Editor
KOMPAS.com-Bulan Sya’ban menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak dzikir sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadhan. Pertanyaannya, bacaan dzikir apa saja yang paling dianjurkan pada bulan ini?
Dilansir dari MUI, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftahul Huda, menjelaskan bahwa terdapat beberapa bacaan dzikir utama yang dianjurkan untuk diamalkan selama bulan Sya’ban.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
KH Miftahul Huda menyebutkan, dzikir pertama yang dianjurkan adalah membaca istighfar sebagai bentuk permohonan ampun dan tobat kepada Allah SWT.
Bacaan istighfar tersebut adalah:
أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullah wa atubu ilaih
Artinya, Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.
Dzikir kedua adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wujud cinta dan penghormatan kepada Rasulullah.
Dzikir ketiga mencakup bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang sering dirangkai dalam satu lafaz dzikir.
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar
Artinya, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar.
Dzikir keempat adalah membaca kalimat tauhid sebagai inti dari keimanan seorang Muslim.
لآإِلَهَ إِلاَّ الله
Artinya, Tiada Tuhan selain Allah.
Baca juga: Adab Bangun Tidur Menurut Imam Al Ghazali, Lengkap dengan Doa dan Dzikir
Selain bacaan dzikir, KH Miftahul Huda juga menguraikan sejumlah keutamaan memperbanyak dzikir pada bulan Sya’ban.
Keutamaan pertama berkaitan dengan keteladanan Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan yang banyak diisi ibadah oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk puasa sunnah.
Dalam sebuah hadis, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dialognya dengan Rasulullah SAW:
عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Hadis tersebut diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ahmad.
KH Miftahul Huda menjelaskan, apabila puasa sunnah dianjurkan pada bulan Sya’ban, maka dzikir sebagai bentuk ibadah lain juga sangat dianjurkan untuk diamalkan.
Keutamaan kedua, Sya’ban dipandang sebagai bulan persiapan menuju Ramadhan. Pembiasaan dzikir dan ibadah sejak Sya’ban dinilai dapat membantu umat Islam memasuki Ramadhan dengan kondisi spiritual yang lebih matang.
Baca juga: Doa dan Dzikir Saat Galau: Lengkap Teks Arab, Latin, dan Terjemahannya
Keutamaan ketiga berkaitan dengan malam Nishfu Sya’ban. Dalam sejumlah riwayat, malam pertengahan Sya’ban disebut sebagai waktu yang sarat dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Momentum ini mendorong umat Islam untuk memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa.
Keutamaan keempat adalah dampak dzikir terhadap ketenangan batin dan penghapusan dosa. Dzikir dipandang sebagai sarana terbaik untuk mengingat Allah dan menenangkan hati.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Al-ladziina aamanuu wa tatma'innu quluubuhum bidzikrillahi, alaa bidzikrillahi tatma'innul quluub
Artinya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Melalui dzikir yang konsisten di bulan Sya’ban, umat Islam diharapkan dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempersiapkan diri secara lahir dan batin menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang