Editor
KOMPAS.com - Kisah teladan Rasulullah SAW dalam memuliakan orang miskin tercermin melalui peristiwa yang dialami seorang budak perempuan bernama Barirah.
Peristiwa ini terjadi ketika Barirah, yang hidup dalam keterbatasan, mendapat kesempatan mengundang Nabi Muhammad SAW ke rumah sederhananya untuk menyantap hidangan istimewa.
Meski sempat diliputi rasa takut dan malu, Barirah justru memperoleh pelajaran tentang kasih sayang dan kebijaksanaan Rasulullah dalam memperlakukan sesama.
Baca juga: Siapa Safinah? Kisah Budak Persia Jadi Pelayan Setia Rasulullah
Dilansir dari laman Kemenag, kisah ini menjadi contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW membesarkan hati orang miskin dan tidak pernah merendahkan mereka karena kondisi ekonomi yang dimiliki.
Barirah adalah seorang budak perempuan miskin yang memiliki rasa cinta begitu mendalam kepada Rasulullah SAW.
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Ia sangat berharap Nabi Muhammad SAW suatu hari berkenan mengunjungi gubuknya.
Namun, keinginan tersebut selama ini hanya dipendam karena ia merasa tidak memiliki apa pun untuk disuguhkan kepada Rasulullah.
Suatu ketika, Barirah menerima makanan yang cukup mewah dari salah seorang sahabatnya.
Makanan lezat seperti itu belum pernah ia nikmati sepanjang hidupnya.
Sebelum mencicipinya, terlintas dalam benaknya bahwa hidangan tersebut lebih pantas disuguhkan kepada sosok yang selama ini sangat ia rindukan, yakni Rasulullah SAW.
Setelah menerima undangan, Rasulullah SAW datang ke rumah Barirah bersama para sahabatnya.
Ketika melihat hidangan yang tersaji, salah seorang sahabat menduga makanan tersebut berasal dari zakat atau sedekah.
“Wahai Rasulullah bisa jadi ini makanan zakat atau sedekah. Sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan sedekah. Jadi Engkau jangan memakannya, ya Rasulullah,” kata sahabat.
Ucapan tersebut membuat Barirah terkejut. Ia begitu bahagia karena Rasulullah datang ke rumahnya hingga lupa bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menerima zakat dan sedekah.
Mendengar perkataan sahabat itu, hati Barirah seolah hancur. Perasaan takut, gelisah, malu, dan sedih bercampur menjadi satu.
Ia khawatir telah melakukan kesalahan besar karena menyajikan hidangan yang diharamkan bagi Rasulullah SAW.
Dalam situasi itulah Rasulullah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan, beliau bersabda, “Makanan ini memang sedekah untuk Barirah, dan karenanya sudah menjadi milik Barirah. Lalu Barirah menghadiahkannya kepadaku. Maka aku boleh memakannya.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, Rasulullah SAW pun memakan hidangan yang disajikan Barirah tanpa rasa segan.
Sikap Nabi Muhammad SAW ini menjadi teladan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai ketulusan, menjaga perasaan sesama, dan memuliakan orang miskin dengan penuh kasih sayang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang