Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Gelar Gerakan Nasional Verifikasi Kiblat 15-16 Juli 2026, Masyarakat Diajak Berpartisipasi

Kompas.com, 3 Juli 2026, 22:45 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam Gerakan Nasional 1448K Titik Verifikasi Kiblat yang akan digelar pada 15-16 Juli 2026.

Program ini memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Kiblat, yakni saat posisi Matahari tepat berada di atas Ka'bah sehingga arah kiblat dapat diverifikasi dengan mudah, akurat, dan serentak tanpa memerlukan peralatan khusus.

Gerakan nasional tersebut menjadi salah satu rangkaian Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag.

Baca juga: Jangan Lewatkan! 15-16 Juli 2026 Waktu Terbaik Luruskan Arah Kiblat, Begini Caranya

Melalui program ini, Kemenag menargetkan terciptanya gerakan verifikasi arah kiblat terbesar yang pernah diselenggarakan sekaligus berupaya mencatatkan rekor dunia.

Dilansir dari laman resminya, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan fenomena Rashdul Kiblat merupakan momentum yang tepat untuk memastikan kembali arah kiblat karena dapat dilakukan secara mudah dan tanpa biaya.

Baca juga: Kemenag Ajak Umat Cek Arah Kiblat Saat Istiwa A’zam 15-16 Juli 2026

Ia mengajak penghulu, penyuluh agama, serta seluruh jajaran Kementerian Agama menggerakkan masyarakat agar rumah, masjid, musala, sekolah, kampus, perkantoran, hingga fasilitas publik ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut.

"Masyarakat dapat mendaftarkan partisipasinya melalui https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev, sementara pelaksanaan di lapangan juga dapat dilaporkan secara berjenjang apabila belum sempat melakukan registrasi daring," terang Arsad saat membuka Syariah Insight Room Edisi Spesial bertema Pelaksanaan Indonesia Berkiblat: Gerakan Nasional 1448K Rashdul Qiblat, Kamis (2/7/2026).

APRI Dukung Gerakan Nasional Verifikasi Kiblat

Ketua Umum Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI), Madari, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Gerakan Nasional 1448K Titik Verifikasi Kiblat.

Menurutnya, program tersebut membantu umat Islam memperoleh kepastian arah kiblat yang lebih presisi sehingga dapat menambah ketenangan dalam menjalankan ibadah.

"Gerakan ini menghadirkan kemaslahatan yang manfaatnya akan terus dirasakan masyarakat. Selama arah kiblat yang telah diverifikasi digunakan untuk salat, insya Allah pahala jariahnya akan terus mengalir kepada semua yang ikut berkontribusi," kata Madari.

Ia meminta seluruh jajaran APRI, mulai tingkat pusat, wilayah, hingga cabang, segera berkoordinasi untuk menyukseskan program tersebut.

Dengan jumlah penghulu yang mencapai lebih dari 11 ribu orang di seluruh Indonesia, Madari optimistis target partisipasi nasional dapat tercapai apabila seluruh penghulu bergerak bersama di wilayah binaannya.

Madari juga mengingatkan agar penyampaian verifikasi arah kiblat dilakukan secara santun dan edukatif.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan untuk menyalahkan arah kiblat yang selama ini digunakan masyarakat, melainkan sebagai ikhtiar menyempurnakan akurasi arah kiblat melalui fenomena alam yang telah Allah SWT sediakan.

Penyuluh Agama Jadi Ujung Tombak Edukasi

Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Jamaluddin M. Marki mengatakan pengukuran arah kiblat merupakan bagian dari tugas penyuluh agama sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 794 Tahun 2025.

Karena itu, penyuluh diharapkan menjadi ujung tombak edukasi sekaligus pendamping masyarakat selama pelaksanaan Gerakan Nasional 1448K Titik Verifikasi Kiblat.

"Peran penyuluh tidak hanya sebagai edukator, tetapi juga mobilisator, mediator, sekaligus dokumentator. Penyampaian kepada masyarakat harus dilakukan secara santun agar dipahami sebagai ikhtiar meningkatkan kemantapan ibadah, bukan untuk menyalahkan praktik yang telah berjalan," ujar Jamaluddin.

Ia menambahkan, jaringan kelompok binaan yang dimiliki para penyuluh di seluruh Indonesia menjadi potensi besar untuk menggerakkan partisipasi masyarakat.

Karena itu, para penyuluh diminta memanfaatkan momentum 15-16 Juli 2026 untuk mendampingi masyarakat melakukan verifikasi arah kiblat di rumah, masjid, musala, sekolah, maupun fasilitas umum, sekaligus mendokumentasikan hasil kegiatan sebagai bagian dari laporan kinerja.

Gerakan Nasional 1448K Titik Verifikasi Kiblat Bagian dari Peaceful Muharam 1448 H

Gerakan Nasional 1448K Titik Verifikasi Kiblat merupakan salah satu rangkaian Peaceful Muharam 1448 H yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

Program ini mengusung semangat menyambut Tahun Baru Islam melalui syiar keagamaan yang edukatif, kolaboratif, dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Selain gerakan verifikasi arah kiblat, rangkaian Peaceful Muharam juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial, edukasi, pemberdayaan umat, serta layanan keagamaan yang melibatkan penghulu, penyuluh agama, organisasi profesi, dan masyarakat luas sebagai implementasi program Kementerian Agama Berdampak.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar