Editor
KOMPAS.com - Iman menjadi fondasi utama dalam ajaran Islam karena mencakup keyakinan kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, hari akhir, serta takdir Allah SWT.
Keimanan juga diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah dan penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada para sahabat tentang sosok yang memiliki iman paling mengagumkan.
Baca juga: 7 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Berpengaruh dalam Perjalanan Hijrah ke Madinah
Jawaban Rasulullah kemudian menunjukkan betapa besar kedudukan orang-orang yang tetap beriman kepada beliau meskipun hidup setelah masa kenabiannya.
Dalam Islam, iman tidak hanya berarti meyakini keberadaan dan keesaan Allah SWT, tetapi juga mencakup kepercayaan kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para nabi dan rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang telah ditetapkan Allah SWT.
Baca juga: Kisah Teladan Rasulullah SAW yang Memuliakan Orang Miskin dengan Penuh Kasih
Iman juga diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah, seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Selain itu, iman mencakup penerapan nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kesetiaan, keadilan, dan kasih sayang.
Keimanan dipandang sangat penting dalam Islam karena menjadi dasar hubungan manusia dengan Allah SWT.
Keyakinan dan praktik keimanan yang kuat diyakini dapat membantu seseorang meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, ketiadaan iman atau lemahnya keimanan dapat membawa kehidupan yang tidak bahagia di dunia dan berujung pada siksa di akhirat.
Terkait keimanan tersebut, Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai sosok yang paling mengagumkan imannya.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, "Apakah kalian mengetahui, siapa yang paling mengagumkan imannya?"
"Imannya para malaikat ya Rasulullah?" jawab para sahabat.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah kembali bersabda, "Bagaimana para malaikat tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan perkaranya,".
"Para Nabi, ya Rasulullah," jawab para sahabat.
Rasulullah pun bersabda, "Bagaimana para Nabi tidak beriman, sedang malaikat datang dari langit membawa wahyu (untuk mereka),".
"Sahabat-sahabatmu, ya Rasulullah."jawab para sahabat.
Namun, Rasulullah juga tidak membenarkan jawaban tersebut. Menurut beliau, para sahabat telah menyaksikan langsung mukjizat Rasul dan menerima kabar mengenai wahyu yang diturunkan.
Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa orang-orang yang paling mengagumkan imannya adalah mereka yang hidup setelah beliau wafat, tetapi tetap beriman kepadanya meskipun tidak pernah melihat Nabi secara langsung.
Mereka membenarkan risalah yang dibawa Rasulullah dan meyakini mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada beliau tanpa pernah hidup pada masa kenabiannya.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa iman kepada Nabi Muhammad SAW merupakan bagian yang sangat penting dalam keimanan seorang Muslim.
Meski Rasulullah telah wafat, keyakinan kepada beliau dan ajaran yang dibawanya tetap harus dipegang teguh oleh umat Islam.
Kepercayaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan dan perilaku sehari-hari.
Umat Islam dituntut untuk mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan Rasulullah SAW dan meneladani akhlaknya.
Dengan menjalankan ajaran dan mencontoh keteladanan beliau, umat Islam diharapkan dapat menjadi pribadi yang mulia serta memperoleh keberkahan dari Allah SWT di dunia dan akhirat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang