Penulis
KOMPAS.com - Isra Mi'raj menjadi salah satu peristiwa bersejarah dalam perkembangan agama Islam. Momen ini terjadi saat dakwah mengalami fase yang sangat berat. Peristiwa Isra Mi'raj menjadi penguat dalam perjuangan.
Isra Mi'raj adalah peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Madinah. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke langit ketujuh untuk bersua dibalik tabir dengan Allah SWT.
Peristiwa isra Mi'raj dilatar belakangi kondisi Rasulullah SAW yang sedang menghadapi masa-masa berat dalam dakwah. Saking beratnya, hingga tahun tersebut disebut dengan amul huzni atau tahun duka cita.
Baca juga: Isra Miraj Itu Apa? Ini Penjelasan Lengkap Peristiwa Agung yang Diperingati Januari 2026
Ada tiga peristiwa yang membuat Rasulullah merasakan duka cita mendalam, yaitu:
Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad SAW. Ia adalah pelindung utama selama dakwah berlangsung. Wafatnya Abu Thalib membawa duka cita yang mendalam. Salah satu pilar yang mendukung dakwahnya telah tiada.
Ditambah lagi, Abu Thalib tidak mau memeluk agama yang dibawanya hingga meninggal. Hal ini membuat Rasulullah SAW tidak dapat menolongnya dari siksa neraka di akhirat.
Khadijah adalah istri yang sangat setia mendampingi dakwah Nabi Muhammad SAW. Ia memberikan semangat dan memotivasi untuk tidak lelah dalam berdakwah. Kehadirannya menguatkan dan membawa ketenangan.
Wafatnya Khadijah membuat Nabi merasakan kehilangan yang teramat sangat. Salah satu pilar yang menyokong dakwahnya telah tiada.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj: Sejarah Agung Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Jadwal Peringatan 2026
Dakwah di Mekkah menemui jalan buntu. Blokade dan penentangan terhadap dakwah semakin keras. Dakwah Islam sulit berkembang di Mekkah.
Nabi Muhammad SAW kemudian mencoba mencari lahan dakwah lain. Nabi Muhammad SAW didampingi anak angkatnya, Zaid bin Haritsah, menuju Thaif untuk mendakwahkan Islam. Namun bukan penerimaan yang diterima, tetapi penolakan dan penghinaan yang keras.
Saat berada di Thaif, Nabi Muhammad SAW dan Zaid bin Haritsah diusir dan dilempari dengan batu sampai gigi Rasulullah SAW berdarah.
Tiga peristiwa itu membuat Nabi berada dalam duka cita mendalam. Untuk itulah Allah SWT memberikan penguatan dengan peristiwa Isra Mi'raj.
Inilah kronologi lengkap peristiwa Isra Mi'raj dari awal keberangkatan hingga kembali lagi ke Mekkah.
Persiapan Isra Mi'raj dimulai ketika Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah SAW. Malaikat Jibril kemudian membelah dada Nabi, mengambil jantung (hati) untuk dibersihkan dengan air zamzam, dimasukkan iman dan hikmah, kemudian dikembalikan ke tempat semula.
Di luar Masjidil Haram, Malaikat Jibril sudah menyediakan kendaraan bernama buraq. Ia sejenis kuda dengan ukuran sedang dan mempunyai sayap untuk terbang.
Baca juga: Latar Belakang Isra Miraj: Rihlah Bagi Jiwa yang Dilanda Duka
Setelah persiapan selesai, Rasulullah SAW diberangkatkan menuju Masjidil Aqsha di Palestina mengendarai buraq. Sebelum sampai di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad SAW singgah di tiga tempat, yaitu:
Sesampainya di Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW menjadi imam sholat bagi para Nabi dan Rasul. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW adalah penutup dan penghulu para Nabi dan Rasul.
Rangkaian perjalanan dilanjutkan menuju langit ke tujuh. Selama perjalanan, Rasulullah SAW dipertemukan dengan para Nabi di setiap tingkatan langit.
Setiap Nabi memberikan penghormatan dan penguatan terhadap tugas mengemban risalah yang sedang dijalani Rasulullah SAW.
Baca juga: Kisah Isra Mi’raj 2026: 27 Rajab 1447 H Jatuh 16 Januari, Ini Makna dan Hikmahnya
Puncak perjalanan Rasulullah SAW saat tiba di Sidratul Muntaha. Sidraha artinya pohon bidara dan muntaha artinya terakhir. Sidratul Muntaha adalah batas terakhir yang bisa dicapai makhluk Allah SWT.
Di tempat tersebut, Rasulullah SAW menerima perintah untuk mengerjakan sholat. Semula sholat wajib berjumlah 50 waktu. Namun berkat nasehat Nabi Musa, jumlah waktu dikurangi hingga berjumlah 5 waktu yang nilainya sama dengan 50 waktu.
Setelah selesai melakukan perjalanan Mi'raj, Rasulullah SAW kembali ke Mekkah. Peristiwa Isra Mi'raj itu hanya terjadi dalam satu malam saja.
Keesokan harinya, Rasulullah SAW menceritakan peristiwa Isra Mi'raj kepada penduduk Mekkah. Banyak yang tidak mempercayai kisah tersebut. Bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad.
Untunglah tampil Abu Bakar. Ia dengan penuh keimanan membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyatakan bahwa selalu membenarkan apapun yang dikatakan Rasulullah SAW. Hal ini membuat sebagian besar umat Islam kembali kepada keimanan dan tidak sedikitpun meragukan Rasulullah SAW.
Atas perannya tersebut, Abu Bakar mendapat Gelar Ash Shiddiq, yaitu orang yang selalu mebenarkan perkataan Rasulullah SAW.
Baca juga: Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Belajar Keteguhan Iman dari Abu Bakar di Peristiwa Isra Miraj
Peristiwa Isra Mi'raj memberikan hikmah yang luar biasa bagi perjalanan dakwah dan keimanan. Berikut beberapa hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Isra Mi'raj:
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi tonggak penting dalam perkembangan Islam. Peristiwa ini menjadi ujian keimanan sekaligus kabar gembira akan datangnya perintah sholat.
Sholat menjadi poin penting dalam peristiwa Isra Mi'raj. Sholat menjadi ibadah utama dan sarana meminta pertolongan Allah SWT.
Bagi umat Islam saat ini, peristiwa Isra Mi'raj menjadi peristiwa luar biasa yang dapat meneguhkan keimanan bagi yang mau mempelajari dan mengambil hikmahnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang