Penulis
KOMPAS.com — Kesederhanaan tidak menghalangi seseorang menghasilkan karya keilmuan yang menembus batas negara.
Ibnu Harjo Al-Jawi atau akrab disapa Mbah Riyan, ulama asal Kudus, Jawa Tengah, menjadi salah satu penerima MUI Award 2026 setelah karya-karyanya dalam bidang tahqiq kitab klasik mendapat pengakuan hingga tingkat internasional.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Mbah Riyan sebagai penerima MUI Award 2026 kategori Karya Tulis Islam, Minggu (26/7/2026).
Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) KH Masduki Baidlowi mengatakan, sosok Mbah Riyan memiliki latar belakang yang tidak biasa. Di balik kiprahnya menelaah dan menyunting secara kritis kitab-kitab klasik, kesehariannya dikenal sebagai tukang bangunan.
"Ini hanya satu pemenangnya, yaitu seorang ulama dari Kudus, namanya Ibn Harjo Aljawi," kata Masduki sebagaimana disiarkan secara live di MUI TV, Minggu (26/7/2026).
"Sehari-hari, beliau biasa dipanggil dengan Mbah Rian. Beliau memang sehari-harinya menjadi tukang bangunan," sambungnya.
Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Menurut Masduki, di tengah masyarakat Mbah Riyan juga dikenal dengan sebutan Mbah Riyan Al-Mastur, merujuk pada sosok yang memilih menyembunyikan diri dan tidak banyak menampilkan kiprahnya di ruang publik.
Hal itu terlihat ketika MUI mengundangnya secara resmi untuk datang ke Jakarta guna menerima penghargaan. Mbah Riyan memilih tidak hadir.
"Beliau juga sudah kita undang datang ke sini, tetapi tidak berkenan untuk hadir datang ke sini," ujar Masduki.
Meski menjalani kehidupan sederhana sebagai tukang bangunan, Masduki mengatakan nama Ibn Harjo Aljawi dikenal di kalangan internasional melalui karya-karya ilmiahnya.
Ia banyak melakukan tahqiq terhadap kitab-kitab klasik dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk tasawuf dan bidang keilmuan lainnya.
"Jadi Ibn Harjo Aljawi sangat dikenal di dunia internasional, walaupun sehari-harinya dikenal sebagai tukang bangunan, berasal dari Kudus, Jawa Tengah," kata Masduki.
Tahqiq bukan sekadar mencetak ulang atau menyalin kitab lama. Dalam tradisi keilmuan Islam, tahqiq merupakan kerja ilmiah untuk menghadirkan teks sebuah karya sedekat mungkin dengan naskah yang ditulis atau dikehendaki pengarangnya.
Seorang muhaqqiq dapat membandingkan sejumlah manuskrip dan edisi cetak, meneliti perbedaan redaksi, memeriksa kesalahan penyalinan, hingga memberikan catatan yang membantu pembaca memahami teks.
Karena itu, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian sekaligus penguasaan terhadap bahasa Arab, disiplin ilmu yang dibahas dalam kitab, serta tradisi manuskrip dan literatur klasik Islam.
Bidang inilah yang ditekuni Mbah Riyan hingga karya-karyanya beredar dan dikenal di luar Indonesia.
Jejak keilmuan Mbah Riyan juga terlihat dari dokumentasi yang diunggah akun Instagram @maktab_turmusy.
Dalam dokumentasi tersebut, Mbah Riyan tampak membawa dan memaparkan hasil tahqiq terhadap Kitab Tahrir karya Syekhul Islam Zakariya Al-Anshari di hadapan Syekh Abdul Aziz As-Syahawi.
Syekh Abdul Aziz tampak menyimak pemaparan Mbah Riyan mengenai telaah kritis terhadap kitab klasik tersebut.
Momen itu menunjukkan bagaimana kerja ilmiah seorang ulama yang sehari-harinya jauh dari sorotan publik dapat bertemu dengan jejaring keilmuan Islam internasional.
Karya Mbah Riyan juga menyentuh salah satu kitab fikih yang sangat dikenal di kalangan pesantren Indonesia, yakni Fathul Mu'in.
Berdasarkan informasi yang penerbit khusus kitab kuning At-Turmusy yang di dimuat Turmusi.id, telah diterbitkan Kitab Fathul Mu'in yang ditahqiq oleh Ibnu Harjo Al-Jawi atau Mbah Riyan.
Proses penyuntingan kritis tersebut tidak bertumpu pada satu sumber. Hasil penelaahannya dikomparasikan dengan tujuh naskah kitab cetak dan satu manuskrip.
Perbandingan berbagai sumber itu menjadi bagian penting dalam tahqiq untuk menemukan bacaan teks yang paling kuat sekaligus menelusuri kemungkinan perbedaan yang muncul dari proses penyalinan maupun penerbitan selama bertahun-tahun.
Penghargaan MUI Award 2026 menjadi pengakuan terhadap kiprah Mbah Riyan yang selama ini berjalan jauh dari sorotan.
Di satu sisi, ia tetap menjalani kehidupan sehari-hari sebagai tukang bangunan di Kudus. Di sisi lain, ia mengerjakan pekerjaan intelektual yang membutuhkan ketekunan tinggi: meneliti warisan kitab klasik dan menghadirkannya kembali dalam edisi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Baca juga: Berkunjung ke Masjid Khandaq, Saksi Bisu Perjuangan Rasulullah dan Sahabat Saat Perang Khandaq
Kontras itulah yang membuat perjalanan Mbah Riyan menarik. Ia tidak dikenal karena panggung besar atau popularitas di media sosial, melainkan melalui kitab-kitab yang ditelaahnya.
Dari Kudus, kerja sunyi Mbah Riyan dalam menjaga khazanah literatur Islam akhirnya mendapatkan pengakuan, bukan hanya dari MUI, tetapi juga melalui karya-karyanya yang dikenal di lingkungan keilmuan internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang