Penulis
KOMPAS.com — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memiliki sejarah panjang yang berakar jauh sebelum berdirinya Gontor Baru pada 1926.
Perjalanan pesantren yang berada di Ponorogo, Jawa Timur, ini bermula dari tradisi keilmuan Pondok Tegalsari pada abad ke-18, kemudian berlanjut dengan berdirinya Gontor Lama oleh Kiai Sulaiman Jamaluddin.
Seabad kemudian, tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi, menghidupkan kembali Gontor dengan sistem pendidikan yang memadukan tradisi pesantren dan metode pendidikan modern.
Pada 2026, perjalanan tersebut memasuki usia satu abad sejak berdirinya Gontor Baru pada 20 September 1926.
Sejarah Gontor tidak dapat dilepaskan dari Pondok Tegalsari, salah satu pesantren penting dalam sejarah Islam di Ponorogo.
Menurut sejarah yang dipublikasikan PMDG, Pondok Tegalsari didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari. Ribuan santri pernah belajar di pesantren tersebut.
Baca juga: Kiai Hasan kepada Prabowo: Selama Bapak Husnuzan kepada Gontor, Kami pun Husnuzan
Salah satu santrinya adalah Sulaiman Jamaluddin. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kemudian mendapatkan amanah untuk mendirikan pesantren di sebuah kawasan yang saat itu dikenal sebagai Gontor.
Gontor berada sekitar tiga kilometer di sebelah timur Tegalsari dan sekitar 11 kilometer sebelah tenggara Kota Ponorogo. Pada masa itu, wilayah tersebut masih berupa kawasan yang relatif sepi dan dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penyamun, serta pemabuk.
Dengan sekitar 40 santri sebagai generasi awal, pesantren yang didirikan Kiai Sulaiman Jamaluddin itu berkembang, terutama ketika kepemimpinan berlanjut kepada putranya, Kiai Anom Besari.
Namun, setelah melewati beberapa generasi, Gontor Lama mengalami kemunduran hingga akhirnya tidak lagi berkembang seperti masa kejayaannya.
Harapan untuk menghidupkan kembali Gontor kemudian muncul dari keluarga Kiai Santoso Anom Besari.
Tiga putranya—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi—menempuh pendidikan di berbagai lembaga dan pesantren. Ketiganya kemudian kembali ke Gontor dengan membawa gagasan pembaruan pendidikan.
Mereka kelak dikenal sebagai Trimurti, tiga bersaudara yang menjadi pendiri Gontor Baru.
Keinginan menghidupkan kembali Gontor tidak hanya dimaksudkan untuk mendirikan sebuah pesantren, tetapi juga membangun lembaga pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan umat pada zaman modern.
Dalam kajian akademik yang diterbitkan UNIDA Gontor, kelahiran Gontor Baru disebut berlangsung dalam suasana pertemuan antara tradisi pesantren dengan gagasan modernisasi pendidikan Islam. Sistem pendidikan yang dikembangkan tetap mempertahankan nilai dan jiwa pesantren, tetapi menggunakan metode pendidikan yang dianggap lebih efektif dan sistematis.
Pondok Modern Darussalam Gontor secara resmi mencatat tanggal 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 H, sebagai hari berdirinya Gontor Baru.
Pendirian tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pada tahap awal, pendidikan yang diselenggarakan bernama Tarbiyatul Athfal, yaitu lembaga pendidikan dasar yang menjadi cikal bakal sistem pendidikan Gontor.
Dari sinilah perjalanan Gontor Baru dimulai.
Menariknya, sumber resmi Gontor juga mencatat bahwa pada masa awal, jumlah santri dan kondisi pesantren belum menunjukkan gambaran seperti Gontor sekarang.
Perubahan besar justru terjadi ketika sistem pendidikan baru yang dirancang para Trimurti mulai diterapkan.
Salah satu latar belakang penting lahirnya gagasan pendidikan Gontor adalah pengalaman KH Ahmad Sahal dalam Kongres Umat Islam di Surabaya pada 1926.
Dalam forum tersebut, umat Islam Indonesia membahas pengiriman utusan ke Muktamar Islam sedunia di Makkah.
Persoalannya, utusan yang dikirim membutuhkan kemampuan bahasa Arab dan Inggris. Saat itu, tokoh yang menguasai kedua bahasa tersebut secara bersamaan sangat terbatas.
Akhirnya, KH Mas Mansur dipilih karena menguasai bahasa Arab, sedangkan HOS Tjokroaminoto dipilih karena menguasai bahasa Inggris.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi KH Ahmad Sahal dan kedua saudaranya untuk membangun lembaga pendidikan yang melahirkan kader umat dengan kemampuan keislaman sekaligus penguasaan bahasa dan ilmu pengetahuan.
Gontor kemudian menempatkan bahasa Arab dan Inggris sebagai bagian penting dari sistem pendidikannya.
Bahasa Arab dipandang penting untuk mengakses khazanah keislaman, sementara bahasa Inggris digunakan sebagai sarana untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 19 Desember 1936, ketika KH Imam Zarkasyi mendirikan Kulliyyatu-l-Mu'allimin al-Islamiyyah (KMI).
KMI merupakan pendidikan tingkat menengah dengan masa pendidikan enam tahun yang dirancang untuk mencetak guru-guru Islam.
Sistem ini memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum dengan kehidupan pesantren. Salah satu cirinya adalah penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengajaran dalam sejumlah pelajaran, bukan sekadar sebagai mata pelajaran.
Pendirian KMI menjadi salah satu titik penting dalam transformasi Gontor dari sebuah pesantren yang baru bangkit menjadi lembaga pendidikan dengan sistem yang lebih terstruktur.
Namun, pembaruan tersebut tidak langsung diterima semua pihak.
Sumber resmi Gontor mencatat bahwa ketika sistem baru diterapkan, jumlah santri bahkan sempat turun hingga hanya tersisa 16 orang. Kondisi itu tidak membuat para pendiri menghentikan program pendidikan mereka.
Sejak awal, cita-cita Trimurti tidak berhenti pada pendidikan menengah.
Pada 1942, didirikan pendidikan lanjutan yang disebut Underbow dan Bovenbow. Lembaga tersebut dimaksudkan sebagai kelanjutan pendidikan bagi lulusan KMI.
Namun, situasi penjajahan dan perang membuat program tersebut tidak dapat dilanjutkan.
Cita-cita mendirikan pendidikan tinggi kemudian terus dikembangkan setelah Indonesia merdeka.
Pada 1963, Gontor mendirikan Perguruan Tinggi Darussalam (PTD). Lembaga ini kemudian mengalami perubahan nama menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), lalu Institut Studi Islam Darussalam (ISID), dan pada perkembangan berikutnya menjadi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor).
Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Gontor terjadi pada 12 Oktober 1958.
Pada momentum Peringatan Empat Windu, Trimurti mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam.
Dengan wakaf tersebut, Gontor tidak lagi diposisikan sebagai milik pribadi keluarga pendirinya, melainkan sebagai lembaga yang diperuntukkan bagi umat Islam.
Dokumen sejarah UNIDA Gontor menyebut Piagam Penyerahan Wakaf 1958 menegaskan cita-cita agar Gontor dikembangkan menjadi universitas Islam dan pusat pengkajian Islam serta bahasa Arab.
Langkah tersebut sekaligus menjadi mekanisme regenerasi kelembagaan agar keberlangsungan Gontor tidak bergantung kepada kehidupan satu generasi pendiri.
Setelah pewakafan, pengembangan pondok kemudian diarahkan melalui Panca Jangka, yang mencakup pendidikan dan pengajaran, kaderisasi, pergedungan, pengadaan sumber dana, serta kesejahteraan keluarga pondok.
Selain Panca Jangka sebagai kerangka pengembangan kelembagaan, Gontor memiliki Panca Jiwa sebagai nilai dasar kehidupan pesantren.
Lima nilai tersebut adalah:
1. Keikhlasan
2. Kesederhanaan
3. Berdikari
4. Ukhuwah Islamiyah
5. Jiwa bebas
Menurut PMDG, seluruh kehidupan di pondok didasarkan pada nilai-nilai tersebut.
Keikhlasan berarti berbuat tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. Kesederhanaan bukan berarti kemiskinan, melainkan hidup sesuai kebutuhan dan kewajaran. Berdikari menekankan kemandirian, sedangkan ukhuwah Islamiyah menjadi dasar hubungan antarwarga pondok. Sementara jiwa bebas diarahkan agar santri mampu menentukan jalan perjuangan dengan tetap berlandaskan nilai Islam.
Nilai-nilai tersebut kemudian tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi diupayakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari santri.
Salah satu ciri yang membedakan sistem Gontor adalah pandangan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
PMDG menjelaskan bahwa seluruh kehidupan pondok menjadi media pendidikan. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dikerjakan, dan dialami santri diarahkan menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian.
Karena itu, pendidikan Gontor mencakup kegiatan akademik, organisasi, olahraga, kesenian, bahasa, kepemimpinan, kedisiplinan, hingga kehidupan bersama di asrama.
Pendekatan tersebut sejalan dengan cita-cita pendirinya untuk membentuk pribadi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga berkarakter, mandiri, sehat, berpikiran luas, dan mampu berkhidmat kepada masyarakat.
Dalam perkembangannya, Gontor tidak hanya tumbuh sebagai satu kompleks pesantren di Ponorogo.
PMDG kemudian mengembangkan sejumlah kampus dan sistem pendidikan yang menjadi bagian dari jaringan Gontor. Pada saat yang sama, alumni Gontor juga mendirikan berbagai lembaga pendidikan di sejumlah daerah.
Sumber resmi Gontor menyebut keberadaan belasan kampus cabang serta puluhan pondok alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jejak tersebut membuat sejarah Gontor tidak hanya dapat dilihat dari perkembangan fisik kampus induknya, tetapi juga dari jaringan alumni dan lembaga pendidikan yang lahir dari tradisi pendidikan Gontor.
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor
Tahun 2026 menjadi momentum penting karena Gontor memasuki satu abad sejak berdirinya Gontor Baru pada 1926.
PMDG menyelenggarakan rangkaian program peringatan 100 tahun yang berlangsung selama tiga tahun, 2024-2026.
Momentum satu abad tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan Gontor: dari pesantren yang dibangun kembali oleh tiga bersaudara, berkembang menjadi lembaga pendidikan modern, mewakafkan diri kepada umat, dan terus mengembangkan sistem pendidikan berbasis nilai pesantren.
Bagi Gontor, perjalanan satu abad bukan hanya tentang usia sebuah lembaga.
Ia juga merupakan sejarah tentang bagaimana sebuah gagasan pendidikan dipertahankan, diwariskan, dan dikembangkan melalui sistem, kaderisasi, wakaf, serta nilai-nilai yang dirumuskan para pendirinya.
Dari Gontor Lama yang berakar dari tradisi Tegalsari, Gontor Baru kemudian tumbuh melalui gagasan Trimurti. Pendidikan agama dipertemukan dengan ilmu pengetahuan, bahasa Arab dan Inggris, kehidupan berasrama, kedisiplinan, kemandirian, dan kaderisasi.
Satu abad kemudian, jejak tersebut menjadikan Gontor sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan pesantren modern di Indonesia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.