Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk

Kompas.com, 19 Juni 2026, 16:07 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Shalat merupakan ibadah paling utama dalam Islam dan disebut sebagai tiang agama serta amalan pertama yang akan dihisab pada hari akhir.

Meski demikian, tidak sedikit umat Islam yang menjalankan shalat hanya sebagai rutinitas sehingga sulit menghadirkan kekhusyukan.

Kondisi pikiran yang melayang saat shalat juga kerap menimbulkan kekhawatiran apakah ibadah tersebut masih bernilai di sisi Allah SWT.

Baca juga: Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya

Dalam sebuah kisah, Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menenangkan ketika seorang sahabat mengungkapkan kegelisahan serupa.

Arti Sikap Khusyuk dalam Shalat

Dilansir dari laman Baznas Kota Yogyakarta, dalam Islam, khusyuk merupakan ruh yang membuat shalat menjadi hidup dan bermakna.

Baca juga: 7 Tips Sholat Khusyu’ Agar Tidak Lalai dalam Sholat

Secara bahasa, khusyuk berarti tunduk, tenang, dan merendahkan diri. Sementara secara istilah, khusyuk dalam shalat berarti menghadirkan hati dan pikiran sepenuhnya di hadapan Allah SWT serta menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa kekhusyukan adalah kehadiran hati yang disertai kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT.

Artinya, setiap bacaan dan gerakan dalam shalat dilakukan dengan perasaan bahwa Allah sedang melihat dan mendengar hamba-Nya.

Kisah Sahabat Nabi yang Mengaku Sulit Khusyuk saat Shalat

Dilansir dari laman Kemenag Kota Pariaman, dikisahkan bahwa dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW tengah dikelilingi para sahabat yang mendengarkan setiap perkataan beliau dengan penuh perhatian.

Di tengah suasana yang tenang itu, seorang sahabat tampak gelisah. Jemarinya saling menggenggam, matanya tertunduk, dan napasnya terasa berat.

Setelah beberapa saat ragu, ia mengangkat wajah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya, tetapi aku khawatir pertanyaanku ini akan membuatku semakin malu di hadapan AllahΩ”

Rasulullah lalu menenangkan sahabat tersebut dan bersabda, “Katakanlah, wahai saudaraku. Tidak ada pertanyaan yang membuat seseorang hina jika ia bertanya untuk mencari kebaikan.”

“Wahai Rasulullah, aku merasa shalatku sering tidak khusyuk. Kadang aku mengingat urusan dunia, kadang pikiranku melayang entah ke mana. Aku takut shalatku tidak diterima oleh Allah. Apakah dengan shalat seperti itu, aku tetap mendapatkan pahala?,” ujarnya.

Suasana majelis seketika menjadi hening. Para sahabat lainnya ikut menunduk karena merasakan kegelisahan yang sama.

Rasulullah tidak langsung menjawab. Beliau memandang sahabat tersebut dengan penuh kelembutan hingga air mata membasahi pipinya.

Dengan suara bergetar, beliau berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh setan tidak akan pernah berhenti berusaha mencuri bagian dari sholat seorang hamba hingga ia teralihkan. Tetapi ketahuilah, Allah tetap melihat usahamu.”

“Wahai saudaraku, jika engkau meninggalkan shalat hanya karena takut tidak khusyuk, maka setan akan menang. Tetapi jika engkau tetap berusaha shalat meski pikiranmu teralihkan, ketahuilah bahwa setiap kali engkau berusaha kembali kepada ALLAH dalam shalatmu, saat itulah Allah menyambutmu,” lanjutnya.

Mendengar penjelasan itu, sahabat tersebut tidak mampu menahan tangis. Para sahabat lain pun ikut terharu.

Rasulullah kemudian memberikan perumpamaan yang menyentuh hati.

“Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya berjalan ke arahnya, tetapi anak itu sering jatuh dan tersandung. Apakah sang ibu akan marah? Tidak! Ia justru akan berlari menghampirinya,mengangkatnya, dan mendekapnya erat. Itulah Allah. Ia lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu,” jelasnya.

Kata-kata Rasulullah itu begitu membekas di hati sang sahabat. Sejak saat itu, ia tidak lagi berputus asa ketika pikirannya teralihkan saat shalat.

Ia tetap berusaha meraih kekhusyukan dan mengingat nasihat Rasulullah, yaitu setiap kali engkau berusaha kembali, saat itulah Allah menyambutmu.

Kisah ini mengajarkan bahwa sikap khusyuk dalam shalat adalah proses yang membutuhkan latihan dan kesungguhan.

Ketika pikiran melayang, seorang Muslim tidak perlu berputus asa atau meninggalkan shalat, melainkan terus berusaha mengarahkan hati dan pikirannya kembali kepada Allah SWT.

Sebab, setiap upaya untuk kembali menghadirkan Allah dalam shalat merupakan bentuk kesungguhan seorang hamba yang selalu mendapat rahmat dan penerimaan dari-Nya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Aktual
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Aktual
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
Aktual
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Aktual
Kabar Gembira, Insentif Guru PAI Non-ASN dan Non-Sertifikasi Tahap II Tahun 2026 Sudah Cair
Kabar Gembira, Insentif Guru PAI Non-ASN dan Non-Sertifikasi Tahap II Tahun 2026 Sudah Cair
Aktual
Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Spirit Hijrah di Tahun Hijriah
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Spirit Hijrah di Tahun Hijriah
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Aktual
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
Aktual
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Aktual
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf,  Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf, Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Aktual
Haji Mabrur: Makna Sejati, Ciri-ciri, dan Transformasi Diri Setelah Ibadah
Haji Mabrur: Makna Sejati, Ciri-ciri, dan Transformasi Diri Setelah Ibadah
Aktual
Melihat Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama Allah pada Nabi Muhammad
Melihat Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama Allah pada Nabi Muhammad
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Hikmah dan Keistimewaan 10 Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Hikmah dan Keistimewaan 10 Muharram
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com