Penulis
KOMPAS.com-Keinginan yang belum tercapai sering kali membuat seseorang merasa gelisah dan mencari jalan keluar.
Dalam kondisi tersebut, Islam menawarkan satu amalan yang sarat makna, yaitu sholat hajat sebagai bentuk ikhtiar batin kepada Allah SWT.
Ibadah ini tidak hanya menjadi sarana berdoa, tetapi juga wujud ketundukan dan harapan seorang hamba kepada Tuhannya.
Pemahaman yang tepat mengenai tata cara, niat, doa, hingga waktu pelaksanaannya menjadi penting agar sholat hajat dilakukan secara maksimal.
Baca juga: Doa Sholat Hajat: Tata Cara, Niat, dan Bacaan Lengkap
Sholat hajat merupakan sholat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu.
Ust. A. Solihin As Suhaili dalam Buku Panduan Shalat, Doa & Dzikir menyebutkan bahwa sholat hajat dapat dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal 12 rakaat dengan salam setiap dua rakaat.
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menjelaskan bahwa sholat hajat dianjurkan bagi orang yang sedang mengalami kesempitan, memiliki kebutuhan dunia dan agama, serta menghadapi kesulitan.
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal hâjati rak‘ataini adâ’an lillâhi ta‘âlâ.
“Aku menyengaja sholat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”
Sholat hajat dapat dilakukan dua rakaat sebagai batas minimal dan hingga 12 rakaat sebagai batas maksimal.
Pelaksanaan dimulai dengan niat dalam hati sebelum takbiratul ihram.
Sholat dilanjutkan dengan membaca doa iftitah dan Surah Al-Fatihah.
Bacaan surah pendek dianjurkan menggunakan Surah Al-Ikhlas dan Ayat Kursi.
Gerakan dilanjutkan dengan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Rakaat kedua dilakukan dengan tata cara yang sama seperti rakaat pertama.
Sholat ditutup dengan tasyahud akhir dan salam.
Baca juga: Niat dan Doa Sholat Hajat: Lengkap Teks Arab, Latin, dan Artinya
Surah Al-Ikhlas dan Ayat Kursi dianjurkan dibaca setelah Surah Al-Fatihah.
سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ ذِي العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِي الطَوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Doa ini berisi pujian kepada Allah SWT sekaligus permohonan rahmat dan kemudahan dalam mengabulkan hajat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Doa ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan berisi permohonan rahmat, ampunan, serta terkabulnya hajat.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dzikir ini merupakan doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Sepertiga malam terakhir menjadi waktu paling mustajab untuk melaksanakan sholat hajat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada waktu tersebut dan mengabulkan doa hamba-Nya.
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sholat hajat dapat dilakukan setelah sholat fardhu selama tidak berada pada waktu yang dilarang.
Waktu yang dilarang meliputi setelah sholat Subuh hingga matahari terbit dan setelah sholat Asar hingga matahari terbenam.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Hajat: Tata Cara, Niat, dan Doa yang Mustajab
Sholat hajat menjadi salah satu wasilah agar doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Ibadah ini memperkuat hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya.
Sholat hajat membantu meredakan kegelisahan dan memberikan ketenangan batin.
Kekhusyukan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas ibadah.
Konsistensi dalam berdoa menunjukkan kesungguhan seorang hamba kepada Allah.
Menjaga diri dari maksiat menjadi salah satu kunci terbukanya jalan terkabulnya doa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang