Editor
KOMPAS.com – Shalat tahajud dikenal sebagai salah satu ibadah malam yang istimewa. Selain dikerjakan di waktu sunyi, momen setelah tahajud juga diyakini sebagai waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.
Dalam suasana malam yang tenang, hati cenderung lebih khusyuk dan fokus. Kondisi ini membuat doa yang dipanjatkan terasa lebih mendalam, baik untuk memohon ampunan, rezeki, kesehatan, maupun berbagai kebutuhan hidup lainnya.
Shalat tahajud merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Tahajud memiliki makna usaha meninggalkan tidur. Dengan demikian, ibadah ini dilakukan pada malam hari yang hening, sehingga dalam fikih, shalat tahajud disebut pula shalat malam hari setelah tidur.
Baca juga: Shalat Tahajud Tidak Ditutup Witir, Sah atau Kurang Sempurna?
Shalat tahajud bisa dilakukan tanpa batas jumlah rakaat. Namun demikian, setiap dua rakaat harus diakhiri dengan salam.
Dilansir dari situs Kemenag.go.id, shalat tahajud memiliki banyak keutamaan. Seperti dalam firman Allah Swt dalam surat Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Shalat Tahajud dilakukan seperti shalat sunnah pada umumnya, yakni dua rakaat satu salam. Niat dibaca dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, dengan lafal:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
(Ushallî sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ)
Artinya: “Aku niat shalat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Pelaksanaannya kemudian dilanjutkan seperti shalat biasa hingga salam.
Setelah menunaikan shalat tahajud, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa. Momen ini sering disebut sebagai salah satu waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW juga mencontohkan doa panjang yang dipanjatkan saat bangun malam. Doa tersebut berisi pujian kepada Allah, pengakuan iman, serta permohonan ampun atas dosa yang telah lalu maupun yang akan datang.
Salah satu doa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan tercantum dalam hadis sahih (HR Bukhari dan Muslim) berbunyi:
اَللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاءُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لآ اِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta mâlikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ‘atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.
“Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.”
Baca juga: Shalat Tahajud Tanpa Tidur, Apakah Masih Disebut Tahajud?
Karena itu, memperbanyak doa setelah shalat tahajud menjadi amalan yang dianjurkan, terutama bagi mereka yang berharap ketenangan hati dan keberkahan dalam hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang