KOMPAS.com - Malam Nisfu Syaban kerap disebut sebagai salah satu malam istimewa dalam kalender hijriah.
Malam pertengahan bulan Syaban ini dipercaya sebagian umat Islam sebagai momentum spiritual untuk memperbanyak doa, istighfar, dan shalat sunnah.
Namun di balik antusiasme masyarakat, praktik shalat Nisfu Syaban juga memunculkan perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Lalu bagaimana sebenarnya niat shalat Nisfu Syaban? Apa dasar amalan ini, bagaimana tata caranya, dan bagaimana sikap moderat yang dapat diambil umat Islam? Berikut ulasan lengkapnya.
Secara bahasa, nisfu berarti pertengahan. Nisfu Syaban merujuk pada malam tanggal 15 bulan Syaban.
Dalam tradisi Islam Nusantara, malam ini sering diisi dengan pengajian, pembacaan Yasin, doa bersama, dan shalat sunnah.
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya KH. Ahmad Zainuddin (2021), dijelaskan bahwa Syaban merupakan bulan persiapan menuju Ramadan.
Rasulullah SAW sendiri dikenal memperbanyak puasa sunnah di bulan ini sebagai bentuk persiapan spiritual.
Aisyah RA meriwayatkan:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah selain di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat bahwa Syaban memiliki nilai ibadah yang tinggi.
Baca juga: Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad untuk yang Punya Utang Puasa
Pembahasan shalat Nisfu Syaban tidak lepas dari perbedaan pendapat ulama. Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya’ Ulumuddin menyebut adanya praktik shalat khusus di malam Nisfu Syaban yang dilakukan oleh sebagian generasi terdahulu.
Ia menuliskan bahwa sebagian salaf melaksanakan shalat malam Nisfu Syaban dengan jumlah rakaat tertentu dan bacaan surah Al-Ikhlas yang diperbanyak.
Namun pendapat ini dikritik oleh ulama hadis seperti Imam An-Nawawi. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, An-Nawawi menegaskan bahwa shalat khusus Rajab dan Syaban tidak memiliki dasar hadis sahih yang kuat.
Pendapat serupa juga dikemukakan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-I’tibar fi Hamlil Asfar. Ia menyebut sebagian hadis tentang tata cara shalat Nisfu Syaban tergolong maudhu’ atau palsu.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan shalat Nisfu Syaban bukan sekadar ritual, tetapi juga menyangkut metodologi penetapan hukum dalam Islam.
Sejumlah ulama kontemporer mengambil sikap moderat. Dalam buku Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah karya Abu Ubaidah Yusuf dan Abu Abdillah Syahrul Fatwa, dijelaskan bahwa meskipun shalat dengan tata cara khusus diperselisihkan, menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah umum tetap dianjurkan.
Bentuk ibadah tersebut meliputi:
Dengan niat ibadah umum, umat Islam tetap mendapatkan keutamaan tanpa terjebak pada perdebatan hukum amalan khusus.
Baca juga: Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Bagi umat yang memilih melaksanakan shalat sunnah Nisfu Syaban, berikut niat yang biasa dibaca sebagaimana dilansir dari laman NU:Jabar
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallī sunnata nisfi Syabāna rak‘ataini lillāhi ta‘ālā
Artinya “Aku niat shalat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Sebagian ulama menganjurkan niat shalat sunnah mutlak sebagai alternatif yang lebih aman dari sisi dalil.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebut dua pola pelaksanaan shalat Nisfu Syaban yang dikenal di masyarakat klasik:
Pertama, shalat 100 rakaat, dilakukan dengan salam setiap dua rakaat. Pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah dibaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 11 kali.
Kedua, shalat 10 rakaat dengan bacaan Al-Ikhlas sebanyak 100 kali di setiap rakaat.
Namun dalam praktik kontemporer, banyak ulama menganjurkan format yang lebih sederhana, yaitu shalat sunnah dua atau empat rakaat seperti shalat sunnah pada umumnya, dengan bacaan surah bebas.
Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan prinsip kehati-hatian dalam ibadah.
Salah satu doa yang populer dibaca pada malam Nisfu Syaban adalah doa permohonan ampun dan perbaikan takdir. Berikut potongan doa yang sering diamalkan:
Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fis-sijilli syaqiyyan aw mahrūman fa’mhu Allāhumma syaqāwatī wa hirmānī, waktubnī sa‘īdan marzūqan.
Artinya “Ya Allah, jika Engkau mencatat aku sebagai orang celaka atau terhalang rezeki, maka hapuslah catatan itu dan tetapkan aku sebagai hamba yang bahagia dan diberi rezeki.”
Doa ini mengandung makna pengharapan agar Allah memberikan perubahan hidup yang lebih baik.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Doa Nisfu Syaban sering dikaitkan dengan ayat berikut:
QS. Ar-Ra’d ayat 39
Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb
Artinya “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Di sisi-Nya terdapat Lauh Mahfuzh.”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa atas ketetapan-Nya, sekaligus membuka ruang harapan bagi manusia untuk terus berdoa dan memperbaiki diri.
Shalat Nisfu Syaban dikerjakan pada malam tanggal 15 Syaban, dimulai setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh.
Karena sistem kalender hijriah berganti saat matahari terbenam, pelaksanaannya dimulai pada malam hari sebelumnya.
Menurut kalender resmi Kementerian Agama RI, Nisfu Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Artinya, malam Nisfu Syaban dimulai pada Senin malam, 2 Februari 2026.
Lebih dari sekadar ritual, Nisfu Syaban menjadi momentum refleksi spiritual. Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Ibn Rajab Al-Hanbali, dijelaskan bahwa bulan Syaban adalah waktu membersihkan hati sebelum memasuki Ramadan.
Shalat, doa, dan istighfar pada malam Nisfu Syaban seharusnya dimaknai sebagai proses memperbaiki hubungan dengan Allah, bukan sekadar mengejar keutamaan simbolik.
Shalat Nisfu Syaban memang berada di wilayah perbedaan pendapat. Namun esensi utama malam pertengahan Syaban tetap sama yaitu memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan mempersiapkan jiwa menyambut Ramadan.
Dengan pemahaman yang utuh, umat Islam dapat menjalani Nisfu Syaban secara bijak, ilmiah, dan penuh makna spiritual.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang