Editor
KOMPAS.com - Shalat merupakan ibadah paling utama dalam Islam dan disebut sebagai tiang agama serta amalan pertama yang akan dihisab pada hari akhir.
Meski demikian, tidak sedikit umat Islam yang menjalankan shalat hanya sebagai rutinitas sehingga sulit menghadirkan kekhusyukan.
Kondisi pikiran yang melayang saat shalat juga kerap menimbulkan kekhawatiran apakah ibadah tersebut masih bernilai di sisi Allah SWT.
Baca juga: Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Dalam sebuah kisah, Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menenangkan ketika seorang sahabat mengungkapkan kegelisahan serupa.
Dilansir dari laman Baznas Kota Yogyakarta, dalam Islam, khusyuk merupakan ruh yang membuat shalat menjadi hidup dan bermakna.
Baca juga: 7 Tips Sholat Khusyu’ Agar Tidak Lalai dalam Sholat
Secara bahasa, khusyuk berarti tunduk, tenang, dan merendahkan diri. Sementara secara istilah, khusyuk dalam shalat berarti menghadirkan hati dan pikiran sepenuhnya di hadapan Allah SWT serta menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa kekhusyukan adalah kehadiran hati yang disertai kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT.
Artinya, setiap bacaan dan gerakan dalam shalat dilakukan dengan perasaan bahwa Allah sedang melihat dan mendengar hamba-Nya.
Dilansir dari laman Kemenag Kota Pariaman, dikisahkan bahwa dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW tengah dikelilingi para sahabat yang mendengarkan setiap perkataan beliau dengan penuh perhatian.
Di tengah suasana yang tenang itu, seorang sahabat tampak gelisah. Jemarinya saling menggenggam, matanya tertunduk, dan napasnya terasa berat.
Setelah beberapa saat ragu, ia mengangkat wajah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya, tetapi aku khawatir pertanyaanku ini akan membuatku semakin malu di hadapan AllahΩ”
Rasulullah lalu menenangkan sahabat tersebut dan bersabda, “Katakanlah, wahai saudaraku. Tidak ada pertanyaan yang membuat seseorang hina jika ia bertanya untuk mencari kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, aku merasa shalatku sering tidak khusyuk. Kadang aku mengingat urusan dunia, kadang pikiranku melayang entah ke mana. Aku takut shalatku tidak diterima oleh Allah. Apakah dengan shalat seperti itu, aku tetap mendapatkan pahala?,” ujarnya.
Suasana majelis seketika menjadi hening. Para sahabat lainnya ikut menunduk karena merasakan kegelisahan yang sama.
Rasulullah tidak langsung menjawab. Beliau memandang sahabat tersebut dengan penuh kelembutan hingga air mata membasahi pipinya.
Dengan suara bergetar, beliau berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh setan tidak akan pernah berhenti berusaha mencuri bagian dari sholat seorang hamba hingga ia teralihkan. Tetapi ketahuilah, Allah tetap melihat usahamu.”
“Wahai saudaraku, jika engkau meninggalkan shalat hanya karena takut tidak khusyuk, maka setan akan menang. Tetapi jika engkau tetap berusaha shalat meski pikiranmu teralihkan, ketahuilah bahwa setiap kali engkau berusaha kembali kepada ALLAH dalam shalatmu, saat itulah Allah menyambutmu,” lanjutnya.
Mendengar penjelasan itu, sahabat tersebut tidak mampu menahan tangis. Para sahabat lain pun ikut terharu.
Rasulullah kemudian memberikan perumpamaan yang menyentuh hati.
“Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya berjalan ke arahnya, tetapi anak itu sering jatuh dan tersandung. Apakah sang ibu akan marah? Tidak! Ia justru akan berlari menghampirinya,mengangkatnya, dan mendekapnya erat. Itulah Allah. Ia lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu,” jelasnya.
Kata-kata Rasulullah itu begitu membekas di hati sang sahabat. Sejak saat itu, ia tidak lagi berputus asa ketika pikirannya teralihkan saat shalat.
Ia tetap berusaha meraih kekhusyukan dan mengingat nasihat Rasulullah, yaitu setiap kali engkau berusaha kembali, saat itulah Allah menyambutmu.
Kisah ini mengajarkan bahwa sikap khusyuk dalam shalat adalah proses yang membutuhkan latihan dan kesungguhan.
Ketika pikiran melayang, seorang Muslim tidak perlu berputus asa atau meninggalkan shalat, melainkan terus berusaha mengarahkan hati dan pikirannya kembali kepada Allah SWT.
Sebab, setiap upaya untuk kembali menghadirkan Allah dalam shalat merupakan bentuk kesungguhan seorang hamba yang selalu mendapat rahmat dan penerimaan dari-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang