Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Ajak Umat Cek Arah Kiblat Saat Istiwa A’zam 15-16 Juli 2026

Kompas.com, 18 Juni 2026, 16:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tidak banyak umat Islam yang menyadari bahwa ada momen tertentu dalam setahun ketika arah kiblat dapat dicek secara mandiri dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi tanpa menggunakan alat canggih.

Momen langka tersebut akan kembali terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 melalui fenomena astronomi yang dikenal sebagai Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.

Pada waktu itu, posisi matahari berada tepat di atas Ka'bah di Kota Makkah. Akibatnya, bayangan benda yang berdiri tegak di berbagai wilayah yang masih mendapatkan sinar matahari dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat yang akurat.

Momentum ini tidak hanya menjadi peristiwa astronomi biasa. Kementerian Agama (Kemenag) menjadikannya sebagai bagian dari gerakan nasional bertajuk Gerakan 1.448.000 Titik Verifikasi Arah Kiblat Nasional: Hari Sejuta Arah Kiblat, yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Program tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 Hijriah, sekaligus sarana edukasi publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arah kiblat dan ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena Langka Saat Matahari Tepat Berada di Atas Ka'bah

Dikutip dari laman Kementerian Agama, fenomena Istiwa A’zam merupakan peristiwa ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah.

Saat peristiwa tersebut terjadi, seluruh bayangan benda yang tegak lurus terhadap permukaan tanah akan mengarah berlawanan dengan posisi Ka'bah.

Dengan kata lain, arah bayangan dapat dimanfaatkan untuk menentukan arah kiblat secara tepat.

Fenomena ini hanya terjadi dua kali dalam setahun sehingga sering dimanfaatkan para ahli falak, pengelola masjid, pesantren, hingga masyarakat umum untuk melakukan pengecekan ulang arah kiblat.

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 fenomena tersebut akan terjadi pada:

  • 15 Juli 2026 pukul 16.27 WIB, 17.27 WITA, dan 18.27 WIT
  • 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB, 17.27 WITA, dan 18.27 WIT

Pada waktu tersebut masyarakat cukup mengamati bayangan benda yang berdiri tegak lurus di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung.

Baca juga: Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta

Mengapa Verifikasi Arah Kiblat Penting?

Bagi umat Islam, arah kiblat memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi orientasi utama dalam pelaksanaan salat.

Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 144, Allah SWT berfirman:

"Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arah itu."

Karena itu, memastikan ketepatan arah kiblat menjadi bagian dari upaya menyempurnakan pelaksanaan ibadah.

Dalam praktiknya, arah kiblat masjid, musala, maupun rumah ibadah terkadang mengalami pergeseran akibat kesalahan pengukuran awal, renovasi bangunan, atau penggunaan metode yang kurang tepat.

Melalui fenomena Rashdul Kiblat, masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan pengecekan ulang secara sederhana namun memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

Kemenag Targetkan Partisipasi 1.448.000 Orang

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan bahwa gerakan nasional ini tidak hanya bertujuan memastikan ketepatan arah kiblat, tetapi juga memperluas literasi masyarakat mengenai ilmu falak.

Menurutnya, ilmu falak merupakan salah satu cabang keilmuan Islam yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek ibadah, mulai dari penentuan waktu salat, arah kiblat, awal bulan hijriah, hingga pelaksanaan ibadah haji.

Melalui gerakan ini, masyarakat diajak mengenal bahwa sains dan agama bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan untuk memberikan kemaslahatan bagi umat.

"Kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak. Ini adalah momentum edukasi sekaligus penguatan kualitas ibadah umat," ujar Arsad.

Kementerian Agama menargetkan sedikitnya 1.448.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Angka tersebut dipilih sebagai simbol tahun 1448 Hijriah, sekaligus menjadi identitas gerakan nasional yang diharapkan mampu melibatkan masyarakat secara luas.

Baca juga: Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?

Siapa Saja yang Dapat Mengikuti?

Gerakan ini terbuka untuk berbagai kalangan.

Peserta yang diharapkan ikut berpartisipasi antara lain:

  • Penghulu
  • Penyuluh Agama Islam
  • Pengurus masjid dan musala
  • Pondok pesantren
  • Madrasah
  • Sekolah
  • Perguruan tinggi
  • Organisasi kemasyarakatan Islam
  • Komunitas keagamaan
  • Masyarakat umum

Dengan cakupan yang luas tersebut, Kementerian Agama berharap gerakan ini dapat menjadi salah satu kegiatan edukasi keagamaan terbesar yang pernah dilakukan secara serentak di Indonesia.

Cara Melakukan Verifikasi Arah Kiblat Secara Mandiri

Salah satu kelebihan metode Rashdul Kiblat adalah kemudahannya. Masyarakat tidak memerlukan alat ukur yang rumit atau teknologi khusus.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain:

1. Siapkan Benda Tegak Lurus

Gunakan tongkat, bambu, besi, atau benda lain yang dapat berdiri tegak lurus terhadap permukaan tanah.

2. Pilih Lokasi Terbuka

Pastikan lokasi mendapatkan sinar matahari langsung tanpa terhalang bangunan atau pepohonan.

3. Amati pada Waktu yang Ditentukan

Lakukan pengamatan pada 15 atau 16 Juli 2026 tepat pukul 16.27 WIB.

4. Tandai Arah Bayangan

Arah kiblat berada pada garis yang berlawanan dengan arah bayangan benda tersebut.

5. Sesuaikan Posisi Saf atau Penanda Kiblat

Hasil pengamatan dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat masjid, musala, atau ruang salat di rumah.

Baca juga: Anggaran Kemenag 2027 Naik Jadi Rp 41,8 Triliun, Revitalisasi Madrasah dan Insentif Guru Non-ASN Jadi Prioritas

Mengenal Rashdul Kiblat dalam Tradisi Ilmu Falak

Dalam literatur ilmu falak klasik, metode Rashdul Kiblat telah digunakan selama berabad-abad.

Menurut buku Ilmu Falak Praktis karya Slamet Hambali, metode ini termasuk salah satu teknik paling sederhana sekaligus paling akurat untuk menentukan arah kiblat karena memanfaatkan posisi matahari yang pasti secara astronomis.

Sementara dalam buku Pengantar Ilmu Falak karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa fenomena ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah menjadi momentum penting untuk melakukan kalibrasi arah kiblat berbagai bangunan ibadah.

Karena didasarkan pada perhitungan astronomi yang presisi, metode ini banyak digunakan oleh para ahli falak di berbagai negara Muslim.

Bagian dari Peaceful Muharam 1448 Hijriah

Gerakan nasional verifikasi arah kiblat ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 Hijriah yang diselenggarakan Kementerian Agama.

Program tersebut dirancang untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Selain memperingati Tahun Baru Islam, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keagamaan, memperkuat pemahaman ilmu falak, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya ketepatan arah kiblat dalam ibadah.

Cara Mendaftar Gerakan Nasional Verifikasi Arah Kiblat

Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat melakukan pendaftaran melalui tautan resmi yang telah disediakan Kementerian Agama pada program Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Qiblat.

Melalui pendaftaran tersebut, peserta akan memperoleh informasi teknis pelaksanaan kegiatan serta menjadi bagian dari gerakan nasional yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Kementerian Agama mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menyukseskan kegiatan ini dengan mengajak keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, pesantren, maupun pengurus masjid setempat.

Sebab, selain menjadi momentum memperbaiki arah kiblat, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat pemahaman keagamaan, memperkenalkan ilmu falak kepada masyarakat luas, serta mempererat kebersamaan umat Islam di Indonesia.

Pada akhirnya, fenomena Istiwa A’zam bukan sekadar peristiwa astronomi tahunan. Di baliknya terdapat kesempatan berharga untuk memastikan arah kiblat secara akurat sekaligus memahami bagaimana ilmu pengetahuan dan ajaran agama dapat berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Aktual
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Aktual
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Aktual
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Aktual
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Aktual
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Aktual
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Aktual
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Aktual
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Aktual
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Aktual
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa dan Niat
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Aktual
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar