaah
Aktual
MUI Kritik Konten BEM Kampus soal Homoseksual, Pihak Universitas Tegaskan Materi Bukan Pernyataan Resmi Institusi
MUI Kritik Konten BEM Kampus soal Homoseksual, Pihak Universitas Tegaskan Materi Bukan Pernyataan Resmi Institusi
Aktual
Israel Setujui RUU Pembatasan Adzan, OKI Sebut Langkah Itu Diskriminatif dan Rasis
Israel Setujui RUU Pembatasan Adzan, OKI Sebut Langkah Itu Diskriminatif dan Rasis
Aktual
Menhaj Pastikan Kenaikan Biaya Haji 2027 Tak Akan Membebani Jamaah
Menhaj Pastikan Kenaikan Biaya Haji 2027 Tak Akan Membebani Jamaah
Aktual
500 Imam Masjid se-Banten Ikuti MTQ, Menag Tekankan Peran Strategis Imam bagi Masyarakat
500 Imam Masjid se-Banten Ikuti MTQ, Menag Tekankan Peran Strategis Imam bagi Masyarakat
Aktual
Daftar Pemimpin Dunia yang Hadiri Pemakaman Ali Khamenei, dari Rusia hingga Arab Saudi
Daftar Pemimpin Dunia yang Hadiri Pemakaman Ali Khamenei, dari Rusia hingga Arab Saudi
Aktual
DPR Usul Istitha'ah Kesehatan Jamaah Haji Ditetapkan Setahun Sebelum Berangkat, Ini Alasannya
DPR Usul Istitha'ah Kesehatan Jamaah Haji Ditetapkan Setahun Sebelum Berangkat, Ini Alasannya
Aktual
Menhaj Minta Rakernas Evaluasi Haji 2026 Ungkap Kekurangan untuk Perbaiki Layanan Jemaah
Menhaj Minta Rakernas Evaluasi Haji 2026 Ungkap Kekurangan untuk Perbaiki Layanan Jemaah
Aktual
Komisi VIII DPR Ingatkan Potensi Kenaikan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Diminta Tingkatkan Efisiensi
Komisi VIII DPR Ingatkan Potensi Kenaikan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Diminta Tingkatkan Efisiensi
Aktual
Apakah Akad Nikah Sah jika Pengantin Pria Hanya Mengucapkan 'Qabiltu'? Ini Penjelasan Ulama
Apakah Akad Nikah Sah jika Pengantin Pria Hanya Mengucapkan "Qabiltu"? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar