Editor
SURABAYA, KOMPAS.com - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menilai Jawa Timur layak menjadi laboratorium kerukunan dunia karena memiliki modal sosial yang kuat dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Menurut dia, Jawa Timur merepresentasikan wajah Islam Indonesia yang moderat, nasionalis, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan.
"Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat melalui ulama, pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat yang dapat menjadi kekuatan kerukunan nasional. Dari Jawa Timur kita ingin menunjukkan bahwa Islam yang kuat dapat berjalan bersama nasionalisme yang kuat dan kerukunan yang kuat," kata Nasaruddin saat kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Baca juga: Indonesia Tak Boleh Diacak-acak, Pesan Menag di Zikir Kebangsaan
Dikutip dari laman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (4/8/2026), kegiatan tersebut diikuti sekitar 20.000 jamaah dalam rangkaian istighatsah dan tabligh akbar, serta sekitar 500 peserta Seminar Nasional bertema Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin mengajak para imam masjid mengambil peran lebih luas, tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian dunia.
"Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia," ujarnya.
Ia mengatakan, pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Baca juga: Menag Ingatkan Tak Main Hakim Sendiri Soal LGBT, MUI Siapkan RUU Pidana
Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol M Sabilul Alif, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026.
Menurut dia, forum tersebut mempertemukan ulama, imam masjid, akademisi, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia.
"Bridging to IGIC 2026 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum menyatukan kekuatan imam, ulama, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem perdamaian yang dapat menjadi inspirasi dunia," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia IGIC 2026 Faried F. Saenong mengatakan Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
"Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun harmoni di tengah kemajemukan. Pengalaman inilah yang akan kita hadirkan sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian global melalui IGIC 2026," katanya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan istighatsah dan tabligh akbar yang dipimpin Menteri Agama di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang