KOMPAS.com - Husnuzan, tawadhu, dan qanaah sama-sama termasuk akhlak terpuji dalam Islam, tetapi ketiganya memiliki makna berbeda.
Husnuzan berkaitan dengan cara memandang orang lain, tawadhu berkaitan dengan sikap rendah hati, sedangkan qanaah berkaitan dengan penerimaan hati terhadap rezeki Allah.
Ketiga istilah tersebut kerap digunakan dalam nasihat keagamaan sehingga maknanya mudah tertukar.
Padahal, memahami perbedaannya membantu seorang Muslim menerapkan akhlak tersebut secara tepat, baik ketika berhubungan dengan orang lain maupun ketika menghadapi keadaan hidup.
Husnuzan berasal dari husn az-zann yang berarti berprasangka baik. Dalam hubungan sosial, sikap ini mendorong seseorang tidak terburu-buru menilai buruk orang lain tanpa dasar yang jelas.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Yā ayyuhalladzīna āmanū ijtanibū katsīran minazh-zhanni inna ba‘dhazh-zhanni itsmun.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” (QS Al-Hujurat: 12).
Baca juga: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Ayat ini tidak berarti semua dugaan harus diterima sebagai benar. Seorang Muslim justru diminta menghindari prasangka yang tidak berdasar karena dapat mendorong seseorang mencari kesalahan dan merusak hubungan dengan sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Iyyākum wazh-zhann, fa innazh-zhanna akdzabul-hadīts, wa lā tahassasū, wa lā tajassasū, wa lā tahāsadū, wa lā tadābarū, wa lā tabāghadhū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikhwanā.
Artinya: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan saling dengki, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Sahih al-Bukhari 6064).
Baca juga: Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Hadis tersebut menunjukkan bahwa husnuzan berkaitan erat dengan menjaga hubungan sosial. Berprasangka baik bukan berarti menutup mata terhadap fakta, melainkan tidak menetapkan keburukan seseorang hanya berdasarkan dugaan.
Tawadhu berarti rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Al-Qur’an menggambarkan hamba-hamba Ar-Rahman sebagai orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati serta merespons orang yang jahil dengan perkataan yang baik.
Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Wa ‘ibādur-Rahmānilladzīna yamsyūna ‘alal-ardhi haunan wa idzā khāthabahumul-jāhilūna qālū salāmā.
Artinya: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘salām’.” (QS Al-Furqan: 63).
Baca juga: Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Tawadhu bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak memiliki kemampuan. Sikap ini terlihat ketika seseorang tidak menjadikan ilmu, kedudukan, harta, atau pencapaian sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dilansir melalui laman Muhammadiyah, tawadhu dikaitkan dengan menjauhi kesombongan dan menghargai sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Wa mā tawādha‘a ahadun lillāhi illā rafa‘ahullāh.
Artinya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (Sahih Muslim 2588).
Hadis ini menunjukkan keutamaan tawadhu dalam Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat diterapkan dengan mau menerima nasihat, menghargai orang lain, dan tidak menjadikan pencapaian sebagai alasan untuk meremehkan sesama.
Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Berbeda dari husnuzan dan tawadhu, qanaah berkaitan dengan sikap hati terhadap apa yang dimiliki. Qanaah berarti merasa cukup terhadap bagian yang Allah berikan, tanpa menjadikan banyaknya harta sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Laisal-ghinā ‘an katsratil-‘aradh, wa lākinna al-ghinā ghinān-nafs.
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (Sahih Muslim 1051).
Hadis ini menjelaskan bahwa kecukupan tidak hanya ditentukan jumlah harta. Qanaah juga bukan berarti berhenti berusaha. Seseorang tetap dapat bekerja dan memperbaiki kehidupannya, tetapi tidak membiarkan keinginan memiliki lebih banyak menghilangkan rasa syukur.
Baca juga: Gus Baha: Berketuhanan Harus Membuat Kita Adil dan Menghormati yang Berbeda
Perbedaan ketiga akhlak tersebut dapat dilihat dari objek sikapnya. Husnuzan mengatur cara seseorang memandang atau menilai orang lain, tawadhu mengatur sikap diri ketika berhadapan dengan sesama, sedangkan qanaah mengatur sikap hati terhadap rezeki dan keadaan yang diterima.
Ketiganya dapat diterapkan secara bersamaan. Ketika melihat keberhasilan orang lain, seseorang dapat berhusnuzan dengan tidak mencurigai niatnya, bertawadhu dengan tidak merasa lebih tinggi, dan memiliki qanaah dengan tetap mensyukuri rezeki yang dimiliki.
Dengan memahami perbedaannya, husnuzan tidak berubah menjadi sikap mudah percaya, tawadhu tidak berubah menjadi merendahkan diri, dan qanaah tidak menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Ketiganya dapat menjadi pedoman untuk menjaga hubungan dengan manusia sekaligus menata hati dalam menjalani kehidupan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.