KOMPAS.com - Ramadhan selalu datang membawa harapan. Harapan akan ampunan, ketenangan batin, dan kesempatan memulai ulang perjalanan spiritual.
Namun sebelum menata jadwal sahur, tarawih, dan tilawah, Islam mengajarkan satu persiapan yang sering luput disadari, yaitu membersihkan hati dari dendam dan luka batin melalui sikap saling memaafkan.
Memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dijalani. Ada luka yang tertinggal, kata-kata yang membekas, dan perasaan tidak adil yang sulit dilupakan.
Meski demikian, Islam menempatkan memaafkan sebagai kunci pembuka rahmat Allah, terlebih ketika seorang Muslim hendak memasuki bulan suci Ramadhan.
Baca juga: Ramadhan 1447 H Bertepatan Musim Dingin, Puasa di Arab Saudi Diprediksi Lebih Singkat
Dalam Islam, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa sejatinya bertujuan melemahkan dominasi hawa nafsu dan membersihkan hati dari penyakit batin seperti marah, dengki, dan dendam.
Tanpa hati yang bersih, ibadah lahiriah berpotensi kehilangan ruhnya. Inilah sebabnya mengapa ulama menekankan pentingnya menyelesaikan urusan batin, termasuk memaafkan sebelum Ramadhan tiba.
Baca juga: Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Sikap pemaaf bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah langsung dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a‘ridh ‘anil jāhilīn
Artinya: “Jadilah pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Ayat ini, menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid jilid 1, tidak hanya berbicara tentang akhlak personal, tetapi juga membangun ketahanan sosial umat Islam.
Syekh Nawawi Al-Bantani mengutip riwayat dari sahabat Ikrimah tentang dialog Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril ketika ayat tersebut turun.
Jibril menjelaskan bahwa makna “menjadi pemaaf” mencakup tiga tindakan besar: menyambung hubungan dengan yang memutuskan, memberi kepada yang enggan memberi, dan memaafkan orang yang menzalimi.
Makna ini menunjukkan bahwa memaafkan dalam Islam bukan sikap pasif atau menyerah, melainkan tindakan aktif yang menuntut kekuatan jiwa dan kedewasaan spiritual.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa berpaling dari orang-orang bodoh bukan berarti membenarkan kezaliman, melainkan menolak larut dalam lingkaran kebencian yang justru merusak diri sendiri.
Baca juga: Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan Pakar BRIN
Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan contoh nyata sikap pemaaf. Dalam peristiwa Fathu Makkah, ketika Rasulullah memiliki kuasa penuh untuk membalas orang-orang yang dahulu menyiksa dan mengusirnya, beliau justru berkata, “Pergilah kalian, kalian bebas.”
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menilai peristiwa ini sebagai puncak kemuliaan akhlak Nabi, sekaligus bukti bahwa memaafkan adalah jalan menuju kemenangan sejati.
Rasulullah SAW juga bersabda:
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
Wa mā zādallāhu ‘abdan bi ‘afwin illā ‘izzā
Artinya: “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan sumber kemuliaan di sisi Allah dan manusia.
Dalam perspektif kontemporer, sikap memaafkan juga berdampak langsung pada kesehatan mental.
M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an sangat memperhatikan kesehatan batin manusia.
Dendam yang dipelihara akan menggerogoti ketenangan jiwa dan menghalangi seseorang menikmati keindahan ibadah.
Dengan memaafkan, seseorang sejatinya sedang membebaskan dirinya sendiri dari beban emosi negatif yang melelahkan.
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Syaban
Banyak orang sibuk menyiapkan fisik dan logistik menjelang Ramadhan, tetapi lupa menata hati.
Padahal, ulama klasik seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan ketika pintu-pintu langit dibuka dan hati yang bersih lebih mudah menerima limpahan rahmat Allah.
Memaafkan sebelum Ramadhan bukan berarti menghapus keadilan, tetapi menata ulang posisi hati agar ibadah dijalani dengan ringan dan penuh keikhlasan.
Pada akhirnya, memaafkan memang tidak selalu mudah. Namun Ramadhan hadir sebagai undangan Ilahi untuk naik ke tingkat akhlak yang lebih tinggi.
Dengan saling memaafkan, kita tidak hanya menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, tetapi juga memberi ruang bagi cahaya ketenangan dan keberkahan untuk tumbuh.
Barangkali inilah makna terdalam dari persiapan Ramadhan, bukan sekadar menunggu hilal di langit, tetapi memastikan hati kita layak menerima cahaya bulan suci itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang