Editor
KOMPAS.com-Tawaf wada’ menjadi momen perpisahan jamaah haji dengan Ka’bah setelah seluruh rangkaian manasik selesai dilakukan.
Pada saat itu, banyak jamaah merasakan haru karena harus meninggalkan Baitullah dan belum tentu mendapat kesempatan kembali ke Tanah Suci.
Dilansir dari laman MUI, para ulama terdahulu memberi perhatian besar terhadap doa ketika tawaf wada’, terutama saat jamaah berada di Multazam, yakni tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Doa tawaf wada’ berisi permohonan ampunan, keberkahan rezeki, perlindungan selama perjalanan pulang, serta harapan agar ibadah haji diterima Allah SWT.
Baca juga: Ketentuan Ibadah Haji bagi Perempuan Haid, Tawaf Ifadah Harus Menunggu Suci
Tidak sedikit jamaah haji yang menangis ketika berada di hadapan Ka’bah untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan Makkah.
Setelah rangkaian manasik haji dilalui, tibalah saat bagi jamaah melakukan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan dengan Baitullah.
Pada momen tersebut, hati seorang mukmin biasanya menjadi lembut karena berharap hajinya diterima, dosanya diampuni, dan dirinya mendapat ridha Allah SWT.
Jamaah juga menyadari bahwa kesempatan kembali ke Tanah Suci belum tentu datang lagi pada masa berikutnya.
Dalam konteks perpisahan dengan Ka’bah, para ulama saleh terdahulu memberikan perhatian besar terhadap doa saat tawaf wada’.
Doa tersebut terutama dianjurkan ketika jamaah berada di Multazam, yaitu area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Dalam kitab Ad-Du‘a karya Imam ath-Thabrani, disebutkan sejumlah riwayat mengenai doa-doa yang dianjurkan ketika hendak meninggalkan Makkah.
Salah satu riwayat tersebut berasal dari tabi’in besar, Sa’id bin Jubair.
Beliau menganjurkan seseorang berdoa di Multazam ketika hendak berpamitan dengan Ka’bah.
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ عِنْدَ وَدَاعِ الْبَيْتِ فِي الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحِجْرِ وَالْبَابِ
“Diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair, bahwa beliau senang berdoa ketika berpamitan dengan Baitullah di Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.”
Baca juga: 3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid
Adapun lafaz doa yang dapat dibaca ketika tawaf wada’ di Multazam adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan kebaikan.”
Doa ini berisi permohonan ampunan, kecukupan rezeki, keberkahan, serta pengganti yang baik atas segala sesuatu yang hilang dari kehidupan seorang hamba.
Dalam riwayat lain yang lebih panjang, Abdur Razzaq ash-Shan’ani menjelaskan adab seseorang ketika hendak pulang dari Makkah.
Setelah tawaf wada’, jamaah dianjurkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.
Setelah itu, jamaah berdiri di Multazam dan membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، حَمَلْتَنِي عَلَى دَابَّتِكَ، وَسَيَّرْتَنِي فِي بِلَادِكَ حَتَّى أَدْخَلْتَنِي حَرَمَكَ وَأَمْنَكَ، وَهَذَا بَيْتُكَ، وَقَدْ رَجَوْتُكَ رَبِّ فِيهِ بِحُسْنِ ظَنِّي بِكَ أَنْ يَكُونَ قَدْ غَفَرْتَ لِي، فَإِنْ كُنْتَ رَبِّ غَفَرْتَ لِي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا، وَقَرِّبْنِي إِلَيْكَ زُلْفًا، وَإِنْ كُنْتَ رَبِّ لَمْ تَغْفِرْ لِي فَمِنَ الْآنَ رَبِّ فَاغْفِرْ لِي قَبْلَ أَنْ يَنْأَى عَنِّي بَيْتُكَ، يَا رَبِّ هَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي إِنْ أَذِنْتَ لِي غَيْرَ رَاغِبٍ عَنْكَ، وَلَا عَنْ بَيْتِكَ، وَلَا مُسْتَبْدِلٍ بِكَ يَا رَبِّ وَلَا بِبَيْتِكَ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ أَمَامِي وَمِنْ وَرَائِي حَتَّى تُقَدِّمَنِي إِلَى أَهْلِي، فَإِذَا قَدَّمْتَنِي رَبِّي فَلَا تَتَخَلَّ عَنِّي وَاكْفِنِي مَئُونَةَ أَهْلِي وَمَئُونَةَ خَلْقِكَ، إِنَّكَ وَلِيِّي وَوَلِيُّهُمْ
“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu. Engkau telah membawaku di atas kendaraan-Mu dan menjalankanku di negeri-negeri-Mu hingga Engkau memasukkanku ke tanah haram-Mu dan keamanan-Mu. Inilah rumah-Mu. Aku berharap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan prasangka baikku kepada-Mu, semoga Engkau telah mengampuniku. Jika Engkau telah mengampuniku, maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku dan dekatkanlah aku kepada-Mu. Namun, jika Engkau belum mengampuniku, maka ampunilah aku mulai saat ini sebelum rumah-Mu jauh dariku. Ya Tuhanku, inilah saat keberangkatanku jika Engkau mengizinkanku pergi, bukan karena aku membenci-Mu, bukan pula membenci rumah-Mu, dan bukan karena aku mencari pengganti selain Engkau dan selain rumah-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan seluruh arahku hingga Engkau mengembalikanku kepada keluargaku. Jika Engkau telah mengembalikanku kepada mereka, maka janganlah Engkau meninggalkanku, dan cukupkanlah kebutuhan keluargaku serta kebutuhan seluruh makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkaulah pelindungku dan pelindung mereka.” (Ad-Du‘a [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 276)
Doa tawaf wada’ ini menyiratkan pengakuan seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Di dalamnya terdapat rasa syukur karena telah diberi kesempatan datang ke Tanah Suci, harapan besar atas ampunan, dan rasa takut apabila ibadahnya belum diterima.
Doa ini juga menunjukkan bahwa hati orang beriman tetap tertambat kepada Allah dan Baitullah, meskipun raganya harus kembali ke kampung halaman.
Baca juga: Urutan Ibadah Haji 2026: Dari Tarwiyah hingga Tawaf Wada’
Hal menarik dari doa tawaf wada’ adalah adanya permohonan perlindungan selama perjalanan pulang.
Jamaah juga memohon agar Allah SWT menjaga keluarga dan mencukupkan kebutuhan mereka setelah dirinya kembali dari Tanah Suci.
Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak memisahkan ibadah ritual dari tanggung jawab kehidupan sehari-hari.
Dengan doa tersebut, seorang haji tidak diajarkan tenggelam dalam kesalehan pribadi semata.
Jamaah juga diajak kembali ke keluarga dan masyarakat dengan hati yang lebih bersih, harapan yang lebih kuat, serta tanggung jawab yang lebih besar setelah menunaikan ibadah haji.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang