Editor
KOMPAS.com - Hari kiamat merupakan hari pembalasan ketika setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatan dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT selama hidup di dunia.
Pada hari itu, tidak ada seorang pun yang dapat membantu, memberikan tebusan, maupun membela orang lain di hadapan Allah SWT.
Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal saleh dan memanfaatkan segala nikmat sesuai ketentuan syariat.
Baca juga: Doa Membasuh Wajah Saat Wudhu agar Bercahaya di Hari Kiamat
Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ ﴿٤٨﴾
“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah : 48).
Baca juga: Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Dilansir dari Laman Kemenag Sumsel, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ada empat perkara utama yang akan ditanyakan kepada setiap hamba pada hari hisab.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Perkara pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah umur.
Sejak seseorang memasuki usia baligh, seluruh keyakinan, ucapan, dan perbuatannya akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT.
Orang yang menjalankan kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.
Sebaliknya, mereka yang mengabaikan perintah Allah dan melanggar ketentuan-Nya akan menghadapi kerugian di akhirat.
Perkara kedua yang akan ditanyakan adalah tentang jasad dan anggota tubuh yang dimiliki manusia.
Apabila seluruh anggota badan digunakan untuk beribadah dan taat kepada Allah SWT, maka hal itu akan menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan.
Namun, jika jasad digunakan untuk melakukan kemaksiatan dan perbuatan yang dilarang Allah SWT, maka hal itu akan mendatangkan kerugian bagi pelakunya.
Perkara ketiga yang akan ditanyakan adalah ilmu yang dimiliki seseorang.
Setiap Muslim akan dimintai pertanggungjawaban apakah ia telah mempelajari ilmu agama yang hukumnya fardlu ain dan apakah ilmu tersebut telah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu fardlu ain mencakup dasar-dasar akidah, hukum bersuci, shalat, zakat bagi yang mampu, puasa, kewajiban hati, serta berbagai larangan yang berkaitan dengan anggota badan.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ، وَوَيْلٌ لِمَنْ عَلِمَ ثُمَّ لَا يَعْمَلُ
“Sungguh sangat celaka orang yang tidak belajar (ilmu agama yang fardlu ain), dan sungguh sangat celaka orang yang mempelajarinya tapi tidak mengamalkannya.”
Perkara keempat yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah harta.
Setiap manusia akan ditanya dari mana hartanya diperoleh dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan.
Dalam urusan harta, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Dua golongan termasuk orang yang celaka, yaitu mereka yang memperoleh harta dengan cara yang haram atau mendapatkan harta secara halal tetapi menggunakannya untuk hal-hal yang diharamkan.
Adapun golongan yang selamat adalah mereka yang memperoleh harta melalui jalan yang halal dan membelanjakannya untuk perkara yang dibenarkan oleh syariat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ)
“Sebaik-baik harta adalah harta milik orang yang shalih.” (HR Ahmad dalam al-Musnad).
Orang yang saleh akan berusaha mencari rezeki melalui cara yang halal dan menggunakan hartanya untuk berbagai hal yang dihalalkan oleh Allah SWT.
Empat perkara tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh nikmat yang diberikan Allah SWT selama hidup di dunia bukanlah sesuatu yang bebas digunakan tanpa batas.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri sejak sekarang dengan memperbanyak amal saleh dan memanfaatkan seluruh nikmat sesuai tuntunan agama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang