KOMPAS.com – Tidak banyak umat Islam yang menyadari bahwa ada momen tertentu dalam setahun ketika arah kiblat dapat dicek secara mandiri dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi tanpa menggunakan alat canggih.
Momen langka tersebut akan kembali terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 melalui fenomena astronomi yang dikenal sebagai Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.
Pada waktu itu, posisi matahari berada tepat di atas Ka'bah di Kota Makkah. Akibatnya, bayangan benda yang berdiri tegak di berbagai wilayah yang masih mendapatkan sinar matahari dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat yang akurat.
Momentum ini tidak hanya menjadi peristiwa astronomi biasa. Kementerian Agama (Kemenag) menjadikannya sebagai bagian dari gerakan nasional bertajuk Gerakan 1.448.000 Titik Verifikasi Arah Kiblat Nasional: Hari Sejuta Arah Kiblat, yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Program tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 Hijriah, sekaligus sarana edukasi publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arah kiblat dan ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari laman Kementerian Agama, fenomena Istiwa A’zam merupakan peristiwa ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah.
Saat peristiwa tersebut terjadi, seluruh bayangan benda yang tegak lurus terhadap permukaan tanah akan mengarah berlawanan dengan posisi Ka'bah.
Dengan kata lain, arah bayangan dapat dimanfaatkan untuk menentukan arah kiblat secara tepat.
Fenomena ini hanya terjadi dua kali dalam setahun sehingga sering dimanfaatkan para ahli falak, pengelola masjid, pesantren, hingga masyarakat umum untuk melakukan pengecekan ulang arah kiblat.
Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 fenomena tersebut akan terjadi pada:
Pada waktu tersebut masyarakat cukup mengamati bayangan benda yang berdiri tegak lurus di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung.
Baca juga: Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta
Bagi umat Islam, arah kiblat memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi orientasi utama dalam pelaksanaan salat.
Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 144, Allah SWT berfirman:
"Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arah itu."
Karena itu, memastikan ketepatan arah kiblat menjadi bagian dari upaya menyempurnakan pelaksanaan ibadah.
Dalam praktiknya, arah kiblat masjid, musala, maupun rumah ibadah terkadang mengalami pergeseran akibat kesalahan pengukuran awal, renovasi bangunan, atau penggunaan metode yang kurang tepat.
Melalui fenomena Rashdul Kiblat, masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan pengecekan ulang secara sederhana namun memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan bahwa gerakan nasional ini tidak hanya bertujuan memastikan ketepatan arah kiblat, tetapi juga memperluas literasi masyarakat mengenai ilmu falak.
Menurutnya, ilmu falak merupakan salah satu cabang keilmuan Islam yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek ibadah, mulai dari penentuan waktu salat, arah kiblat, awal bulan hijriah, hingga pelaksanaan ibadah haji.
Melalui gerakan ini, masyarakat diajak mengenal bahwa sains dan agama bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan untuk memberikan kemaslahatan bagi umat.
"Kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak. Ini adalah momentum edukasi sekaligus penguatan kualitas ibadah umat," ujar Arsad.
Kementerian Agama menargetkan sedikitnya 1.448.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Angka tersebut dipilih sebagai simbol tahun 1448 Hijriah, sekaligus menjadi identitas gerakan nasional yang diharapkan mampu melibatkan masyarakat secara luas.
Baca juga: Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?
Gerakan ini terbuka untuk berbagai kalangan.
Peserta yang diharapkan ikut berpartisipasi antara lain:
Dengan cakupan yang luas tersebut, Kementerian Agama berharap gerakan ini dapat menjadi salah satu kegiatan edukasi keagamaan terbesar yang pernah dilakukan secara serentak di Indonesia.
Salah satu kelebihan metode Rashdul Kiblat adalah kemudahannya. Masyarakat tidak memerlukan alat ukur yang rumit atau teknologi khusus.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain:
Gunakan tongkat, bambu, besi, atau benda lain yang dapat berdiri tegak lurus terhadap permukaan tanah.
Pastikan lokasi mendapatkan sinar matahari langsung tanpa terhalang bangunan atau pepohonan.
Lakukan pengamatan pada 15 atau 16 Juli 2026 tepat pukul 16.27 WIB.
Arah kiblat berada pada garis yang berlawanan dengan arah bayangan benda tersebut.
Hasil pengamatan dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat masjid, musala, atau ruang salat di rumah.
Dalam literatur ilmu falak klasik, metode Rashdul Kiblat telah digunakan selama berabad-abad.
Menurut buku Ilmu Falak Praktis karya Slamet Hambali, metode ini termasuk salah satu teknik paling sederhana sekaligus paling akurat untuk menentukan arah kiblat karena memanfaatkan posisi matahari yang pasti secara astronomis.
Sementara dalam buku Pengantar Ilmu Falak karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa fenomena ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah menjadi momentum penting untuk melakukan kalibrasi arah kiblat berbagai bangunan ibadah.
Karena didasarkan pada perhitungan astronomi yang presisi, metode ini banyak digunakan oleh para ahli falak di berbagai negara Muslim.
Gerakan nasional verifikasi arah kiblat ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 Hijriah yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Program tersebut dirancang untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Selain memperingati Tahun Baru Islam, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keagamaan, memperkuat pemahaman ilmu falak, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya ketepatan arah kiblat dalam ibadah.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat melakukan pendaftaran melalui tautan resmi yang telah disediakan Kementerian Agama pada program Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Qiblat.
Melalui pendaftaran tersebut, peserta akan memperoleh informasi teknis pelaksanaan kegiatan serta menjadi bagian dari gerakan nasional yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Kementerian Agama mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menyukseskan kegiatan ini dengan mengajak keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, pesantren, maupun pengurus masjid setempat.
Sebab, selain menjadi momentum memperbaiki arah kiblat, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat pemahaman keagamaan, memperkenalkan ilmu falak kepada masyarakat luas, serta mempererat kebersamaan umat Islam di Indonesia.
Pada akhirnya, fenomena Istiwa A’zam bukan sekadar peristiwa astronomi tahunan. Di baliknya terdapat kesempatan berharga untuk memastikan arah kiblat secara akurat sekaligus memahami bagaimana ilmu pengetahuan dan ajaran agama dapat berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang