KOMPAS.com - Bulan Syaban menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah Syaban. Agar ibadah tersebut sah dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT, niat menjadi syarat utama yang tidak boleh diabaikan.
Dalam Islam, niat bukan sekadar ucapan, tetapi tekad hati yang membedakan antara aktivitas ibadah dan rutinitas biasa.
Karena itu, memahami niat puasa Syaban beserta keutamaannya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan.
Dalam buku Kemuliaan Bulan Sya’ban karya Ustaz Abu Ghozie as-Sundawie dijelaskan bahwa Syaban merupakan bulan yang penuh limpahan rahmat.
Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu ampunan, menurunkan pertolongan-Nya, serta memberikan kesempatan besar bagi hamba-Nya untuk membersihkan diri dari dosa.
Syaban juga berada di antara dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan. Posisi ini menjadikan Syaban sebagai jembatan spiritual yang mempersiapkan umat Islam agar lebih siap secara fisik dan mental dalam menjalani ibadah puasa wajib.
Baca juga: Puasa Syaban, Ibadah Sunnah yang Dicintai Rasulullah Menjelang Ramadan
Kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan Syaban menjadi dalil utama dianjurkannya amalan ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA disebutkan:
“Nabi Muhammad SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasa di bulan Syaban.” (HR Bukhari)
Hadis lain yang diriwayatkan Ummu Salamah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bahkan sering menyambung puasa Syaban dengan Ramadan.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa Syaban bukan sekadar ibadah sunnah biasa, tetapi memiliki nilai strategis sebagai latihan ruhani sebelum memasuki bulan suci.
Dalam buku Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab dan Sya’ban karya Dra. Udji Asiyah dijelaskan bahwa puasa Syaban berfungsi sebagai pengantar ibadah Ramadan, agar tubuh dan jiwa tidak mengalami perubahan mendadak ketika memasuki kewajiban puasa.
Dalam kajian fikih, niat merupakan rukun puasa. Tanpa niat, puasa dianggap tidak sah. Dalam kitab Fathul Qarib karya Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi dijelaskan bahwa niat adalah kesengajaan hati untuk melakukan ibadah tertentu demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Untuk puasa sunnah seperti Syaban, niat dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum waktu zawal (matahari tergelincir), selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Berikut bacaan niat puasa Syaban yang umum diamalkan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ شَهْرٍ شَعْبَانَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin min syahri Sya‘bāna sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari dari bulan Syaban sunnah karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Mengetuk Pintu Ampunan di Bulan yang Sering Terlupakan
Puasa Syaban sering digabungkan dengan puasa sunnah rutin seperti Senin dan Kamis.
Niat Puasa Senin
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Kamis
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumil khamīsi lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis karena Allah Ta’ala.”
Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ayyāmil bīdh lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Ta’ala.”
Puasa Nisfu Syaban dilakukan pada tanggal 15 Syaban. Berikut niat yang dapat dibaca pada malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Syaban esok hari karena Allah SWT.”
Jika lupa berniat malam hari, niat dapat dilakukan siang hari sebelum zawal:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an adā’i sunnati Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Syaban hari ini karena Allah SWT.”
Baca juga: Amalan Syaban: Persiapan Spiritual Menyambut Ramadan
Dalam buku Ternyata Shalat dan Puasa Sunnah Dapat Mempercepat Kesuksesan karya Ceceng Salamudin, dijelaskan bahwa puasa Syaban memiliki sejumlah keutamaan penting.
Puasa Syaban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dimensi pendidikan spiritual. Dengan membiasakan diri menahan lapar, menjaga lisan, dan mengendalikan hawa nafsu sejak Syaban, umat Islam dapat memasuki Ramadan dengan kesiapan yang lebih matang.
Puasa Syaban menjadi momentum untuk memperbaiki niat, memperkuat disiplin ibadah, serta membangun kebiasaan baik yang akan dilanjutkan di bulan suci.
Niat puasa Syaban menjadi pintu awal sahnya ibadah sunnah yang penuh keutamaan ini. Dengan memahami bacaan niat, dalil, serta hikmah di balik puasa Syaban, umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih sadar dan bermakna.
Syaban bukan sekadar bulan pengantar, tetapi ruang persiapan spiritual agar Ramadan dapat dijalani dengan kualitas ibadah yang lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih istiqamah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang