Editor
KOMPAS.com - Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Namun syariat memberi keringanan ketika seseorang sakit, bepergian, haid, nifas, atau memiliki uzur lain yang dibenarkan.
Dalam kondisi itu, puasa boleh ditinggalkan, tetapi wajib diganti (qadha) di hari lain setelah Ramadhan.
Agar qadha puasa sah, ada tiga hal penting yang harus dipahami: dalil kewajibannya, lafal niatnya, dan waktu niatnya.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan Lengkap dengan Tata Cara dan Waktu
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 184:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa uzur membolehkan tidak berpuasa di Ramadhan, tetapi kewajiban puasanya tetap harus dibayar di luar bulan Ramadhan.
Dari Aisyah RA, beliau berkata:
“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadhan, maka aku tidak mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa qadha puasa adalah kewajiban yang tetap harus ditunaikan setelah uzur selesai.
Berikut lafal niat qadha puasa Ramadhan yang diajarkan dalam literatur fikih:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Arti:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Versi ringkas yang juga dikenal luas:
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha'i Ramadhona lillahi ta'ala.
Arti:
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Dalam mazhab Syafi’i yang menjadi pedoman mayoritas Muslim Indonesia, niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
Karena qadha termasuk puasa wajib, maka niatnya wajib dilakukan sebelum Subuh.
Penjelasan ini juga ditegaskan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitabnya:
وَيُشْتَرَطُ لِفَرْضِ الصَّوْمِ مِنْ رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِهِ كَقَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ التَّبْيِيتُ، وَهُوَ إِيقَاعُ النِّيَّةِ لَيْلًا، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. وَلَا بُدَّ مِنَ التَّبْيِيتِ لِكُلِّ يَوْمٍ لِظَاهِرِ الْخَبَرِ
Artinya:
“Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.” (Hasyiyatul Iqna’, juz II)
Menyegerakan qadha puasa bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang besar:
Puasa qadha adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Dengan memahami dalil Al-Qur’an, hadis, serta doa dan niat membayar utang puasa Ramadhan yang benar, setiap Muslim dapat menjalankan ibadah ini dengan tenang dan sesuai tuntunan syariat.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan: Bacaan, Waktu Niat, dan Dalilnya dalam Islam
Semoga Allah memudahkan kita menunaikan seluruh kewajiban ibadah dan menerima amal kita. Aamiin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang