Editor
KOMPAS.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., menghadiri Dialog Kebangsaan bersama Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-14 Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, baru-baru ini.
Forum yang diprakarsai oleh Pengasuh Ponpes Ora Aji, KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), tersebut menjadi ruang silaturahim sekaligus komunikasi produktif antara ulama dan umara dalam membahas berbagai isu strategis kebangsaan, pesantren, hingga dinamika Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35.
Selain dihadiri Ketua MPR RI sebagai keynote speaker, kegiatan tersebut juga diikuti sekitar 30 pengasuh pesantren besar dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Jalannya diskusi dipandu oleh Gus Ipang Wahid sebagai moderator.
Baca juga: Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin Satukan Misi Jelang Muktamar NU, Apa Itu?
KH Imam Jazuli menjelaskan bahwa forum berlangsung hangat dan terbuka. Para pengasuh pesantren diberikan kesempatan menyampaikan berbagai persoalan, aspirasi, serta harapan terkait masa depan pesantren dan NU.
"Forum ini sangat penting karena mempertemukan para kiai dan pengambil kebijakan negara dalam suasana dialog yang konstruktif. Banyak persoalan strategis pesantren yang dapat disampaikan secara langsung kepada pemerintah," ujar KH Imam Jazuli.
Menurutnya, salah satu isu yang banyak disampaikan para pengasuh pesantren adalah fenomena berkurangnya jumlah santri di sejumlah pesantren, belum terealisasinya dana abadi pesantren, belum terisinya posisi Direktur Jenderal Pesantren, hingga dinamika menjelang Muktamar NU ke-35.
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Muzani menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut pesantren melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Beliau menyampaikan bahwa masyarakat hari ini tidak hanya mencari pendidikan agama, tetapi juga menginginkan kualitas pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan. Karena itu pesantren harus terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas layanan serta mutu pendidikan," kata Kiai Imjaz.
Lebih lanjut, Ketua MPR RI menilai bahwa fenomena yang terjadi saat ini bukan semata-mata penurunan jumlah santri, melainkan adanya pergeseran pilihan masyarakat dari pesantren konvensional menuju pesantren yang mampu menghadirkan inovasi, kualitas pendidikan, pelayanan yang baik, dan jaminan masa depan yang lebih jelas bagi para santri.
KH Imam Jazuli menilai pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pesantren di era modern.
"Pesantren harus tetap menjaga identitas dan tradisinya, namun pada saat yang sama mampu menghadirkan inovasi, kualitas, dan daya saing. Transformasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mengembangkan tradisi agar tetap relevan menjawab kebutuhan zaman," jelasnya.
Terkait berbagai program strategis pemerintah untuk pesantren, Ahmad Muzani juga menyampaikan bahwa realisasi dana abadi pesantren serta penetapan pejabat Dirjen Pesantren masih terus berproses dan menjadi perhatian pemerintah.
Dalam forum tersebut, ia juga menegaskan bahwa pesantren merupakan bagian penting dari wajah Nahdlatul Ulama, sementara NU sendiri merupakan salah satu pilar penting kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Pesantren adalah wajah NU dan NU adalah wajah Indonesia. Karena itu, stabilitas dan kondusivitas pesantren maupun NU menjadi perhatian bersama," tutur KH Imam mengutip penyampaian Ketua MPR RI.
Sementara itu, terkait berkembangnya isu mengenai adanya calon Ketua Umum PBNU yang diklaim memperoleh dukungan dari Istana menjelang Muktamar NU ke-35, Ahmad Muzani memberikan klarifikasi secara tegas.
Menurut KH Imam Jazuli, Ketua MPR RI menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada dukungan resmi Istana kepada calon tertentu dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
"Beliau menyampaikan secara tegas bahwa klaim tersebut tidak benar. Hingga hari ini Istana tidak berada dalam posisi mendukung calon Ketua Umum PBNU tertentu," ungkapnya.
Bagi KH Imam Jazuli, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan kalangan pesantren dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan dan keumatan.
"Ini merupakan pertemuan saya yang ketiga dengan Pak Ahmad Muzani sejak Munas dan Konbes NU. Saya melihat beliau sebagai sosok yang ramah, visioner, dekat dengan para ulama, serta memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan organisasi kemasyarakatan Islam dan dunia pesantren. Komitmen menjaga harmoni antara pemerintah dan ulama juga sangat terasa dalam setiap pertemuan," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang