Editor
KOMPAS.com - Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mengajak masyarakat menjadikan tahun baru Hijriah sebagai sarana muhasabah agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Ajakan serupa juga disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa makna hijrah tidak hanya berkaitan dengan perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sosial dan peradaban.
Baca juga: Jusuf Kalla: Masjid Harus Makmurkan Jamaah dan Jadi Pusat Peradaban Umat
Menurut keduanya, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum memperkuat kualitas diri, kehidupan bermasyarakat, serta semangat membangun masa depan yang lebih baik.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengajak masyarakat memaknai pergantian Tahun Baru Islam sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri.
Baca juga: PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
"Mari kita jadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum untuk bermuhasabah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Teddy sebagaimana dikutip dari akun Instagram Sekretariat Kabinet (@sekretariat.kabinet) di Jakarta, Selasa.
Menurut Teddy, pergantian tahun dalam kalender Hijriah dapat menjadi kesempatan bagi setiap individu untuk mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Islam yang merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
"Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dan kedamaian kepada kita semua," ucapnya.
Selain itu, Teddy berharap keberkahan dan kedamaian senantiasa menyertai seluruh masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum transformasi diri dan sosial.
Menurut dia, hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perubahan besar dalam sistem kehidupan masyarakat.
"Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang," ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa hijrah mengajarkan perubahan cara pandang dari kehidupan yang berorientasi pada kelompok sempit menuju masyarakat yang lebih inklusif, berkeadaban, dan mengedepankan kemaslahatan bersama.
Dalam penjelasannya, Nasaruddin Umar menguraikan perbedaan mendasar antara berbagai bentuk komunitas sosial.
Menurut dia, kabilah dibangun berdasarkan hubungan darah, sedangkan sya'abun terbentuk dari ikatan keluarga besar.
Sementara itu, qawmun lahir dari kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik.
Menag menegaskan bahwa konsep umat memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan bentuk komunitas lainnya.
Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa umat merupakan komunitas yang dipersatukan oleh empat unsur utama sekaligus.
Keempat unsur tersebut meliputi kasih sayang, visi masa depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah.
"Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," kata Nasaruddin.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai waktu yang tepat untuk merefleksikan kondisi kehidupan sosial saat ini.
Baik Seskab Teddy Indra Wijaya maupun Menteri Agama Nasaruddin Umar sama-sama menekankan pentingnya memanfaatkan Tahun Baru Islam sebagai sarana evaluasi dan perubahan menuju kondisi yang lebih baik.
Muhasabah diri, peningkatan kualitas kehidupan sosial, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan menjadi pesan utama yang disampaikan dalam menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah.
Dengan semangat hijrah, umat Islam diharapkan tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis, beradab, dan penuh kasih sayang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang