Editor
KOMPAS.com - Di tengah pelaksanaan ibadah haji 2026 yang diikuti jutaan Muslim dari berbagai negara, terselip kisah haru seorang jemaah asal Papua yang menunaikan haji untuk mendiang ibunya.
Rina Abdullah, jemaah asal Jayapura, kembali berangkat ke Tanah Suci bukan untuk menjalankan haji bagi dirinya sendiri, melainkan untuk membadalkan ibadah haji sang ibu yang telah wafat pada 2002.
Niat tersebut telah disimpannya sejak menunaikan ibadah haji pertama pada 2011 dan terus diperjuangkan selama bertahun-tahun.
Baca juga: 195.326 Jemaah Haji Indonesia Bayar Dam, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Setelah menunggu lebih dari satu dekade, doa dan harapannya akhirnya terwujud pada musim haji 1447 H/2026 M.
Rina, perempuan kelahiran Makassar yang tumbuh besar di Jayapura, pertama kali menunaikan ibadah haji pada 2011 setelah mendaftar pada 2008.
Baca juga: Jemaah Haji Pulang Diikuti Malaikat, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasannya
Pengalaman melihat Ka'bah untuk pertama kali masih membekas kuat dalam ingatannya hingga saat ini.
Saat itu, ia tidak mampu menahan haru karena akhirnya bisa menyaksikan langsung tempat suci yang selama ini hanya dilihat melalui layar televisi.
"Orang tanya kenapa nangis, ya enggak bisa dijelaskan. Selama ini cuma lihat di TV, ternyata sekarang benar-benar ada di depan mata," kenangnya saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Mina, Makkah, Kamis (28/5/2026).
Di tengah kekhusyukan menjalani ibadah haji pertamanya, Rina menyimpan satu harapan yang terus dibawanya hingga bertahun-tahun kemudian.
Saat melaksanakan tawaf wada, ia berdoa agar suatu hari Allah kembali memanggilkannya ke Tanah Suci sehingga dapat menghadiahkan ibadah haji untuk sang ibu.
Menurut Rina, ibunya meninggal dunia akibat sakit pada 2002 sebelum sempat menunaikan ibadah haji.
Sosok ibunya dikenang sebagai perempuan pekerja keras yang sepanjang hidupnya berjuang untuk keluarga.
Kepergian sang ibu bahkan terjadi sebelum Rina menikah.
"Rasanya seperti punya utang. Saya sudah bisa ke sini, sementara ibu belum sempat. Jadi saya berdoa, kalau Allah mudahkan rezeki, saya ingin membadalkan haji ibu," tuturnya.
Dua tahun setelah menyelesaikan haji pertamanya, Rina kembali mendaftarkan diri pada 2013.
Kali ini, pendaftaran tersebut dilakukan khusus untuk membadalkan ibadah haji ibunya.
Perjalanan menuju keberangkatan tidak berjalan mudah.
Saat musim haji tiba, statusnya masih tercatat sebagai jemaah cadangan sehingga kepastian keberangkatan baru diperoleh sekitar dua minggu sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Meski demikian, Rina tetap berusaha dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
"Saya urus semua. Bismillah saja. Yang penting ikhtiar. Kalau memang Allah mengizinkan berangkat, pasti ada jalannya," ujarnya.
Setelah penantian panjang lebih dari 10 tahun, Rina akhirnya dapat menunaikan amanah yang selama ini disimpan dalam hatinya.
Momen yang paling membekas baginya terjadi saat wukuf di Arafah.
Selama berada di Padang Arafah, ia menghabiskan waktu untuk berdoa bukan hanya bagi ibunya, tetapi juga untuk keluarga besar, saudara-saudaranya, hingga para tetangga yang menitipkan harapan agar suatu saat dapat berangkat ke Tanah Suci.
"Doa yang paling sering saya ulang-ulang itu supaya saudara-saudara saya bisa ke sini juga. Jangan saya saja. Tetangga yang titip doa juga saya doakan. Kita kan cuma perantara. Kalau niat baik, insya Allah Allah dengar," katanya.
Berbeda dengan pengalaman hajinya pada 2011 yang dimulai dari Madinah, perjalanan haji kali ini dirasakan lebih berat.
Usia yang bertambah membuat kondisi fisiknya tidak sekuat sebelumnya.
Rangkaian ibadah Armuzna yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental juga menjadi tantangan tersendiri.
"Kalau sekarang lebih terasa capeknya. Faktor umur juga. Tapi ya dijalani saja. Namanya haji memang melatih kesabaran," ujarnya.
Kesabaran itu semakin diuji ketika Rina mengalami cedera kaki hingga terkilir di tengah cuaca panas dan padatnya aktivitas ibadah.
Meski merasakan sakit, ia tetap berupaya menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
Bahkan saat kondisinya tidak sepenuhnya prima, perempuan yang merupakan anak kedua dari delapan bersaudara itu masih membantu jemaah lain.
Salah seorang teman sekamarnya tidak mampu menyelesaikan lontar jumrah sehingga Rina bersedia membadalkan lempar jumrah tersebut.
"Kasihan kalau enggak bisa lanjut. Kalau saya masih bisa bantu, saya bantu saja," ucapnya.
Menurut Rina, membantu sesama juga merupakan bagian dari ibadah yang tidak terpisahkan dari perjalanan hajinya.
"Kalau kita bermanfaat buat orang banyak, insya Allah rezeki juga dimudahkan. Saya percaya itu," ujarnya.
Di usia 49 tahun, Rina akhirnya berhasil menuntaskan niat yang telah disimpannya sejak lama.
Dalam setiap tawaf, doa di Arafah, hingga lontar jumrah yang dilakukannya, selalu terselip nama sang ibu yang telah lebih dahulu berpulang.
Bagi Rina, perjalanan haji kali ini bukan sekadar memenuhi kewajiban ibadah di Tanah Suci.
Lebih dari itu, haji 2026 menjadi wujud bakti dan cinta seorang anak kepada ibunya yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “Demi Bakti pada Sang Ibu, Rina Kembali ke Tanah Suci untuk Badal Haji”.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang